ROOMSCHE Kerkstraat atau saat ini dikenal dengan Jalan Cendrawasih dahulu merupakan kantor Erdmaan en Sielcken yang letaknya di pojok Roomsche Kerkstraat. Dari Informasi yang dihimpun Radar Surabaya, bangunan tersebut dibangun sejak tahun 1924. Bangunan kantor tersebut saat itu menunjukan corak arsitek modern yang sedang melanda seluruh dunia.

Pustakawan, Chrisyandi Tri Kartika menjelaskan, Erdmaan en Sielcken merupakan kantor pergudangan barang dari luar negeri. Barang tersebut nanti- nya akan dibawa ke berbagai sudut kota Surabaya. “Kawasan Roomsche Kerkstraat merupakan kawasan pergudangan dan perkantoran karena wilayahnya yang berdekatan dengan sungai Kalimas. Sehingga wilayah Roomsche Kerkstraat memiliki keuntungan alami dengan letaknya yang berada di tepi laut dan muara sungai yang besar dan dalam,”  kata Chrisyandi.

Menurutnya, posisi ini memberi keuntungan dalam mempermudah akses Jalu lintas menuju laut (pelabuhan), pangakalan laut atau pelabuhan Surabaya sangat baik dan letaknya sangat terlindungi karena berada di dekat Pulau Madura. Yang secara sederhana melindungi pelabuhan Surabaya dari laut Jepas karena masih terhalangi oleh Pulau Madura, sehingga aman dari topan. “Kalimas sebagai salah satu cabang dari Sungai Brantas memberikan sumbangsih penting bagi lalu lintas

menuju jantung kota,” ujarnya.

Selain itu, kawasan Cenderawasih pada masa kolonial menjadi lalu lintas orang yang hendak ke makam karena terdapat makam di Kawasan Krembangan. Setelah Surabaya jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1942, mereka menguasai kota selama tiga tahun lebih. Penduduk Eropa disekap. Sebagian besar laki-laki dipaksa bekerja untuk Jepang. “Pada saat perang waktu itu daftar pemakaman di Krembangan jumlahnya berkurang. Berarti, pemakaman itu jauh lebih sedikit digunakan. Banyak orang yang disekap sampai mati dalam kurungan dan dikuburkan di tempat lain,” pungkasnya. (rmt/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 22 Desember 2021. Hal. 6