Sumber: https://www.kompas.com/edu/read/2026/06/22/150100371/jalani-dua-peran-drg-edra-bangun-jaringan-klinik-sambil-meneliti-bisnis

Jalani Dua Peran, drg Edra Bangun Jaringan Klinik sambil Meneliti Bisnis Keluarga

22 Juni 2026

KOMPAS.com – Di tengah kesibukan sebagai dokter gigi, drg Edra Brahmantya Susilo, MM, SpKG menjalani peran ganda sebagai pengusaha yang mengembangkan klinik serta terlibat dalam bisnis keluarga.

Ia juga melanjutkan studi hingga jenjang S3 di Universitas Ciputra Surabaya dengan fokus pada bisnis keluarga. Menurutnya, pendidikan tersebut membawa perubahan besar dalam cara berpikir dan mengelola usaha.

“Kalau saya pribadi, (pengalaman) yang paling terasa dari S2 sampai S3 itu perubahan cara berpikir dan cara menganalisis bisnis,” ujar drg Edra dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, Senin (22/6/2026).

Tak dapat dimungkiri, perjalanan bisnis Ketua Ikatan Alumni Universitas Ciputra itu tidak terjadi secara instan. Berawal dari profesi sebagai dokter gigi, Edra mulai terlibat dalam usaha keluarga di bidang kontraktor yang dirintis orangtuanya.

Dari pengalaman tersebut, ia kemudian mengembangkan usaha sendiri dengan membangun klinik gigi yang mulai beroperasi pada 2018. Usaha itu bertumbuh hingga kini memiliki beberapa cabang di Surabaya dan sekitarnya.

“Awalnya saya dokter gigi saja, lalu terlibat di bisnis keluarga. Kemudian, pada 2018, (saya) mulai membangun klinik gigi dan berkembang sampai sekarang,” katanya.

Ia mengaku, keputusan melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 hingga S3 di Universitas Ciputra tidak hanya didorong oleh keinginan pribadi, tetapi juga oleh orangtuanya.

“Yang mendorong saya S3 itu orangtua saya. Setelah dijalani, ternyata banyak manfaatnya,” ujarnya.

Seiring waktu berjalan, ia merasakan manfaat yang lebih luas, terutama dalam pengembangan pola pikir dan kemampuan analisis bisnis.

Menurutnya, pembelajaran di Universitas Ciputra tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dekat dengan praktik karena lingkungan akademiknya didominasi para pelaku usaha.

“Di Universitas Ciputra itu, (mahasiswa) tidak hanya belajar teori, tapi juga diskusi dengan teman-teman yang sebagian besar sudah punya pengalaman bisnis,” tambahnya.

Edra menempuh pendidikan S2 di Universitas Ciputra pada 2013–2015, kemudian melanjutkan S3 di kampus yang sama dengan kajian yang masih berkaitan dengan bisnis keluarga.

Dalam proses studi, ia pun bisa mendapatkan pengalaman langsung dalam dunia usaha, terutama saat harus membagi waktu antara kuliah, praktik dokter gigi, pengelolaan klinik, dan keterlibatan dalam bisnis keluarga.

“Semuanya dilakukan bertahap, tidak bisa langsung sekaligus. Sambil jalan, kita belajar mengatur waktu,” katanya.

Meneliti suksesi bisnis keluarga

Dalam riset doktoralnya, Edra meneliti transformasi pengetahuan tidak tertulis atau tacit knowledge dalam bisnis keluarga, khususnya proses suksesi dari generasi pertama ke generasi berikutnya.

Ia menyoroti fakta bahwa banyak bisnis keluarga menghadapi tantangan besar dalam proses peralihan generasi dengan tingkat kegagalan yang cukup tinggi.

“Pengetahuan dari orangtua banyak yang tidak tertulis, hanya berdasarkan pengalaman. Itu yang saya coba angkat agar bisa ditransformasikan,” jelasnya.

Selain aktivitas akademik, Edra juga aktif di Ikatan Alumni Universitas Ciputra sebagai ketua umum. Ia menilai, komunitas alumni memiliki peran penting dalam memperluas jaringan dan membuka peluang kolaborasi bisnis.

“Relasi di kampus itu tidak hanya berhenti di kelas, tapi bisa berkembang menjadi jaringan bisnis, bahkan pasien juga,” ucapnya.

Ia menilai, pengalaman berkuliah di Universitas Ciputra memberikan lebih dari sekadar gelar akademik, tetapi juga ekosistem yang mendukung pengembangan kewirausahaan secara berkelanjutan.

Humas Universitas Ciputra Erlita Dwi Tantri mengatakan, Universitas Ciputra memiliki ekosistem family business yang tidak hanya melibatkan mahasiswa, tetapi juga para orangtua.

“Di Universitas Ciputra, kami punya ekosistem family business yang kuat. Tidak hanya mahasiswa yang terlibat, tetapi juga orangtua ikut terhubung dalam komunitas sehingga ada proses transfer pengalaman antargenerasi,” ujar Erlita.

Dalam berbagai kegiatan kampus, tambahnya, orangtua juga dilibatkan secara langsung untuk berbagi pengalaman membangun usaha. Dengan demikian, jembatan antara generasi pendiri dan penerus bisnis dapat tercipta.

“Sering kali orangtua dan anak sama-sama terlibat dalam komunitas ini. Dari situ terjadi dialog dan saling memahami dalam pengembangan bisnis keluarga,” imbuh dia.