Janes Kiwol_Guru Penyelamat Pala Siau.Kompas.9 Agustus 2017.Hal 16-page-001

Janes Robby Kiwol (49) adalah seorang guru SMA yang bersahaja. Namun, di balik kesederhanaanya Kiwol adalah pahlawan bagi petani pala di Pulau Siau, Kabupaten Siau, Tagulandang Biaro, Sulawesi Utara. Banyak hal yang dilakukan Kiwol, termasuk meyakinkan petani agar menolak bantuan pupuk yang bakal menghancurkan nilai ekonomi pala siau.

OLEH JEAN RIZAL LAYUCK

Selama tiga bulan dia masuk – keluar desa menjumpai kelompok petani pala hanya untuk mengabarkan soal pupuk yang dipasok dari Manado. Kiwol melakukannya seoang diri.

“Sekiranya waktu itu petani terima dan menggunakannya (pupuk), hancurlah seluruh nilai ekonomi pala siau. Pupuk buatan mengandung bahan kimia yang akan merusak komposisi miristisin pala siau,” kata Tony Supit, Bupati Siau Tagulandang Biaro, membenarkan.

Kehancuran itu pasti memukul petani pala setempat yang sebagian besar hidup dari perkebunan pala. Begitu kadar miristisin turun, pengimpor pala internasional akan menolak pasokan pala dari Pulau Siau.

Kandungan zat miristisin dalam pala siau cukup tinggi, yakni 12,19 persen, melebihi kandungan miristisn pala banda yang hanya 11 persen. Spesifikasi zat miristisin pala siau itu juga berbeda dengan pala tagulandang yang hanya berjarak 30 mil (48 kilometer) dari Pulau siau. Menurut Kiwol, kandungan zat miristisin membuat pala siau bernilai tinggindan dicari pasar internasional.

Peristiwa penolakan proyek bantuan pupuk dari Dinas Perkebunan Sulawesi Utara terjadi 1,5 ton bernilai miliaran rupiah yang diangkut dengan kapal dibuang petani ke laut.

Sisa pupuk yang tidak digunakan masih terlihat di sejumlah rumah penduduk. Tumpukan pupuk itu dibiarkan hancur tanpa disentuh oleh [etani. Peristiwa itu terjadi ketika Kiwol tengah berjuang agar pala siau mendapatkan Sertifikasi Indikasi Geografi (SIG).

Setelah berupaya keras, Kiwol akhirnya bisa mengantar pala siau mendapatkan SIG pada Februari 2016. Berangkat dari perjuangannya itu, Kiwol akhirnya dipercaya menjadi Ketua Lembaga Perlindungan Indikasi Geografis Pala Siau.

Tanaman pala siau akhirnya menjadi satu – satunya komoditas pala di Idonesia yang mendapatkan pengakuan indikasi geografis. Indikasi geografis adalah tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang yang karena faktor lingkungan geografisnya memberikan ciri dan kualitas tertentu pada barang yang dihasilkan. Karena itulah, pala siau perlu mendapat perlindungan khusus.

Produksi pala sia berkisar 2.000 – 4.000 ton per tahun. Pala siau menjadi komositas andalan Indonesia dan menguasai sekitar 60 persen pasar dunia. Pasar tujuan ekspor terbesar pala siau adalah Eropa, Jepang, Korea Selatan, Vietnam, dan Singapura.

Kiwol mengatakan, lembaganya bertugas memproteksi tanaman pala siau dari intervensi tanaman pala dari luar. Mereka kerap melakukan penyisiran kapal pengangkut yang sandar di dermaga Ulu Siau untuk memastikan tidak ada pala dari luar masuk ke Pulau Siau. Pala siau memiliki kekhususan, meliputi aroma dan bentuk biji pala yang hampir bulat sempurna.

Kiwol belajar mengenal pala secara otodidak selama 22 tahun sejak 1995. Lelaki asal kecamatan Tenga, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, itu pindah ke Siau mengikuti istrinya, Tuty Jacobus, yang juga seorang guru. Awalnya, Kiwol guru SMA di Manado, kemudian pindah ke Tahuna, Kabupaten Sangihe, dengan profesi sama.

Tujuan awal Kiwol menanam pala sekedar mengisi waktu luang setelah pulang mengajar. Namun, ia malah jatuh cinta pada pala. Ia belajar cara menananm, memelihara, hingga memetik pala. Persoalan hama pada tanaman pala juga ia pelajari. Kerap Kiwol melakukan riset sendiri. Ia belajar dari beberapa buku  – buku referensi yang dibelinya di Manado. Dari sini ia kemudian mempelajari arti ekonomi tanaman pala yang menghidupi 60 persen masyarakat Pulau Siau. Ia merasa risi ketika buah pala yang jatuh ke tanah karena terlambat dipetik dibiarkan saja oleh petani.

Padahal, buah pala berikut daging melekat itu dapat dijual untuk manisan. Kiwol juga khawatir terhadap sikap individual petani setempat sendiri – sendiri. Dari sinilah Kiwol kemudian merangkul para petani dengan membentuk kelompok tani. Kini, di seluruh Pulau Siau terdapat 60 kelompok petani pala beraanggotakan 80-100 petani. Dari kelompok ini, petani dapat melakukan tawar menawar harga pala dengan pedagang pengumpul. Kelompok itu juga bertujuan menaikkan posisi tawar petani terhadap pemerintah dan pedagang.

Dari kelompok itulah Kiwol mampu melakukan propaganda, termasuk menolak pupuk bantuan ataupun proyek bantuan bibit pala dari profinsi yang tidak jelas asal usulnya.

“biasalah, bibit-bibit itu dijadikan proyek. Padahal, banyak proyek yang akhirnya mubazir. Kenapa harus ada bantuan bibit pala lagi pada kami, sedangkan pala siau di kenal sebagai palaberkualitas baik,” katanya.

Keberadaan kelompok-kelompok tani itu memudahkan Kiwol untuk merangkul petani demi kepentingan bersama, melakukan konsolidasi tanaman pala,serta memberi informasi penting mengenai harga pala internasional yang diambil dari internet.

Informasi harga pala internasional itu cukup penting sehingga fuli ataupun biji pala yang di jual tidak terpaut jauh dengan harga pala dunia. Sebagai contoh, jika harga biji pala sekarang 6 dollar AS setara dengan Rp 78.000 per kilogram, petani menjual pala Rp 65.000 atau Rp 75.000 per kilogram. Selisih harga Rp 8.000- Rp 13.000 biasanya untuk biaya angkut ke pelabuhan terdekat di Bitung.

Dari Bitung pala di angkut ke Suabaya, Jawa Timur, kemudian diekspor melalui Singapura ke Belanda, Vietnam, Jepang, dan Korea Selatan.

Meski telah melakukan proteksi begitu ketat mulai dari pupuk, bibit, hingga harga, Kiwol menyimpan kekhawatiran terkait hama penggerek batang yang mengancam kelangsungan hidup pohon pala.

Kiwol tidak menyerah begitu saja. Bagaimanapun, pohon pala harus diselamatkan bersama petaninya “kali ini, kami harus kerja keras lagi demi kejayaan palasia,” ujarnya.

Sumber: Kompas, 9 Agustus 2017. Hal.16