KAA-Mice-Warisan-Presiden.-Venue.No.95.-Mei-2015.Hal.50-51

Oleh: Dewa Gde Satrya, Dosen Internasional Hospitality & Tourism Business Universitas Ciputra, Auditor Hotel

 

Peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung di Jakarta dan Bandung pada 19-24 April 2015 telah berjalan sukses. Kesiapan event bergengsi ini dipantau sejak awal tahun ini oleh Presiden Jokowi. Tiga aspek penting perhelatan 60 tahun KAA – acara, logistik, dan pengamanan acara-yang dijadikan satu dengan 10 tahun New Asia Afrika Partnership Strategic (NAPS) menjadi kunci sukses Indonesia sebagai tuan rumah, disamping materi acara itu sendiri.

Event ini dimanfaatkan sebagai momentum untuk memperkuat peran dan keberadaan Indonesia di kawasan regional maupun internasional. Dengan tema Perkuatan Kerja Sama Negara Selatan-Selatan, melalui 60 tahun KAA Indonesia menggalang dukungan negara-negara Palestina.

Di sisi pariwisata, Menteri Pariwisata (Menpar), Arief Yahya, mengatakan, ada dua kegiatan utama dalam peringatan 60 tahun KAA 2015, yakni core event, dan side event. Kegiatan yang merupakan core event antara lain pertemuan tingkat pejabat senior atau senior official meeting (SOM), serta ministerial meeting dan lenders meeting. Pada pertemuan SOM, sejumlah kepala negara atau kepala pemerintahan di antaranya RRT, Pakistan, Bangladesh, Kamboja, Malaysia, serta sekitar 80 utusan dari negara peserta menghadiri konferensi ini.

Selain core event, kegiatan utama lainnya sebagai side event yang antara lain adalah promosi pariwisata, Asia Afrika Carnival, forum diskusi parlementer, pameran dan workshop Kerja Sama Selatan-Selatan Triangular (KSST), Indonesia Heritage.

Exhibition, Pameran Koleksi Dokumentasi KAA, New Asia Youth Conference 2015, Asia Africa Business Summit (AABS), Working Lunch SIDS, serta penampilan grup musik Slank.

Peristiwa bersejarah tersebut tak lepas dari peran dan jasa Bung Karno. Bung Karno memang memiliki nama besar di dunia pada masanya, ia berkiprah dalam berbagai pergaulan global. Kecerdasan Bung Karno tidak semata-mata jago lobi dan berbahasa asing, tetapi tepat melakukan positioning dan membangun sinergi dengan bangsa-bangsa di dunia.

Pada masa Bung Karno, Indonesia, sebagai negara baru, mutlak membutuhkan pergaulan global guna mendapat pengakuan yang sejajar di antara bangsa-bangsa. Pilihan Bung Karno melakukan “kinerja kebudayaan” untuk merangkul bangsa-bangsa dapat dilihat melalui eventevent internasional yang dilaksanakan di Indonesia, Ganefo, KTT Asia Afrika dan KTT Non Blok yang melegenda dan tertancap kuat dalam sejarah negara-negara kecil yang kontra dengan kekuatan blok barat merupakan warisan momumental presiden pertama negeri ini.

Model yang dikembangkan Bung Karno tampaknya juga ditiru oleh para penerusnya, mulai Pak Harto hingga SBY. Presiden keenam Indonesia ini dapat dikatakan yang paling rajin melakukan pertemuan internasional di Indonesia. Melalui kementrian terkait, di bawah kepemimpinan SBY telah terjadi ratusan pertemuan berskala internasional, baik pertemuan pemerintahan maupun bisnis.

MICE (meeting, incentics, conference, ecent and exhibition), kian berkibar pada masa SBY. Banyak meeting dan acara internasional yang menempatkan Indonesia sebagai tuan ruah. Dua di antaranya, Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Pasific Economy Cooperation (APEC) dengan tema Ketahanan Asia Pasifik sebagai Mesin Pendorong Pertumbuhan Ekonomi Dunia, dan ajang ratu kecantikan, Miss World.

Dari sisi infrastruktir, Bali, yang saat itu menjadi tuan rumah perbelatan, tersebut terus berbenah. Bandara, tol di atas permukaan laut, dan underpass di Bali dibangun menyertai perhelatan KTT APEC.

Selain Bali, kota-kota besar di Indonesia juga menjadi tuan rumah berbagai pertemuan APEC pada Oktober 2013. Selain event puncak, banyak acara dan pertemuan internasional di bidang musik, seni pertunjukan, ataupun seminar dengan substansi serius serta pertemuan tingkat menteri atau pejabat tingg yang dilakukan di seluruh Indonesia. Kota-kota tersebut adalah Lombok, Medan, Palembang, Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Manadi, Makassar, Semarang, dan Surabaya.

Lompatan pertumbuhan industri pariwisata di Indonesia memang semakin terasa sejak tahun 2011. Kala itu, Indonesia sebagai Ketua ASEAN, menjadi tuan rumah lebih dari 600 perhelatan internasional sepanjang tahun 2011-2013, penyelenggaraan East Asia, dan ASEAN Summit. Presiden SBY saat itu juga mengingatkan agar para menteri mencarikan tempat lokasi meeting selain Jakarta dan Bali untuk mengenalkan berbagai destinasi wisata Tanah Air kepada Dunia.

Penyelenggaraan event MICE, berskala internasional di Indonesia memperkuat positioning dan branding Indonesia sebagai tujuan wisata MICE tingkat dunia. Dalam pariwisata, MICE merupakan produk unggulan karena menghasilkan devisa dan pendapatan daerah lebih besar dibandingkan pengeluaran wisatawan biasa yang datang ke Indonesia. Wisatawan MICE pada umumnya mempunyai pengeluaran (spend of money) yang tinggi dan lama tinggal (length of stat) lebih panjang. Dengan demikian, secara keseluruhan, waktu dan pengeluaran mereka lebih besar. Dalam KTT UNFCCC di Bali beberapa tahun lalu misalnya, ada sejumlah kegiatan pendukung, baik berupa side event maupun puralled event.

KTT Asua Afrika bukan semata-mata ajang mengenang kepeloporan dan kepemimpinan Indonesia dalam pergaulan bangsa-bangsa di dunia. Selain warisan pencapaian pembangunan infrastruktur yang monumental, konferensi internasional juga menjadi model warisan yang prestisius pada setiap kepemimpinan di republik ini. Oleh karena itu, kepemimpinan Presiden Jokowi saat ini juga diharapkan mendorong kegiatan pertemuan internasional di Indonesia.

Sumber : Venue.8-Juli-2015.Hal.50