
Pada tanggal 2 Oktober lalu, dibioskop Indonesia tayang film ‘Joker’ besutan sutradara Todd Phillips dan dibintangi oleh Joaquin Phoenix sebagai Arthur Fleck, lakon utamanya. Skrining perdana sekaligus world premiere Joker di Venice International Film Festival akhir Agustus lalu ditutup dengan standing ovation selama 8 menit dan penampilan Phoenix sebagai villain ikonik dengan dandanan badut itu menuai pujian. Kritikus yang hadir langsung menjagokan Phoenix masuk nominasi atau bahkan pemenang Oscar kategori Aktor Terbaik. Namun, sejak awal pihak rumah produksi sudah mewanti-wanti penonton. Joker dipasarkan sebagai film R-rated (khusus penonton di atas 17 tahun) dengan tema sangat kelam.
“Jangan membawa anak di bawah umur saat menonton Joker”. Hal tersebut diperingatkan Alamo Drafthouse, sebuah jaringan sinema Amerika yang sering mengeluarkan kebijakan atas penayangan sebuah film. Orangtua diperingatkan untuk tidak mengajak anak-anak menonton Joker karena film ini banyak konten kekerasan, baik fisik maupun verbal. Mereka menekankan, Joker sama sekali bukan film yang cocok untuk anak, meski ceritanya merupakan adaptasi dari komik. “PERINGATAN PARENTAL (Ini bukan lelucon). Joker di-RATED R untuk alasan yang baik. Ada banyak bahasa yang sangat, sangat kasar, kekerasan brutal, dan keseluruhan getaran buruk. Terdapat penggambaran yang kasar, gelap, nyata dan sarat hal-hal kegilaan. Film ini bukan untuk anak-anak. Mereka tidak akan menyukainya. (Tidak ada Batman di film ini.)
Walau tayang dengan peringatan, Joker sukses besar, dan di Amerika Utara, film besutan Todd Phillips itu memuncaki box office dengan USD 93,5 juta (Rp 1,324 triliun). Catatan itu sekaligus menjadi rekor pendapatan penayangan perdana tertinggi dalam Oktober. Di mancanegara, Joker tak tertandingi. Hingga Minggu (6/10), film tersebut meraup pendapatan hingga USD 234 juta (Rp 3,314 triliun).
Suksesnya film secara finansial juga diiringi dengan kontroversi cerita dan karakter Joker sendiri. Belakangan ini, muncul meme tentang Joker. Juga, deskripsi singkat tentang Joker yang begitu populer: ’’Orang jahat adalah orang baik yang disakiti’’. Namun, apakah benar statement tersebut? Apakah benar Joker atau Arthur Fleck adalah ’’Orang jahat adalah orang baik yang disakiti”?
[Spoiler Alert]
Demi mendalami perannya, Joaquin Pheonix harus menurunkan berat badannya sampai 23 kg dan mempelajari orang-orang yang menderita Pathological Laughter and Crying (PLC), sesuai dengan karakter Arthur yang digambarkan menderita gangguan yang sering membuatnya suka tertawa, meskipun dalam keadaan sedih. Kondisi kejiwaan ini disebut dengan Pseudobulbar Affect (PBA) yang merupakan istilah untuk penyakit mental terkait gangguan emosi. Pseudobulbar Affect (PBA) adalah suatu kondisi di mana seseorang tiba-tiba tertawa atau menangis tanpa dipicu oleh sebab apapun. PBA disebut juga sebagai Pathological Laughter and Crying (PLC).
Selain itu Arthur juga dianggap mengidap gangguan mental Skizofrenia yang adalah gangguan psikosis kronis dengan gambaran gangguan pikiran (isi, arus); beberapa diantaranya adalah adanya delusi dan halusinasi yang dialami oleh penderita. Delusi adalah keyakinan tidak rasional yang diyakini oleh penderita, seperti keyakinan bahwa dirinya merupakan superhero, sedangkan halusinasi merupakan gangguan persepsi yang membuat seseorang mendengar, merasa, mencium aroma, dan melihat sesuatu yang kenyataannya tidak ada.
Dalam filmnya, Arthur diceritakan mengkonsumsi 7 obat yang berbeda sebagai bagian terapi kesehatan mentalnya ini, obat ini bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk meredam penyakitnya. Fungsi obat tersebut adalah agar supaya Arthur menjadi tenang dan fungsi otaknya tidak menjadi liar, bahkan Arthur meminta dosis obatnya ditambah, karena obat tersebut memang membuat dia tenang dan mengurangi ‘negative thoughts’ seperti yang Arthur singgung ke petugas sosial.
Dalam perkembangan ceritanya, layanan sosial kesehatan tempat Arthur mendapatkan terapi dan obatnya ditutup. Akibatnya Arthur menjadi tidak terkendali. Diceritakan Arthur menyukai Sophie Dumond (Zazie Beetz), seorang janda beranak satu. Arthur berpikir Sophie menyukainya juga, sampai pergi berkencan berdua, dan menemani Arthur ketika ibunya, Penny Fleck (Frances Conroy) dirawat di rumah sakit. Namun ternyata itu semua adalah imajinasi Arthur sendiri. Tidak nyata.
Selain Arthur adalah orang yang tidak diakui, tidak dikenal, hidup di masyarakat yang sangat acuh, dan seorang yang kesepian, dia juga adalah orang yang memiliki masalah dengan mentalnya dan sangat membutuhkan obat. Ini poin penting dalam film ini.
Terungkap pula ternyata Arthur adalah produk child abuse dari ibunya yang ternyata juga menderita masalah mental. Arthur kecil disiksa berulang-ulang kali oleh ibunya dan pacar ibunya. Salah satu penyebab Skizofrenia, adalah pengalaman traumatis. Adapun, biasanya diantaranya adalah pengalaman kehilangan orang tersayang, pekerjaan atau harta, perceraian, atau penganiayaan fisik, seksual atau emosional. Hal ini dapat memicu perkembangan skizofrenia pada seseorang yang sudah rentan terhadapnya. Jadi sebetulnya yang memiliki peran besar membuat Arthur menjadi Joker bukan lingkungan tempat dia tinggal, tetapi adalah ibunya sendiri.
Support system yang baik sangat menentukan bagaimana seseorang bisa berubah menjadi lebih baik atau lebih buruk. Maka dari itu, dari film Joker kita bisa belajar untuk mencari, bergaul dan hidup dengan orang-orang yang bisa memberikan dampak positif ke diri kita sendiri, sehingga kita boleh bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama.
Sumber:
Jawa Pos, 8 Oktober 2019
Jawa Pos, 9 Oktober 2019
Artikel “Film Joker & Bahaya Adegan Kekerasan untuk Kesehatan Mental Anak”, https://tirto.id/ejli
Artikel “Pseudobulbar: Penyakit Mental Joker yang Bikin Tertawa Tanpa Sebab”, https://tirto.id/ejlj
https://riliv.co/rilivstory/skizofrenia-pada-joker
https://www.instagram.com/sinema911/
