Selain terdapat industri pembuatan mesin pabrik, kawasan Jalan Benteng menjadi pusat perdagangan di era kolonial Belanda.  Hal tersebut dicetuskan oleh Herman Willem Daendels yang men.iki proyek besar untuk menjauikan Surabaya menjadi kota dagang.

Ginanjar Elyas Saputra Wartawan Radar Surabaya

ZAMAN dulu, kawasan tersebut lebih dikenal dengan sebutan Lodewijk. Sekitar tahun 1811 hingga 1816 pemerintah kolonial menjadikan kawasan Jembatan Merah sebagai pusat Kota Pahlawan.

“Jadi lokasi ini menjadi kawasan perdagangan sejak saat itu. Terlebih lokasinya di pelabuhan Tanjung Perak,” jelas Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Surabaya Musdiq Ali Suhud kepada Radar Surabaya.

Sebagai pusat kota, bukan hanya ada kawasan pusat perdagangan saja, akan  tetapi.  juga terdapat pusat pemerintahan, pergudangan, pertahanan, perkantoran, hingga fasilitas pendukung lain yang melengkapi desain kota masa kolonial Belanda.

“Yang menjadi magnet dari berbagai fasilitas yang ada di sana adalah adanya sungai Kalimas yang pada kala itu merupakan jalur transportasi penting dan memang satu-satunya. Karena belum banyak moda transportasi makanya jalur laut (kapal / perahu) jadi andalan,” imbuhnya.

Sementara itu, sejarawan sekaligus putakawan Univeristas Ciputra Surabaya Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, terdapat lalu lintas perdagangan dari pelabuhan ke sungai Kalimas menuju ke kawasan pusat kota.

Kemudian kawasan ini mulai ramai dan padat dengan penduduk deri berbagai negara.  Muiai dari Melayu, Tiongkok, Arab, dan berbagai wilayah lain memasarkan barang dagangannya.

“Selain itu, yang saya jelaskan kemarin, lokasi ini menjadi kawasan industri dan perdagangan karena jalurnya hanya lewat Kalimas,” jelasnya.  (bersambung / nur)

Sumber: Radar Surabaya. 8 April 2021.Hal.3.