Kampus Skrining Mahasiswa dan Dosen untuk Cegah Gangguan Kesehatan Mental

13 Januari 2026

Kampus menyiapkan sistem pencegahan dini dan penanganan gangguan kesehatan mental. Di Unesa dan di Universitas Ciputra (UC) Surabaya, dosen dan mahasiswa wajib mengikuti skrining untuk mendeteksi jenis gangguan yang dialami. Pihak universitas juga menyediakan psikolong profesional untuk membantu penyembuhan.

Proses Asesmen

Di Unesa, penanganan kesehtan mentak dijalankan Direktorat Pencegahan dan Penanggulangan Isu Strategis (PPIS). Direktur PPIS Unesa Prof Dr Mutimmatul Faidah mengatakan, seluruh mahasiswa baru (maba) dan dosen mengikuti asesmen menggunakan instrumen Self Reporting Questionnare (SRQ-20). Hasilnya untuk memetakan tingkat kerentanan stress mahasiswa, dari ringan hingga berat.

Mahasiswa dengan kerentanan ringan dan sedang diarahkan mengikuti konselor sebaya serta kelas kesehatan mental berbasis komunitas. Sementara, yang kondisinya berat, mendapatkan pendampingan intensif, mulai konseling profesional, pemanggilan langsung, hingga home visit bila diperlukan. “Pendampingan tidak berhenti pada asesmen, tapi ada tindak lanjut sesuai tingkat risikonya,” kata Mutimmatul.

Masalah Dominan

Masalah yang paling dominan ditangani Unesa bukan persoalan akademik. Tantangan adaptas maba, persoalan keluarga, relasi sosial, hingga tekanan ekonomi, justru lebih sering muncul. Untuk menguatkan jangkauan layanan, PPIS bekerja sama dengan Fakultas Ilmu Pendidikan, serta membuka akses konseling bagi dosen dan tenaga kependidikan.

Sistem Mentoring

UC Surabaya menempatkan isu kesehatan mental sebagai bagian dari sistem pembinaan mahasiswa sejak awal. Skrining kondisi psikologis dilakukan secara online saat orientation week maba. Head of Student Welfare UC Stevany Livia Prajogo menyebut, hasil asesmen menjadi dasar pendampingan lanjuta selama masa studi. Pihak kampus menerapkan sistem mentoring wajib di mana dosen pembimbing dan mentor mahasiswa secara rutin memantau kondisi akademik dan psikologis maba. Salah satu sesi mentoring secara khusus mebahas kesehatan mental, adaptasi kampus, serta strategi menghadapi tekanan kuliah. Mahasiswa juga didorong aktif memanfaatkan layanan konselor sebaya.

Layanan Konseling

Untuk kasus yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, UC menyediakan layanan konseling profesional dengan menerjunkan psikolog kampus. Layanan itu dibuka felksibel dari Senin hingga Sabtu, termasuk sesi daring dan malam hari, “Kami ingin memastikan mahasiswa mudah mengakses bantuan tanpa rasa takut atau stigma,” ujar Stefany. (omy/aph)