Oleh: Dewa Gde Satrya, Dosen International Hospitality & Tourism Business, Universitas Ciputra
Upaya mempengaruhi mindset publik soal toilet ini merupakan upaya ‘politik pariwisata’ yang bermanfaat bagi kesejahteraan bersama.
Pada peringatan Hari Pariwisata Sedunia akhir September lalu, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) memberikan penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Bersih di bandara Internasional/Nasional 2013 kepada 20 bandara yang terdapat di Indonesia. Penghargaan diberikan berdasarkan peringatan dan kelas bintang sesuai kriteria yang ditetapkan. Bandara Sultan Syarif Kasim II – Pekanbaru terpilih sebagai juara I, disusul Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Juara II, Bandara Juanda Surabaya Juara III, Bandara Sultan Hasanudin Makasar Juara IV dan Bandara Ngurah Rai sebagai Juara V.
Menparekraf, Mari Elka Pangestu, menyatakan kebersihan toilet adalah tolok ukur untuk menilai kebersihan di suatu instansi atau lembaga. Sedangkan, bandara adalah tempat pertama yang dikunjungi wisatawan. Maka, kesimpulannya, toilet bandara dapat dinilai sebagai tempat yang mencerminkan suatu daerah. Tempat yang pertama kali dilalui oleh wisman atau wisnus (wisatawan nusantara) adalah bandara, karena bandara adalah pintu gerbang dari sebuah kota (budpar.go.id).
Mungkin belum jamak diketahui, masyarakat seluruh dunia memberikan apresiasi kepada toilet dengan mencanangkan satu hari khusus sebagai hari toilet sedunia setiap tanggal 19 November. Di Indonesia sendiri telah terbentuk Asosiasi Toilet Indonesia.
Sebenarnya, esensi dari pengangkatan toilet sebagai isu publik memberi penekanan lebih dari sekadar, maaf, tempat membuang kotoran yang kemudian bisa dibuat seadanya. Di ranah industri hospitality secara luas yang sarat dengan kenyamanan, toilet merupakan pilar penting yang menghadirkan rasa nyaman untuk selanjutnya memberikan kepuasan dan daya saing.
Kesan pertama
Lebih-lebih di ranah kepariwisataan, toilet di bandara dan pintu-pintu kedatangan wisatawan lainnya memberikan first impression yang bermata dua. Sebesar-besarnya dana promosi kepariwisataan kita dan sekeras-kerasnya upaya meyakinkan publik mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia, tetapi ketika toilet umum di tempat-tempat wisata khususnya terkesan bau dan kotor akan ‘meruntuhkan’upaya keras dan berbiaya besar tersebut.
Parahnya, turis lebih mudah menceritakan kekecewaan (keburukan) Indonesia dibandingkan hal-hal positif yang ditemui di sini. Sebaliknya, sekiranya toilet umum di tempat-tempat wusata disajikan optimal dengan standar kelayakan tertentu, niscaya akan memberikan nilai plus bagi kepuasan berwisata, dan peluang Indonesia mengakuisisi pasar wisatawan di masa mendatang.
Karena itu, kita perlu mengapresiasi kepekaan Kemenparekraf mengakomodasi aspek vital toilet di tempat-tempat wisata. Sejak tahun 2009, Kemenparekraf (saat itu Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata) telah memberi penghargaan toilet umum bersih di bandara, dan tahun 2010 ditujukan kepada museum. Bahkan bisa dikatakan, upaya menggerakkan dan mempengaruhi mindset publik dalam hal toilet ini adalah upaya ‘politik pariwisata’ yang elegan, riil dan bermanfaat bagi kesejakteraan bersama.
Dalam UU Kepariwisataan (UU Nomor 10 Tahun 2009) Pasal 18 ayat 1 butir a disebutkan, setiap orang berhak memperoleh kesempatan memenuhi kebutuhan wisata. Perundangan tersebut secara tidak langsung memberi jaminan adanya kenyamanan dalam berwisata kepada setiap warga negara.
Bisa dibayangkan, seandainya setiap masyarakat di tempat-tempat wisata, khususnya tempat wisata yang dikelola pemerintah, merasa ikut memiliki toilet, maka akan menjadi kekuatan bagi destinasi wisata untuk mengalami pertumbuhan berkelanjutan di masa depan melalui kepuasa wisatawan. Masyarakat yang tidak aware dengan makna kebersihan secara umum khususnya implementasi pada toilet, ibarat duri dalam daging yang menggerogoti ketahanan dan daya saing industri kepariwisataan kita.
Masyarakat yang telah sadar akan kebersihan dan estetika toilet, kita sebut sebagai massa sadar wisata. Pada titik inilah relevansi dan kontekstualitas Toilet Award agar tidak sebatas seremoni, tetapi menginspirasi dan menggerakkan setiap hati anak bangsa ini untuk melakukan hal-hal yang terbaik melalui cara-cara sederhana di toilet.
Dorongan yang kuat untuk menjaga kebersihan dan estetika toilet seiring dengan tren kebutuhan berwisata pada peradaban modern ini. Kepariwisataan semakin menjadi salah satu kebutuhan esensial manusia di samping kebutuhan pokok yang lainnya, kebutuhan berwisata dengan sangat dibutuhkan dalam rangka live balancing dari rutinitas keseharian manusia, oleh karena itu timbulah usaha-usaha dalam memenuhi kebutuhan berpariwisata seperti shopping, berenang, tour package, dan caving.
Artinya, di level kebutuhan mendasar pun masyarakat menengah ke bawah tak cukup hanya mengejar kebutuhan fisik manakala aktivitas berwisata tidak tepenuhi. Apalagi masyarakat yang menurut hirarki kebutuhan Abraham Maslow (1908-1970) telah tepenuhi seluruhnya, bahkan semakin berkesempatan mengakses sebesar-besarnya untuk berwisata. Ini justru memperlihatkan betapa ladang pariwisata di Tanah Air terbuka luas bagi penggalian pundi-pundi negara. Di kalangan masyarakat luas memberikan peluang untuk mewujudkan bentuk keriwausahaan yang semakin sulit terbendung.
Kita perlu memaknai toilet sebagai salah satu instrumen yang berdaya efektif menghadirkan kebahagiaan kepada wisatawan ketika berwisata. Di ranah strategis, toilet umum yang bersih di tempat-tempat wisata bisa menjadi andalan untuk memajukan kepariwisataan di dalam negeri. Maka, jangan meremehkan masalah toilet.

