Empta Tahun Menjadi Pemotret. Kompas.11 Februari 2015.Hal.16

Lebih dari 40 tahun, ia menjalani profesi tukang potret. Selama itu rezekinya dari memotret tetap mengalir,meski 10 tahun terakhir menurun. Rezeki yang berasal dari memotret warga kampong di sejumlah kelurahan dan desa sampai memotret pengantin itu, bisa menghidupi keluarga dan membiayai anak- anaknya ke perguruan tinggi dan mendirikan rumah.

“Tuhan telah menunjukkan jalan bagi saya untuk belajar dan bekerja menekuni fotografi, yang kemudian menjadi tukang potret keliling, saat saya menganggur,” kata JB Sukeria Agus (72), menuturkan perjalanan hidupnya yang sudah ditekuni selama 44 tahun. Pekerjaan itu dilakukannya sejak  anak pertamanya lahir, hingga dia memiliki lima cucu dari dua anaknya. Agus mempunyai tiga anak.

Pada tahun 1971, Agus keluar dari pekerjaan di sebuah pabrik plastik di Jakarta. Viria Sati mengajak dirinya belajar memotret dan mencetak foto di rumahnya di Jalan Achmad Yani, Bogor, Jawa Barat. Ketika itu, Viria baru saja usai kursus fotografi di Jakarta. Viria mengajak Agus membuka usaha berjualan film dan membuka studio kecil- kecilan yang melayani pembuatan foto dan foto panggilan.

“Ternyata pekerjaan memotret  itu prospeknya bagus. Mulai anak lahir, menikah, dan meninggal perlu dipotret untuk untuk dokumentasi keluarga. Karena itu, pekerjaan ini saya tekuni sampai tua. Dan, pelanggan saya, sejak menikah sampai mempunyai anak dan cucunya pun saya yang memotret. Bahkan cucunya pun saya yang memotret. Turun- temurun menjadi pelanggan saya. Ada yang menikahkan anaknya dari anak pertama sampai kelima, semua saya yang memotret,” kata Agus.

Selama tiga tahun (1971- 1974), Agus bergabung dengan kakaknya. Kemudian dia membuka “kamar gelap” kecil- kecilan di rumahnya di Jalan Roda Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, untuk mencuci film hitam dan mencetak foto sesuai pesanan pelanggan.

Sebagai tukang potret keliling, wilayah operasional Agus selain seputar kampong di Kelurahan Babakan Pasar juga ke kampung lain di dalam kota dan di luar Kota Bogor. Dengan berbekalan kamera Yashica MAT 124 pemberian kakaknya yang berisi film untuk 12 kali pemotretan, Agus menjajakan jasa pemotretan ke kampung- kampung.

“ Waktu itu sekali memotret Rp 100 untuk satu lembar foto ukuran kartu pos dan filmya. Biasanta seklai jalan membawa lima rol film unutk 60 kali pemotretan. Seminggu kemudian saya serahkan kepada mereka. Saya sudah punya jadwal lokasi keliling pemotretan. Seminggu kemudian saya serahkan kepada mereka. Saya sudah punya jadwal lokasi keliling pemotretan ke kampung- kampung di dalam kota dan di luar kota,” kata Agus yang menikah dengan Etty tahun 1968.

Memotret Pernikahan

Pada 1974, Agus yang berlangganan membeli film dan mencetak foto berwarna di took Foto Melati, di Bogor Plaza, ditawari untuk memotret pernikahan. Pemilik toko, Ternadi Wenas, dan adiknya, LS Buddhi, sudah dikenal khusus untuk memotret pernikahan.

“Saya waktu itu ditawari untuk memotret pernikahan. Toko Foto Melati saat itu mendapat banyak order memotret pernikahan. Saya terima itu, dan langsung dibimbing bagaimana memotret acara pernikahan dari awal sampai akhir, dengan pose sebaik mungkin,” kata Agus yang memperoleh bimbingan dari Wenas yang mengikuti kursus fotografi di Jakarta. Sementara LS Buddhi bergabung dengan Klub Fotografi Candra Naya dibawah bimbingan pakar fotogradi Lukas Hardi dan Pitoyo Kadirun.

Sejak 1974, Agus kemudian dikenal sebagai pemotret pernikahan. Pelanggannya semakin banyak, kegiatan memotret keliling lambat laun ditinggalkan. Tidak saja memotret pernikahan, dia juga memotret pesta ulang tahun dan acara kematian. Untuk satu album foto pernikahan dan lain- lain, dia memasang tariff 1,5 juta.

Sepuluh tahun terakhir ini, say bermunculan wedding organizer ( WO), penghasilan Agus dari pemotretan berkurang. Ini karena WO, paketnya termasuk pembuatan video dan pemotretan. “Saya hanya menerima order pemotretan pernikahan yang tidak ditangani WO,” kata Agus yang kini menggunakan kamera digital Canon. “Sekarang kedua anak saya sudah bekerja, beban saya pun sudah tak seberat dulu. Sekarang saya dan istri, tugasnya mengasuh cucu dan juga menunggu panggilan memotret,” ujarnya.

Tak terlupakan

Pengalaman yang tak terlupakan selama menjadi tukang potret adalah ketika gagal mencetak foto. Ketika itu, ada tiga rol film berwarna berisi pernikahan aday Sunda gagal dicetak sebuah studio karena dianggap terbakar. Rrol film memang diganti, tetapi momentum pernikahan itu tidak bisa digantikan.

“Saya kecewa berat. Karena ini tanggung jab saya, maka saya ulang lagi pemotretannya. Saya minta tukang riasnnya merias ulang pasangan pengantin itu dengan memberitahukan kasusny. Pemotretan ulang pun dilakukan di rumah pengatin, akhirnya saya tak memungut bayaran kepada pengantin,” kata Agus mengenang salah satu pengalaman pahitnya.

Bukan saja Agus yang bangga menjadi tukang Potret, tetapi juga anaknya. “Ketika kuliah di Universitas Parahyangan (Unpar) Bandung , saya menuliskan pekerjaan ayah tukang. Saya tak malu menuliskan itu, namun bangga sebab dengan pekerjaan itu saya bisa kuliah, demikian pula kakak dan adik saya,” kata Hendra, putra kedua Agus, yang menyelesaikan studinya di Unpar tahun 1993.

Agus sangat mensyukuri karunia Tuhan yang tlah menunjukkan jalan kehidupannya sebagai tukang potret. “Saya akan berhenti memotret sampai batas akhir kemampuan saya memotret,” kata Agus yang masih aktif memotret samai tua, sementara beberapa rela seprofesinya sudah meninggal dan tak aktif lagi.

 

FX PUNIMAN

Wartawan tinggal di Bogor

Sumber: Kompas, rabu 11 Februari 2015