Mencipta 100 Tepuk Tangan untuk Anak. Kompas.2 April 2015. Hal.16

Berbekal kegemarannya menulis, dan didukung kecintaannya pada dunia anak-anak, Rokillah Abdul Djamil (42) mencipta 100 jenis tepuk tangan untuk anak-anak. Tepuk tangan sederhana, dengan memanfaatkan nama-nama benda di sekitar, seperti nama buah-buahan, ternyata mampu menjadi alat bagi anak-anak untuk bergembeira sembari belajar mengenal bentuk.

OLEH SIWI NURBIAJANTI

Rokillah mulai menulis sejak 2009 lalu, diawali dari kesukaannya menulis di media sosial dan online (daring). Sebelumnya, sejak 2005, ibu dua anak tersebut sudah mengabdikan diri pada dunia pendidikan anak, dengan mengajar di Taman Pendidikan Qur’an (TPQ) dan madrasah.

Kecintaannya untuk menulis, diawali dari perjumpaannya dengan dunia teater. Dia bergabung dengan kelompok teater mahasiswa di Tegal, dan terlibat di dalamnya. Rokillah pun kerap membawakan monolog dalam berbagai pementasan.

Dari kegiatan berteater dan melakukan monolog, Rokillah akhirnya menjadi penulis, di sela-sela aktivitasnya sebagai pengajar. Namun, dia tidak menggunakan nama Rokillah sebagai nama pengarang buku, melainkan Joy Amarta.

Menurut Rokillah, nama Joy merupakan nama pemberian teman-teman sesama komunitas penulis. Joy sendiri diartikan sebagai senang, sehingga dia mengaku senang mendapatkan nama itu. Sementara Amarta diambil dari nama salah seorang teman dekatnya yang sudah meninggal, yaitu Marta.

“Saya menambahkan A di depannya, sehingga menjadi Amarta,” katanya.

Buku pertama yang diterbitkan, yaitu Aku Suka Membaca, yang diterbitkan sampai lima seri, yaitu Aku Suka Membaca I hingga Aku Suka Membaca V. Hingga saat ini, Rokillah atau Joy Amarta sudah menghasilkan 25 buku. Antara lain berupa cerpen, kumpulan cerpen, dan novel. Buku terbaru karyanya yang diluncurkan pada pertengahan Maret 2015 lalu, yaitu buku berjudul 100 Macam Kreasi Tepuk Tangan.

Dia juga tak hanya mengajar di TPQ dan madrasah, tetapi juga di Raudatul Athfal (RA), yaitu pendidikan setingkat taman kanak-kanak (TK), serta mengajar di pendidikan anak usia dini (PAUD). Terakhir, dia mengajar di PAUD Nurullah dan Madrasah Nurullah, di Kelurahan Kejambon, Kecamatan Tegal Timur, Kota Tegal.

Buku 100 Macam Kreasi Tepuk Tangan ditulis pada 2014, selama tiga bulan. Joy terinspirasi menciptakan 100 macam kreasi tepuk tangan, dan menuliskannya dalam sebuah buku, karena prihatin melihat pendidikan anak usia dini yang sudah diajak fokus pada belajar.

“Saya melihat, anak-anak minim tepuk tangan, hanya fokus pada belajar, sehingga suasana gembira belum muncul,” tuturnya.

Kondisi itu, lanjutnya, kerap membuat anak-anak PAUD takut masuk kelas. Padahal, anak-anak usia dini harus dibiarkan bersenang-senang dan bermain. Anak-anak tersebut jangan dipaksa fokus pada belajar, seperti menulis dan membaca.

“Anak-anak harus bergembira, karena pendidikan anak usia dini sebenarnya hanya untuk mematangkan kemandirian dan emosional anak,” ujarnya.

Oleh karena itu, Joy mencoba membuat bermacam-macam tepuk tangan, agar anak-anak menjadi senang saat berada di kelas, dan senang ketika melihat guru masuk kelas. Tepuk tangan yang diciptakannya pun menggunakan bahasa yang sederhana, dengan memanfaatkan nama-nama benda yang mudah dihafal anak.

Sebagai contoh, tepuk tangan yang banyak disukai anak-anak, yaitu Tepuk Ceri (tepuk buah ceri). Tepuk Ceri berbunyi ceria-prok prok prok-(tepukan tangan):

tiap hari (prok prok prok).

tidak sedih (prok prok prok).

tidak nangis (prok prok prok).

buah ceri manis-manis.

anak manis jangan menangis.

Judul tepuk tangan lainnya yang dia ciptakan, antara lain Tepuk Balon, Tepuk Bola, dan Tepuk Durian. Ada juga Tepuk Semangat Baru, yang berbunyi:

se (tepuk tangan)

ma (tepuk tangan)

ngat- semangat.

Tepuk tangan sederhana itu, ternyata mampu menarik siswa untuk bergembira, dan merasa nyaman berada di kelas. Tepuk tangan dengan mengambil judul benda-benda sederhana, juga mengajarkan siswa mengenal bentuk.

Sebagai contoh, anak-anak bisa mengenal dan menghafal bentuk durian, dengan berulang kali bertepuk tangan durian. Selain itu dengan bertepuk tangan, gerak motorik, serta emosional siswa akan terlatih. Hal itu sangat penting untuk menunjang tumbuh kembang anak.

Joy sendiri tidak menetapkan standar tepukan, untuk setiap judul tepuk tangan yang dia ciptakan. Justru para pembaca, termasuk para guru PAUD lainnya yang ingin mengaplikasikan kreasi tepukan tersebut kepada para siswa, bisa mengembangkannya dengan kreasi mereka sendiri.

Di sela-sela aktivitasnya menulis dan mengajar, Joy juga kerap membuat kreasi suvenir dari bahan flanel, serta membuat hiasan untuk hantaran pernikahan. Dia pun kini berencana menulis buku berisi 100 macam kreasi flanel, agar ilmu yang dimilikinya bisa bermanfaat bagi orang lain. Meskipun sibuk dengan berbagai aktivitas, Joy tetap dekat dengan anak-anaknya. Dari kedua anaknya, yaitu Alvian Prasetyo (20) dan Jihan Nabilla (15), Jihan lah yang mulai mengikuti aktivitasnya. Jihan yang saat ini duduk di bangku SMA, sering mengikuti kegiatan-kegiatan yang dijalaninya , dari teater monolog, hingga aktivitas lainnya.

Mulai akhir Maret, Rokillah atau Joy Amarta terpaksa berhenti sementara dari aktivitasnya sebagai pengajar. Dia harus pindah dari rumahnya di Perum Griya Santika, Kelurahan Mejasem, Kabupaten Tegal, untuk mengikuti suaminya tinggal di Palembang, Sumatera Selatan. Dia juga terpaksa cuti sementara dari aktivitas kuliah di program studi pendidikan PAUD, pada Universitas Terbuka (UT).

Meskipun demikian, Joy tidak akan pernah melupakan dunia tulis-menulis, serta dunia anak-anak. Di hatinya, dunia anak-anak maupun aktivitas menulis, telah menjadi bagian jiwa yang tidak bisa dipisahkan. Dia bertekad tetap mengembangkan pemikiran dan ide-idenya untuk menghasilkan karya tulisan.

Sumber: Kompas. 2 April 2015. Hal 16