JALAN Ahmad Yani merupakan jalan primer dua arah yang menghubungkan Surabaya dan Sidoarjo. Bahkan jalan yang diawali setelah Bundaran Waru ini disebut sebagai pintu masuk ke Surabaya.

Ketua Surabaya Heritage Society Freddy H Istanto mengatakan, Jalan Ahmad Yani sudah ada sejak zaman Belanda. Hanya saja menurutnya, waktu itu belum bernama Ahmad Yani. “Saya lupa dulu namanya apa, yang saya ingat dulu mentok jalan Ahmad Yani ini hanya sampai Wonokromo. Karena selebihnya sudah termasuk luar kota Surabaya,” ujarnya kepada Radar Surabaya, Selasa (18/10)

Meski demiakian, jalur ini sudah menjadi jalur tersibuk sejak zaman Belanda. Karena menjadi jalan utama distribusi komoditas pertanian seperti tebu atau gula dari Pasuruan menuju Tanjung Perak. “Ini sebelum ada kereta api dari Surabaya ke daerah Tapal Kuda. Dulu jalan Ahmad Yani ini tidak seluas sekarang,” terangnya.

Sementara itu Pustakawan Universitas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika menuturkan, pada era orde baru, Jalan Ahmad Yani tidak mengalami kendala yang berat karena jalannya lurus dan tidak terganggu jalan kereta api . “Walaupun Jalan Ahmad Yani pada awal 1980-an dilewati sangat banyak sekali kendaraan. Kendaraan di Jatim tahun 1978 sebanyak 1.109.120 unit,” jelasnya.

Menurutnnya kala itu Pemerintah Kotamadya Surabaya terus bertekad membebaskan daerah Wonkromo dari kesemrawutan serta kemacetan lalu lintas. Karenanya perlu adanya jalur jalan alternatif lain untuk kegiatan keluar masuk kota Surabaya. Hingga saat ini pun Jalan Ahmad Yani masih menjadi jalan yang sibuk dan selalu padat kendaraan.