
Bagi Juliet Tambeng (47), hadirnya investor luar yang telibat dalam bisnis pariwisata di sekitar Candi Borobudur tidak selalu mampu menopang ekonomi warga sekitar. Karena itu, ia mengajak warga untuk mengelola potensi pariwisata desa secara mandiri. Dengan demikian, keuntungan dari bisnis pariwisata akan terdistribusi lebih merata kepada warga. Yang lebih penting, keguyuban warga terjaga
“Jika investor luar masuk, mungkin hanya 10-20 warga yang ikut dilibatkan. Akhirnya, muncul kecemburuan sosial. Hal itu kami pelajari dari kondisi beberapa desa di sekitar Borobudur,” ujar Tambeng saat menemani Kompas mengelilingi Bukit Barede di Dusun Sendaren II, Desa Karangrejo, Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, akhir Oktober.
Sejak iklim pariwisata di kawasan Borobudur menggeliat, banyak tanah warga di sekitarnya menjadi incaran investor luar. Mereka bisa orang asing ataupun pemilik modal dari luar Magelang yang ingin ikut menkmati gemerlap bisnis wisata di destinasi berskala global tersebut.
Tak ketinggalan Bukit Barede, sebuah bukit di Dusun Sendaren II yang berjarak 2 kilometer di sebelah barat candi. Sebab, bukit setinggi kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut itu merupakan daerah tinggi terdekat dari kawasan candi. Dari puncaknya terlihat jelas kemegahan Candi Borobudur. Pada bulan-bulan tertentu, pengunjung bisa menikmati fenomena matahari terbit yang menyembul tempat di belakang Borobudur di antara Gunung Merapi dan Merbabu.
Strategisnya Bukit Barede membuat banyak pemodal luar mulai menjajaki kemungkinan untuk membeli tahan di wilayah itu sejak 2013. Di antara mereka bahkan ada yang sudah menawar tanah di Bukit Barede yang memiliki 11 keluarga warga Dusun Sendaren II. Hal itu membuat Tambeng yang menjabat sebagai kepala dusun sejak 2010 itu gelisah.
“Saat itu sudah ada tanah yang ditawar Rp 250.000 hingga Rp 500.000 per meter persegi. Lalu saya bilang kepada pemiliknya, kalaupun dia waktu itu menerima, anggap saja, Rp 500 juta, saya jamin dalam waktu dua tahun uang tersebut habis untuk konsumsi. Dari situ, saya mulai menawarkan ide untuk mengelola Bukit Barede secara mandiri,” kenang Tambeng.
Berkelanjutan
Tidak mudah bagi Tambeng meyakinkan warga, terutama para pemilik tanah. Untuk itu, dia mulai bergerilya. Dalam setiap kesempatan rembuk warga, hajatan, dan pengajian, Tambeng memberikan gambaran masa depan yang bisa dicapai melalui pengelolaan pariwisata.
Dia menilai, jika tanah di Bukit Barede dikelola secara mandiri, daya ungkit ekonomi yang dirasakan warga bakal lebih berkelanjutan. “Saya sampaikan kepada warga, tanah itu bukan milik kita, melainkan titipan untuk anak-cucu. Dengan pariwisata, anak-cucu kita masuk akan bisa menikmatinya,” ujar pria asal Kecamatan Borobudur ini.
Akhirnya, Tambeng mampu meyakinkan kesebelas pemilik lahan seluas 5.000 meter persegi di Bukit Barede itu untuk menyerahkan tanah mereka supaya dikelola bersama oleh warga. Dia membuat kesepakatan agar tidak ada warga yang menjual tanahnya kepada investor dari luar.
Tidak hanya pemilik lahan, Tambeng juga merangkul seluruh lapisan warga, mulai dari anak muda, orang tua, hingga kaum perempuan. Setelah melalui berbagai pendekatan, awal 2015, warga sepakat mengembangkan pariwisata di Bukit Barede.
Sejak April 2015, Tambeng menggerakkan warga bergotong royong secara rutin setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu. Tidak henti-hentinya ayah dua anak ini meyakinkan warga bahwa jerih payah mereka pada suatu saat bakal mendapat ganjaran.
Yang istimewa, awal pengembangan pariwisata Bukit Barede sama sekali tidak mengutip uang dari warga. Selain tenaga, banyak warga yang juga menyumbangkan bambu, kayu, dan batu untuk menata bukit. Ibu-ibu digerakkan untuk memasak bagi warga yang bekerja bakti. Soal penataan lokasi, Tambeng punya pengalaman karena ikut mengembangkan pariwisata Punthuk Setumbu yang sama-sama berada di Desa Karangrejo.
Tambeng lalu membentuk Paguyuban Semar, akronim dari seneng Manunggaling Rukun yang berarti suka kerukunan. “Sejak awal, wisata Bukit Barede ini kami rintis bukan untuk mencari uang terlebih dulu, melainkan untuk merekatkan warga,” tuturnya.
Terbukti, dengan adanya program pengembangan wisata Bukit Barede, warga yang sebelumnya tidak pernah terlibat dalam rapat-rapat kampung akhirnya merasa perlu untuk hadir sekadar urun tembuk.
Tentu, ada saja segelintir warga yang awalnya ragu dengan proyek swadaya tersebut. Tambeng tidak terlalu gusar akan hal itu. Baginya, waktu yang akan menjawab. Sejak dibuka secara resmi awal 2016, kehadiran wisatawan utamanya turis asing mulai membuka mata mereka. Pariwisata sungguh menjadi hal yang menjanjikan
Latihan bahasa inggris
Sadar bahwa kunci keberhasilian pariwisata adalah pada keramahan tuan rumah, Tambeng berupaya meningkatkan sumber daya manusia warga setempat untuk berlatih mengelola kepariwisataan, terutama dalam melayani para wisatawan lokal dan mancanegara. Warga diberi kemudahan berlatih bahasa Inggris.
Buah ketekunan warga kini mulai dipetik. Sejak dibuka akhir 2016, dalam sebulan, rata-rata 700 wisatawan berkunjung ke Bukit Barede yang kebanyakan turis asing. Pendapatan yang dikelola warga sekitar Rp 60 juta per bulan. Bahkan, pada bulan Juli-Agustus lalu sebanyak 2.800 pelanong berkunjung ke sini.
Hingga kini, sebagian besar pendapatan dari pengelolaan wisata Bukin Barede masuh digunakan untuk pengembangan operasional kepariwisataan setempat. Para pemilik tanah hanya mendapat Rp 75.000 per bulan. “Mereka punya harapan bisa maju bersama supaya tidak ada kecemburuan,” tutur Tambeng.
Dia juga mendorong warga mengembangkan usaha ekonomi untuk mendukung kepariwisataan, seperti pembuatan gula jawa, rempeyek bayam, rempeyek kacang, keripik tempe, dan kerajinan tangan berbahan baku bambu.
Kaum lanjut usia diberdayakan bermain gamelan sebagai penyambut para tamu seusai menyakskan matahari terbit. Sementara itu, para ibu digilir memasak makanan jika ada pesanan dari pengunjung. Kebersihan lingkungan juga tetap dijaga dengan membuat jadwal bersih-bersih bareng satu kali dalam sepekan.
“Dari sekitar 400 warga dari 98 keluarga, tidak ada yang tidak terlihat dalam pengelolaan wisata Bukit Barede,” ujar Tambeng.
Dengan dibukanya Bukit Barede, para pemuda yang biasanya merantau untuk bekerja ke kota besar mulai mau tinggal di desa untuk membangun daerahnya. Apalagi, Tambeng berencana mengembangkan Bukit Barede agar dapat menampung lebih banyak pengunjung termasuk memperluas areal perkemahan.
Tambeng meyakini, jika tidak dikelola secara bijak, gemerlap pariwisata justru bakal melahirkan gegar budaya di antara warga yang puluhan tahun tetap hidup terbatas meski tinggal tak jauh dari destinasi wisata dunia. Harmoni mesti dijaga supaya warga tetap bisa maju tanpa meninggalkan jati dirinya.
Oleh : Gregorius Magnus Finesso
Sumber : Kompas 18 November 2017. Hal 16
