SOROTAN
Tiongkok, kita mengenalnya sebagai negara adidaya. Pincangya kondisi negeri ini akibat serangan wabah Covid-19 berimbas keberbagai negara sekitar. Situasi ini sebenarnya berpotensi melahirkan krisis global. Apakah situasi ini menggenapi awal krisis ditahun tikus 2020 yang telah banyak diramalkan?
Kemeriahan pesta kembang api melepas Tahun 2019 dan menyambut Tahun Baru 2020, baru saja usai. Mereka yang larut dalam kemeriahan momen sekali setahun itu masih tergolek dalam istirahatnya. Sisa-sisa kemeriahan di berbagai lokasi pesta, bahkan belum seluruhnya dirapikan kembali. Di tengah suasana cooling down itu, siapa yang mengira ada sekelompok makhluk renik yang siap membuat heboh se isi dunia. Dengan kemampuannya untuk terus menyebar dan bermutasi, makhluk yang sempat dinamai 2019-BCoV berhasil menyita perhatian di sejumlah negara dengan milyaran populasi manusia di dalamnya. Bak pasukan infiltrator yang bergerak senyap. kemampuan virus SARS-CoV.-2 si penyebab Covid-19 Ini memang istimewa. Dengan masa inkubasi 2-14 hari, virus itu masuk ke wilayah musuh untuk menggalang kekuatan terlebih dahulu. Namun ketika virus itu menunjukkan keperkasaannya, tubuh manusia yang dijangkiti bakal seketika memburuk tiada ampun.
KORBAN XENOPHOBIA
Sejumlah warga Tiongkok yang bercirikan ras mongoloid mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan diluar negeri. Mereka seolah dianggap sudah terinfeksi virus hanya berdasarkan rasnya. Tindakan ketakutan berlebihan terhadap orang asing (xenophobia) ini terjadi juga di Sumatera Barat.
Guna membendung pergerakan Covid-19, pemerintah Tiongkok memutuskan untuk mengisolasi kota berpenduduk 84 juta jiwa itu. Penghentian sarana publik membuat aktivitas kota serasa lumpuh.
Keluhan yang dirasakan, mirip orang terkena “flu”, mulai dari demam, batuk, pilek, nyeri dada, dan sesak napas. Namun lebih jauh, yang muncul kemudian bisa pneumonia, sindrom gangguan pernapasan akut, sepsis, atau syok septik. Pada komplikasi yang parah, kematian bisa datang.
Lebih celaka, Covid-19 juga bisa mengakibatkan serangan infeksi yang lebih luas (sistemik). Mekanismenya memang belum diketahui persis, namun ternyata virus ini juga didapati bercokol pada sistem pencernaan, hati, bahkan ginjal. Organ-organ yang diserang makin memperburuk kondisi pasien secara keseluruhan, hingga akhirnya berujung kematian.
Lumpuhnya Wuhan
Memang bukan untuk kali pertama, dunia dikejutkan virus-virus yang mengganas seketika. Sebelumnya dalam keluarga virus Corona sendiri saja, Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrom (MERS) pernah menjadi wabah pencabut ratusan sampai ribuan nyawa.
Akan tetapi dibandingkan dua penyakit itu, untuk sementara Covid-19 tercatat paling istimewa dalam hal kecepatan penyebaran. Sebulan sejak diumumkan resmi oleh WHO, ia sudah berulah di 24 negara.
Covid-19 boleh saja menyebar miring mobilisasi manusia ke berbagai belahan dunia. Namun sebenarnya persoalan wabah ini tetap tidak lepas dari lokasi virus ini memulai debutnya, yakni Wuhan. Ibukota dari Provinsi Hubei, yang luasnya sekitar 12 kali Jakarta, adalah kota terbesar di Tiongkok bagian tengah. Kota yang sudah ada sejak 3.500 tahun lalu ini juga merupakan kota industri dan perhubungan. Industri mobil dalam negeri serta besi baja, identik dengan kota ini. Hampir separuh sumber perekonomian Wuhan didapat dari industri dan jasa.
RELA BOTAK
Para perawat perempuan yang hendak bertugas di Wuhan rela mememotong rambut mereka hingga hanya tersisa ½ cm saja. Mereka rela mengorbankan penampilan dalam perjuangan menghadapi virus. Rambut ditakutkan jadi media berpindahnya virus.
Guna membendung pergerakan Covid-19, pemerintah Tiongkok memutuskan untuk mengisolasi kota berpenduduk 8,4 juta jiwa itu. Penghentian sarana publik membuat aktivitas kota serasa lumpuh. Ketakutan menyebar ke berbagai wilayah di Tiongkok. Puluhan juta orang tidak berani beraktivitas di luar rumah. Kondisi Itu tergambarkan dari suasana tahun baru Imlek, akhir Januari, yang terasa anyep.
Lumpuhnya Wuhan akhirnya merupakan pukulan berat bagi ekonomi Tiongkok secara keseluruhan. Berbagai bisnis lokal seperti supermarket, restoran, dan penginapan, menurun drastis. Kondisi itu langsung mengerek angka inflasi menuju level 54% pada Januari. Naik dari 4,5% pada Desember 2019. Inilah angka tertinggi dalam delapan tahun terakhir.
Angsa hitam
Sebagai negara dengan kekuatan ekonomi terbesar kedua dunia, batuk-batuknya Tiongkok dipastikan segera membuat negara-negara yang memiliki hubungan dagang dengannya, ikut meriang. Perdagangan dan pariwisata ialah sektor yang langsung terkena imbasnya. Terutama untuk negara-negara di kawasan Asia Pasifik.
Negara-negara yang memiliki hubungan dagang langsung dengan Tiongkok sedang gigit jari karena putusnya rantai pasokan, baik ekspor maupun impor. Prediksi tingkat pertumbuhan ekonomi dari masing-masing negara langsung dikoreksi, mengingat situasi ini setidaknya bisa bertahan dalam beberapa bulan ke depan.
Gara-gara situasi ini, Badan Moneter Internasional (IMF) sendiri memperkirakan bakal terjadi perlambatan ekonomi global dalam jangka pendek. Sementara situasi jangka panjangnya malah belum bisa diperkirakan. Akankah terjadi krisis global? Entahlah.
Gara-gara situasi ini Badan Moneter Internasional (IMF) sendiri memperkirakan bakal terjadi perlambatan ekonomi global dalam jangka pendek. Sementara situasi jangka panjangnya malah belum bisa di perkirakan.
Pada akhirnya, kita hanya bisa meraba dari lembaga pemeringkat Moody’yang menyebut situasi ini sebagai “The Black Swan” alias peristiwa langka yang berdampak besar dan di luar perkiraan. Situasi ini berbeda dengan krisis ekonomi 2008-2009 yang sudah diperkirakan sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi dunia yang diharapkan ada di level 3,3% tahun ini, rupanya teradang Covid 19.
Ekspor dan impor kena
Indonesia sebagai salah satu mitra dagang terbesar Tiongkok tentu bakal ikut kena getahnya. Maklum, Negeri Tirai Bambu itu adalah pangsa pasar terbesar produk non migas kita. Sepanjang 2019 lalu, nilai ekspornya mencapai AS$25,85 miliar (16,7% dari total ekspor). Sementara impornya mencapai AS$44,58 miliar (30% dari total impor).
Angka-angka tersebut mencerminkan ketergantungan Indonesia kepada Tiongkok. Khusus untuk Wuhan yang terus diisolasi, telah membuat permintaan bahan baku industri ikut terhambat. Padahal, Indonesia mengekspor barang mineral, seperti batu bara, bijih besi, bijih nikel, tembaga dan kimia organik. Sedangkan untuk impor, Indonesia banyak mengimpor bahan baku dan barang modal. Terutama untuk industri makanan dan minuman, serta agrikultur. “Jika pasokan barang-barang ini terganggu, maka akan timbul kelangkaan sehingga memicu kenaikan harga,” tutur Ahmad Heri Firdaus, ekonom Institut for Development of Economics and Finance, seperti dikutip oleh CNN Indonesia.
Artinya, virus tak hanya mengancam kesehatan. Perekonomian juga bisa ikutan demam.
CASHLESS MAKIN TUMBUH
Bank Central Tiongkok menghancurkan sejurnlah uang tunai karena dianggap bisa terinfeksi Covid-19. Sebenarnya tindakan ini hanya bentuk ketakutan saja. Namun ketakutan justru membuat transaksi cashless tambah marak.
Sumber: Intisari, Maret 2020






