Ini adalah cerita tentang transformasi. Di antara banyak kisah malang mantan atlet nasional, ini kisah yang menghadirkan kegembiraan. Lewat kegigihan , ketekunan, dan keinginannya merawat tradisi kuliner dari daerahnya, Jalal Jalil (49) menjadi juragan soto kudus. Tidak hanya menghidupi keluarganya, ratusan orang ikut hidup dengannya.
Jalal Jalil adalah anak keempat dari tujuh bersaudara. Pria kelahiran Kudus, 10 Desember 1965 ini memang hobi bermain sepak bola di posisi palang pintu. Terkadang menjadi gelandang dan sering pula ditempatkan sebagai pemain belakang.
“Saya awalnya tercatat sebagai pemain di PS (Persatuan Sepak Bola) Djarum. Kemudian berpindah menjadi pemain PS Gajah Mungkur, Persis Solo, PS Bengkulu, dan di Persita (Tangerang). Saya akhirnya gantung sepatu karena kaki saya cedera,” ujarnya.
Menyadari karier sepak bolanya tidak cemerlang dan kakinya sudah cedera, Jalal Jalil memutuskan beralih profesi menjadi bakul soto. Langkah usahanya dimulai di pinggir Jalan Raya Perintis Kemerdekaan Tangerang, medio 2003, yang sekarang berubah menjadi Tangerang City Mall. Warungnya berukuran 10 meter x 8 meter tanpa dinding dan atap permanen.
Sebelum menjadi bakul soto dan jatuh hati padanya, Jalal Jalil mencari celah untuk penghidupannya. Ia pernah belajar balap mobil di Jepang dan ikut pula berlaga dalam laga serial di Sirkuit Internasional Sentul dengan mengendarai mobil balap sendiri. Ia juga pernah berusaha di bidang properti, bangunan, dan pertanian.
Meski tergolong sukses menjadi bakul soto, kecintaan Jalal Jalil pada sepak bola tidak pernah ditinggalkan. Empat tahun terakhir, Jalal Jalil menggelar turnamen sepak bola khusus untuk usia 40 tahun keatas yang dilaksanakan di Kudus setiap usai hari raya Idul Fitri. Pesertanya adalah mantan pesepak bola asal Kudus, Jepara, Rembang, Pati, Semarang, dan Solo. Seluruh biaya penyelenggaraan dan hadiah ditanggungnya.
“Ini merupakan slaah satu cara kami untuk bersilaturahim. Menjalin persahabatan. Khususnya dengan komunitas bola,” katanya dalam perbincangan santai di rumah makan Wani Piro miliknya yang berdekatan dengan Museum Kretek, Desa Getas pejaten, Kudus.
Belum lama ini ia ikut mencari ikan kecil-kecil di pematang sawah DesaGulang dan Desa Temulus, Kecamatan Mejoho, Kudus. Ia menyewa sawah seluas 2 hektar di dua desa dan pengelolaannya diserahkan kepada salah satu sahabatnya. Ia juga menyempatkan diri mengajak sejumlah petani, tokoh petani, dan kepala desa kerumahnya untuk berbagi pengalaman sembari makan lenthog (lontong), makanan khas Kudus.
“Itu semua saya lakukan bagai air mengalir. Saya mencintai keluarga, sahabat, lingkungan, satwa, hingga sumber daya alam. Selain itu, saya selalu mengedepankan kejujuran , termasuk dalam usaha. Saya akan marah ketika saya diapusi (ditipu) dan tidak akan menjalin kerja sama lagi. Ya, hanya itulah yang saya lakukan selama ini sehingga usaha saya semakin berkembang. Pendidikan saya pun hanya lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas),” tegas Jalal Jalil
Awalnya, warung yang diberi nama Warung Wong Kudus di Tangerang hanya menyediakan menu utama soto dan ayam goreng. “Guna memperkenalkan dan sekaligus menarik minat masyarakat umum, saya menggelar makan gratis selama sebulan penuh. Cara ini cukup ampuh untuk mendongkrak jumlah pembeli maupun pelanggan. Namun, warung saya sempat tergusur dua kali,” tambahnya.
Dua tahun kemudian (2005), menunya ditambah dengan garang asem. Menu tambahan ini malah berkembang menjadi menu andalan, dan kemudian secara bertahap mampu melebarkan sayap usahanya ke Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Pekanbaru, Bali. Jalan Tol Cipali Km 102 (yang baru dioperasikan beberapa bulan lalu), dan Kudus.
Sekarang jumlah warung makan yang telah dioperasikan mencapai 25 unit, dengan menggunakan “merek dagang” Wong Kudus sebanyak 22 dan tiga lainnya memakai nama Wani Piro. Tidak kurang dari 100 tenaga kerja terserap di semua warungnya.
Jalal Jalil tidak menjelaskan berapa jumlah penghasilan yang diterima dari usaha berjualan soto, garang asem, dan ayam goreng ataupun dari berbagai usaha lainnya. Ia rutin mengecek semua kebutuhan warung satu per satu serta unit usaha lain yang digelutinya. Ia terbang dari satu kota ke kota lain untuk memastikan semuanya beroperasi dengan baik.
Salah satu kunci untuk warung makannya adalah bumbu masakan yang secara berkala langsung dikirim dari Kudus dan diserahkan penanganannya kepada salah satu keluarga besarnya. Bumbu masakan memang menjadi faktor terbesar dalam menghadirkan rasa masakan khas Kudus yang digemari pembeli.
Pilihannya pada soto dan garang asem karena merupakan masakan khas “Kota Kretek” yang harus di uri-uri (dilestarikan). Bahkan, dengan semakin banyaknya warung soto dan garang asem yang didirikan, Jalal Jalil secara tidak langsung memasarkan masakan khas itu ke kancah nasional.
Apalagi setelah Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu meresmikan Sekolah Kuliner Daour Nusantara (SKDN) di kompleks Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) I Kudus, medio 2014. Menteri pada era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini juga meluncurkan buku tentang 30 jenis/ikon kuliner Indonesia.
Meski belum terpilih ke dalam 30 ikon kuliner Indonesia, Mari Elka Pangestu menegaskan, Kudus tidak perlu berkecil hari karena setiap siswa SKDN diwajibkan mendalami masakan khas Kudus sendiri. Masakan khas itu antara lain soto jatmi, lenthog tanjung, nasi tahu campur, dan opor ayam sunggingan.
Jalal Jalil yakin, masih terbuka peluangnya untuk menjadikan makanan khas “wong Kudus” terpilih menjadi ikon kuliner Indonesia, meski ia harus bertarung dengan ribuan jenis kuliner lainnya, di seluruh Indonesia. Peran Bakti Pendidikan Djarum dalam menghadirkan SKDN dan merintis benang komunikasi kuliner di sejumlah negara menjadi pembuka peluang itu.
Dalam upayanya melakukan transformasi dar mantan atlet menjadi pengusaha, Jalal Jalil bersama istri, Laelatul Aliyah, mendampingi kedua anaknya. Anak pertamanya, Shela Maulida Jalal, menjadi dokter dan anak kedua, Jenuius Jalal Utomo tengah menyelesaikan pendidikan S-2. Pendidikan bagi anak-anak disadari penting sebagai bekal masa depan mereka.
Sumber: Kompas, Selasa, 6 Oktober 2015

