Jawa Pos.7 September 2013.Hal.10-11

Jadi Guru Piano dan Belajar Psikologi

Selalu ingin mencoba sesuatu yang baru dan tidak bisa diam, itulah karakter Rensia. Tidak puas hanya dengan kesibukan bisnis ice bread, dia juga menjadi guru privat piano.

“Bermain piano adalah hobi. Jadi, saya bisa mengajar sekaligus bermain. Meskipun, sebenarnya sekarang mulai jarang,” ungkapnya.

Dari bisnis menjadi guru musik, Rensia mengenal banyak orang. Dia menemui beragam sifat orang. Bermula dari itulah dia belajar ilmu psikologi, berusaha memahami jenis-jenis sifat manusia. Hal tersebut diperkuat dukungan papanya, Rudy Santoso.

“Papa selalu memberikan saran dan kritik apapun tentang yang saya lakukan. Beliau sangat mendukung profesi saya,” ungkap perempuan berkulit putih itu.

Urusan psikologi, Rensia khusus belajar pada permasalahan hubungan anak dengan orang tua. Dia biasa mencari akar penyebab seorang anak kurang dekat dengan ibu kandungnya.

Untuk memperdalam ilmu psikologi, dia mengikuti program dari Neuro Linguistic Programming, AS. Yakni, semacam sekolah yang diadakan tiap musim panas. Rensia sudah mengikutinya selama dua tahun terakhir. “Memperdalam ilmu sekalian liburan di Amrik. Ada saudara saya yang tinggal di sana. Jadi, bisa menemani,” ungkap Rensia.

Banyak kegiatan yang diikuti, Rensia pernah jatuh sakit. Orang tua pun protes dan meminta dia mengurangi kegiatan. Namun, Rensia tidak bisa. Saat ini, dia malah berencana memperluas outlet Freeze Castle sampai Jakarta dan membuka klinik kecantikan dengan produk perpaduan dari Korea, Spanyol, dan AS.

“Sekarang masih mengurus izin masuknya produk-produk itu ke Indonesia,” ujarnya. (bri/c5/ayi)

Lorensia itu …

Tipe orang yang suka mengalah, tidak ingin mempersulit hal yang bisa dipermudah

Penyuka warna gold

Anak sulung di antara tiga bersaudara pasangan Rudy Santoso dan Listianawati.

Perempuan yang aktif dan tidak bisa berhenti beraktivitas

Memiliki kebiasaan relaksasi 15 menit sebelum tidur

 

 

Lorensia, Sukses dari Tugas Akhir Kuliah: Jajanan Pinggir Jalan Hasilkan Jutaan

Lulus sebagai wisudawan terbaik Universitas Ciputra Lorensia Sanvira Santoso mendapat penghargaan Best Entrepreneurial Spirit 2011. Apresiasi lainnya, dia mendapat undangan ke Istana Wakil Presiden Indonesia Boediono. Dua kesuksesan itu didapat berkat ice bread alias es roti berlabel Freeze Castle.

Tidak puas dengan itu, perempuan kelahiran Surabaya, 16 Juli 1989 yang akrab disapa Rensia tersebut melebarkan sayap pemasaran bisnisnya ke negeri tetangga. Dia mengikuti business expo di Universitas Kebangsaan Malaysia tahun lalu. Respons positif diperolehnya. Banyak pembeli yang mendatangi gerai Freeze Castle.

Rensia pun diberi penghargaan Winner of Best Performance Business drom AIESECIN bersama 25 outlet bisnis lain dari seluruh dunia yang mengikuti ekshibisi itu. “Benar-benar senang mendapatkan penghargaan tersebut. Padahal, pesertanya ratusan,” terang Rensia.

Bisnis es roti itu awalnya dibangun Rensia sebagai pemenuhan tugas akhir kuliah. Sebagai mahasiswa jurusan international business management, untuk menyelesaikan studi, Rensia diwajibkan membuat usaha yang nyata. Dia kelimpungan mencari ide yang pas. Awalnya, dia hendak mendirikan gerai makanan tradisional putu. “Tapi sama dosennya dibilang market belum jelas dan belum layak dilanjutkan. Saya sempat kelimpungan dan putus asa,” kenang Rensia.

Hingga saat jalan-jalan di Orchard Road Singapura, Rensia menyaksikan jajanan ice bread yang diminati banyak orang disana. Harganya murah, tapi rasanya berkelas. Varian yang ditawarkan bermacam-macam. Mulai vanilla hingga buah-buahan. “Es potong itu sangat enak dan bikin ketagihan, bahkan kebawa mimpi,” ujarnya.

Rensia juga merasa jajanan pinggir jalan tersebut belum banyak dijumpai di Indonesia. Karena itulah, dia mulai berpikir utnuk menjadikan ice bread sebagai peluang bisnis. Dia mulai bereksperimen membuat ice bread  tersebut dengan tambahan varian rasa kreasinya.

Tak menyangka, bisnis yang bermodal dari hasil patungan bersama tiga temannya, Suciawati, Jene Green, dan Princess Lie, tersebut mendapat tanggapan bagus. Pada hari pertama membuka outlet di Supermal Pakuwon Indah (SPI) Surabaya, mereka mendapat omzet sekitar Rp 3 juta.

Saat ini, booth Freeze Castle dapat dijumpai di tujuh tempat. Yaitu, lima di mal di Surabaya serta Petra Square dan Malang Town Square. Omzetnya? “Sebulan dari dua gerai saja bisa mendapat pemasukan Rp 70-100 juta. Dipotong biaya prosuksi separo, sisanya itulah keuntungannya,” tutur Rensia.

Es Roti itu merupakan produk buatan sendiri. Dia menggunakan bahan alami dan bebas pengawet. Tak lupa, Rensia menambahkan varian rasa yang tidak membikin konsumen bosan. (bri/c6.ayi)

Sumber: Jawa Pos. 7 September 2013. Hal 10-11