Kampus Latih Guru Entrepreneurship hingga Digitalisasi

10 November 2025

Untuk Tingkatkan Kompetensi dan Bekal Pengajar Berinovasi

SURABAYA-Kampus ikut berperan dalam meningkatkan kompetensi guru. Tenaga pendidik dilatih kewirausahaan hingga dike nalkan digitalisasi. Pelatihan itu diharapkan menjadi bekal bagi pengajar untuk berinovasi dalam membuat sistem pembelajaran yang mengikuti perkembangan kurikulum.

Pakai Dua Pendekatan

Koordinator Pengembangan Kurikulum Sekolah-Sekolah Kerjasama Universitas Ciputra (UC) Dwi Sunu W. Pebruanto mengatakan, setiap tahun, pihaknya melatih ratusan guru dari berbagai sekolah di Indonesia. Pelatihan itu dilakukan melalui dua pendekatan, yakni training untuk guru dan workshop untuk kepala sekolah. Para kepala sekolah diundang ke UC selama dua hari guna merancang inovasi manajemen sekolah. “Guru kami latih membuat rancangan pembelajaran yang lebih aktif dan mendalam,” jelasnya.

Sertifikasi Entrepreneur

UC juga tengah menyiapkan program sertifikasi guru entrepreneur. Program empat bulan itu diadakan secara daring, Guru yang mengajarkan proyek kewirausahaan di sekolah mendapatkan sertifikat resmi, Pengajar akan belajar mulai dari merancang hingga menjalankan proyek nyata. Prinsipnya bukan hanya teori, tapi bisa praktik di lapangan sesuai materi Yang diajarkan.

Profesionalisme Guru

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FKIP UWKS) berfokus pada peningkatan profesionalisme guru. Dekan FKIP UWKS Anik Kirana mengungkapkan, sejak 2018, UWKS menjadi salah satu dari 68 perguruan tinggi di Indonesia yang dipercaya mengelola Program Pendidikan Profesi Guru (PPG). “Melalui PPG, kami membantu pemerintah menyiap kan guru yang tidak hanya berkualifikasi akademik, tetapi juga memiliki sertifikat pendidik,” ujarnya.

Teknologi Digital

Selain PPG, FKIP UWKS juga rutin mengadakan pelatihan pembuatan media pembelajaran berbasis teknologi digital. Workshop itu berlangsung sekitar dua bulan dan diikuti oleh puluhan guru dari berbagai sekolah mitra di jatim. Materi yang diberikan menyesuaikan perkembangan kurikulum. “Setiap pelatihan diikuti sekitar 20 guru. Kami bergantian datang ke sekolah-sekolah, atau kadang mereka yang kami undang ke kampus.” jelas Anik. (omy/aph)