Joss Manuel Barroso_ Perdamaian Itu Soal Kemauan.Kompas 9 februari 2017.Hal. 16

Apakah damai itu? Soal ini sering diarahkan Kepada Jose Manual Barroso (60), penerima Hadiah Nobel Perdamayan itu, ia selalu berusaha menjabarkan: mewujutkan perdamayan  itu bergantung pada kemauan dan peran bayak pihak.

OLEH ARBAIN RAMBEY

Damai itu adalah kondisi dari adanya kesetaraan dalam segala hal dan itu peran anda semua. Saya sering  ditanya, bagai mana keadaan dunia 20 tahun ke depan. Saya selalu menjawab, itu terserah kepada pelakunya sendiri. Mau damai atau tidak. Perdamayan bukan peran siapa pun, kecuali pihak yang menggiginkan  damai itu sendiri,” kata Barroso  di Aula Baruga Andi  pangeran Pettararani, Universitas Hasanuddin, Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (27/1).

Kompas meyaksikan sendiri bahwa Barroso adalah pribadi yang damai dab sanagta rendah hati. Sabtu (28/1) subuh di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar,seorang berkulit putih tanpa pengawalan apapun datang tergopoh-gopoh menanyakan pintu untuk penerbangan ke Denpasar.

Setelah mengucapkan terimkasih, dengan setengah berlari karena agak terlambat, ia menunuju pesawatnya. Orang-orang di Bandara Sultan Hasanuddin sama sekali tidak ada yang tahu bahwa dia adalah penerima Nobel Perdamaian sekaligus mantan Perdana Menteri Portugal dan Presiden Komisi Eropa. Ia tidak ingin menonjol sama sekali.

Barroso datang ke Indonesia sebagai bagian dari rangkaian acara The 6th ASEAN “Bridges Dialogues To ward A Culture of  Peace yang berlangsung di Indonesia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam mulai Januari sampai Maret 2017. Seri dialog dengan para penerima nobel diprakarsai Internasional Peace Foundation (IPF) yang berbasis di Vietna, Australia. Sebelum Barroso, yang sudah hadir ke Indonesia dari seri kegiatan 2017 ini adalah Eric Mastin (Nobel Ekonomi) dari Amerika (AS).

PADA KUNJUNGAN Barroso di dua kampus di Indonesia, yaitu Universitas Prasetiya Mulya di Serpong, Banten, dan Universitas Hasanuddin, mayoritas pertanyaan yang diajukan terkait politik. Kompas mendapat kesempatan wawancara khusus politik (“Uni Eropa sangat Kuat”, Kompas Minggu, 29 Januari 2017, halaman 3). Namun, sesugguhnya secara personal barosso punya sisis yang sangat menarik, apalagi kalau menggali visinya tentang perdamaian.

 

Masa depan dunia

          “manusia sekarang tampaknya takut pada masa depan, “ katanya lagi di sela-sela pertanyaan tentang masa depan AS di bawah Presiden Donald Trump. Atas soal itu, ia menjawab dengan menggalikan topik secara jenaka. Katanya, terlalu dini untuk berkomentar tentang itu. Ada juga pertanyaan tentang kemungkinan peceh Uni Eropa.

 

Mencegah perang adalah dengan meng hilangkan segala akar ketidaksetaraan

Ketakutan pada masa depan itu, ujar Barroso, terjadi karena melihat kecenderungan yang terjadi akhir-akhir ini: kekerasan merajalelah, ekonomi yang kian tidak menentu, dan sebagainya.

“Dan itu semua sebenarnya dipacu pada globalisasi yang kemudian membawa berbagai ikutanya, seperti perdagangan antara yang kian besar dan juga perpindahan manusia antarnegara yang satu sisi membawa terorisme juga. Bagaimana sikap kita? Menghentikan perdagangan?” ujarnya yang disusul keheningan ruangan menanti kelanjutan pernyataan ini.

Bagi Barroso, semua keburukan dunia selalu dikatakan akibat kesalahan para politikus. Padahal, segala keburukan dunia adalah akibat kesalahan kita sendiri. Semua hal baik atau buruk sesunguhnya bermuara pada kemauan kita sendiri akan masa depan termasuk bagaimana kita memiliki politikus yang akan mewakili kita disebuah negara.

Barroso menggarisbawahi dua kata ini: keramahan dan kekerasan (hospitslity and hostility) yang akan membedakan segala kemungkinan kelanjutan hubungan antarnegara. Selain itu hubungan perdagangan dua negara selalu dibayangi dua hal, yaitu zero sum game yang berkonotasi “kalau baik untukku, buruk untuk orang lain” serta positive sum game yang berkonotasi “Usahakan yang baik bagi semua”.

“Tiongkok itu jadi kaya karena makin terbuka. Apakah itu buruk bagi orang lain?” tanynya sambil meyilakan hadirin membuat kesimpulan sendiri.

Perserikatan

Selain itu, hal lain yang diyakini Barroso yang akan membawa kedamayan adalah perserikatan. “Uni eropa dimulai dengan kerja sama ekonomi pada 1957. Kemudian disusul kerja sama-kerja sama lain,” katanya.

Di tengah anekah pertanyaan tentang  keberhasilan atau atau kegagalan Uni Eropa, Barroso menegaskan bahwa keberhasilan Uni Eropa setidaknya tanpak pada hal berikut: sudah tidak ada perang lagi antarnegara Eropa selama 60 tahun terakhir. Sesuatu yang tidak terjadi sebelum adanya persatuan negara-negara Eropa itu.

“Perserikatan di suatu sisi mengusahakan agar perang tidak terjadi. Mau damai? Mulailah dengan mencegah perang. Mari budayakan culture of peatce, budaya damai” paparnya berapi-api.

Perserikatan, menurut barroso, akan membawak ketidaksetaraan kedalam putaran damai. “dalam sebuah perserikatan antarnegara, negara yang secara ekonomi kuat dan negara yang secara ekonomi lemah akan punya martabat yang sama akibat perserikatan. Di ASEAN, Barroso mengambil contoh Timor-Leste dan Singapura yang secara ekonomi berbeda, tetapi bisa setara sebagai sesama anggota perserikatan itu. Mencegah perang adalah dengan menghilangkan segala akar ketidaksetraan. Dan, perserikatan adalah salah satu yang bisa melakukannya” katanya.

Sumber: KOMPAS, KAMIS, 9 FEBRUARI 2017