Dalam satu dua dekade terakhir, kian banyak anak muda di negeri ini yang berpaling dari profesi sebagai pekerja kantoran. Mereka kemudian memilih mengabdikan diri untuk merawat dan memuliakan alam lingkungan tempat mereka berasal. Jemi delvian (39) adalah salah satunya.
Lahir dan tumbuh dibentang alam yang nyaman, sejuk dan indah di kaki gunung dempo, sumsel, bagi jemi adalah anugrah luar biasa. Suasana pegunungan dengan perkebunan teh yang menghijau serta semerbak harum kopi kala berbunga seperti memanggil manggil, membuat jemi kerap merasa disergap rasa rindu ingin pulang. Perantauannya ke lampung hingga lulus SMA lalu ke Yogyakarta untuk kuliah, dan bekerja dijakarta tak membuat jemi lupa dari mana ia berasal. Persentuhan dengan beragam persoalan ditanah rantau justru kian menumbuhkan semacam kesadaran baru pada dirinya. “aku harus pulang” begitu ia bertekad selepas merampungkan kuliah. Namun tekad itu tak segera terwujud. Tawaran kerja di beberapa tempat di Jakarta, juga hobinya pada dunia music yang dirintis sejak SMA dengan bergabung bersama sejumlah band di Bandar lampung dan Yogyakarta, tak kalah menarik untuk di tekuni. Ia sempat bimbang; pulang dan membaktikan hidup di kampung, kerja sebagai pegawai kantoran, atau bermusik. Dijakarta, ia sempat bekerja di perusahaan ekspor impor setelah terlihat sebagai volunteer kolektor data di lembaga ilmu pengetahuan Indonesia. Hanya kurang dari dua tahun ia mampu bertahan dengan rutinitas kerja kantoran. Kata “pulang” sepertinya terus memanggil. “kali ini, aku benar benar harus pulang”. Pulang! Lalu untuk apa?
Sang pionir
“disana, disisi bukit itu, dulu ada pohon besar tinggi menjulang. Kami menyebutnya pohon sialang” kata jemi bercerita saat kami melintas menuju dusun bintuhan di kecamatan kota agung, kabupaten lahat, sumatera selatan. Bintuhan adalah desa kecil tempat kedua orang tuanya, arsyan djatoha (71) dan yasmana (66), berasal. Di kanan kiri jalan, rerimbunan perdu menyungkup hingga ke sisi terluar jalan desa yang sempit dan berkelok kelok. Agak jauh ke belakang, di tebing tebing bukit, pohon pohon mulai bertunas kembali setelah habis terbakar bersamaan peristiwa kabut asap yang mengharu biru negeri ini pada 2015. Cerita tentang pohon sialang adalah kisah masa lalu ketika pada 1998 ayahnya memutuskan akan menghabiskan masa tuanya di bintuhan begitu pension dari PTPN VII perkebunan teh gunung dempo. Di sana, mereka membangun rumah tinggal dengan mnyisakan lahan luas di belakangnya untuk ditanami aneka jenis pohon buah. Setiap pulang ke bintuhan, jemi selalu merasa kagum pada pohon besar tinggi menjulang itu. “di pohon itu banyak monyet bergelantungan, berteriak teriak seperti memanggil orang orang yang lewat. Sesekali ada juga kawanan lebah bergantung yang bisa dipetik madunya” ujar jemi mengenang masa lalunya. Namun, kini semua sudah jatuh berubah. Bukan hanya pohon sialang yang hilang dari pemandangan, aneka satwa yang kerap singgah disana pun tak lagi terlihat. Tradisi mengambil madu di hutan ikut terkubur. Sementara masyarakat yang sebagian besar hidup dari bertanam padi dan berkebun kopi jenis robusta tak juga beranjak sejahtera. Ada rasa sedih, kata jemi, tetapi apa yang mesti diperbuat? Bersama sang adik, Erwin madison (36) alias wiwin, alumnus psikologi universitas ahmad dahlan, Yogyakarta, jemi mulai menaruh perhatian pada pemulihan tanaman kopi penduduk yang umumnya sudah tua. Keduanya melakukan semacam penyuluhan kecil tentang bagaimana seharusnya penanganan pasca panen agar kopi masuk ke pasar premium dan bernilai tinggi. Meski tetap lebih banyak tinggal di kota Palembang, terutama sejak menikahi dwina pratiwi (30) pada tahun 2008, tiap minggu ia rutin pulang kampung. Awalnya, ia fokus mengurus kebun kopi milik orang tuanya. Uji coba dilakukan dengan memangkas batang batang kopi yang sudah tua, lalu “diremajakan” kembali lewat teknik okulasi dengan tanaman kopi baru yang lebih menjanjikan hasilnya. Kini meski baru pada latihan terbatas,kebun kopi mereka sudah ditoleh penduduk. “disini, segala sesuatu yang baru memang mesti ada yang memulai lebih dahulu untuk dijadikan contoh. Tidak bisa sekadar ajakan untuk berubah” kata jemi. Tak Cuma itu, jemi bersama wiwin juga melakukan semacam tes uji kualitas dalam proses penyaringan biji kopi sampai ditemukan komposisi yang pas untuk mendapatkan karakter khas dan cita rasa terbaik. Upaya pemulihan tanaman kopi dari hulu hingga ke hilir itu adalah bagian dari upaya mereka mengangkat derajat kesejahteraan petani kopi di sumsel,khususnya kopi dari lahat, pagar alam, dan sekitarnya. Tak berhenti disitu, guna memperkenalkan cita rasa kopi robusta dari sumsel, jemi dan wiwin beserta penyair T wijaya sengaja membuka kedai kopi di Palembang lewat kedai kopi berlabel le café talang tuwo ini, mereka berharap kejayaan kopi robusta dari kawasan bukit barisan di wilayah sumsel bisa kembali terangkat. “dulu hingga 1958, kopi dari daerah ini sangat terkenal hingga ke pasar dunia” kata jemi.
Aktivitas lingkungan
Selain bergelut memuliakan kopi para leluhur, jemi juga dikenal sebagai aktivis lingkungan. Jalan yang ia pilih cukup unik: melalui music! Lewat band hutan tropis yang ia dirikan, sejak awal jemi banyak terlibat dalam isu isu lingkungan, khususnya masalah hutan dan lahan gambut. Terlebih ketika hampir tiap tahun kawasan hutan dan lahan gambut didaerah ini terbakar atau dibakar. Selain daya dukung lingkungan turun drastic, kegiatan ekonomi masyarakat pun terganggu. Dalam perkembangannya, grup band hutan tropis bermetamorfosis menjadi komunitas hutan tropis. Tak hanya lewat lagu, kampanye soal lingkungan juga sampai pada aksi turun ke lapangan. Wiwin, sang adik, selalu ikut terlibat, juga penyair T wijaya yang menciptakan sebagian besar syairlagu bertemakan lingkungan yang dinyanikan jemi. Panggung mereka tak hanya lingkungan perkotaan atau lewat album rekaman yang diunggah gratis di internet. Lewat lagu lagu dijalur balada, jemi bernyanyi hingga kepelosok dusun mengingatkan semua pihak akan pentingnya menjaga dan menyelamatkan lingkungan. Perkampungan di tengah rawa, desa desa terpencil dipinggiran kawasan lahan gambut, hingga dusun dan talang kawasan pegunungan kerap mereka datangi. “bersentuhan langsung dengan masyarakat di wilayah pinggiran membuat kami makin sadar betapa kerusakan lingkungan sudah menggerus kehidupan disana” ujar jemi.
Sumber: Kompas, Jumat 9 Desember 2016

