Pendidikan resmi semuel laufa lebih bersentuhan dengan ekonomi. Dua tahap lanjutan setelah SD adalah SMEP dan SMEA. Program setahun pendidikan guru sekolah lanjutan pertama pun jurusan tata buku. Namun kiprahnya lebih sebagai budayawan. Bahkan disebut pula kamus hidup khusus aspek kebudayaan daerah kelahirannya, alor. Semuel laufa adalah warga kelahiran atoita desa waisika kecamatan alor timur laut kabupaten alor, nusa tenggara timur. Usianya dua versi. Riilnya 65 tahun atau 61 tahun berdasarkan catatan ijazah. “ya, kisahnya dulu itu hanya untuk memenuhi syarat usia agar bisa masuk sekolah” kenang semuel laufa yang akrab disapa sem tentang dua versi usianya itu, dikediamannya di kawasan oebobo kota kupang. Kamis(14/5). Menurut catatan kompas, leonard nahak yang kini kepala unit pelaksana teknis arkeologi,sejarah, dan nilai tradisional dinas pendidikan, pemuda dan olahraga NTT, merupakan pejabat pertama yang meyebut sem sebagai kamus hidup khusus untuk kebudayaan alor. “kalau mau belajar atau menulis berbagai hal tentang kebudayaan alor, narasumber andalnya sem laufa” tutur leonard nahak yang mantan kepala museum NTT di kupang. Rabu(13/5). Penyebutan itu tidak berlebihan. Salah satu contohnya, sem bisa secara detail dan mengalir mengisahkan asal usul moko atau nekara beserta maknanya bagi masyarakat alor. Kata dia, kisah tentang moko itu memang unik. Tidak ada orang alor sejak leluhur hingga sekarang pernah menjadi perajin moko. Namun, benda kuno mirip gendang yang terbuat dari perunggu, telah menjelma menjadi status social. Benda sacral hingga ikon alor. Hingga sekarang pula, keberadaan moko tidak tergantikan sebagai mas kawin atau mahar yang disebut belis oleh masyarakat setempat. Sem menyebutkan, moko pada awalnya masuk ke alor antara abad 18 dan 19. Kebetulan Karena alor dan sejumlah pulau disekitarnya merupakan bagian dari jalur pelayaran perdagangan internasional yang menghubungkan asia dengan kawasan samudra pasifik. Ada dua kelompok moko yang tersimpan dirumah warga di alor. Moko awal merupakan peninggalan zaman perundagian dari kebudayaan dongson. Lainnya kelompok moko berusaha lebih muda hasil karya perajin logam di gresik (jawa timur), awal abad 20. “moko susulan yang didatangkan dari gresik itu sebenarnya siasat politik colonial belanda guna memperkokoh posisinya di daerah jajahan baru” kata sem. Tidak hanya berkisah. Ayah empat anak itu juga meninggalkan pemahamannya tentang kebudayaan daerahnya dengan menulis buku. Dua karyanya itu masing masing berjudul mengenal obyek situs dan benda sejarah purbakala alor (2008) dan moko alor: bentuk, ragam hias dan nilai berdasarkan urutan (2009). Selain itu, sem selalu menjadi narasumber utama untuk penelitian ilmiah terkait kebudayaan alor. Oleh periset dalam negeri atau asing. Diantaranya penelitian antropologi budaya allor oleh Emilia,antropolog asal swedia (2013). Menyusul, penyusunan kamus bahasa kemang salah satu rumpun bahasa alor oleh antonetasaper asal belanda dan penulisan linguistic sastra daerah dalam upacara kematian di alor oleh oce langkameng lainnya. Editor buku: pembelajaran bahasa abui salah satu rumpun bahasa alor untuk mulok siswa kelas iv di alor,narasumber buuku:system pemerintahan tradisional alor, serta buku: moko dalam tatanan kehidupan masyarakat adat alor, karya made purna (2013). Dalam buku terakhir itu,sem bahkan disebutkan sebagai narasumber ahli.
Menentang saima
Leonard nahak dan sejumlah komunitas sehabitatnya dikupang menyebut sem juga sebagai budayawan alor. Begitu kuat minat sem terhadap kebudayaan daerahnya, tentu saja bukan karena pendidikan resminya yang jauh dari ranah budaya. Ternyata minatnya itu berawal dari kisah masa kecil hingga usia sekolah dasar di kampungnya,atoita. Ketika itu, ia sering diajak ayahnya karel falau (alm) menghadiri berbagai acara adat di kampong kampong sekitarnya. Tugas sem adalah menentang saima, wdah khusus berisi sirih pinang , seperti dipedesaan lain di ntt,tradisi makan sirih bagi masyarakat alor adalah bagian tidak terpisahkan dalam interaksi social termasuk mengawali berbagai ritual adat. “kisah masa lalu it uterus membekas kuat menjadi pendorong untuk semakin memahami bahkan mengawal berbagai kearifan local peninggalan leluhur” demikian sem mengakui. Selain sering menjadi penenteng saima, sem kecil sudah pandai menabuh perangkat gong dalam upacara adat. Disekolahnya, ia termasuk anggota kelompok music bumbu sebagai peniup kani, suling kecil untuk nada melodi. Meski pendidikan resminya tidak mendukung, ketika menjadi pegawai negeri sipil tahun 1976 ia ditempatkan dibagian kesenian kanwil depdikbud ntt dikupang. Selama berstatus pns hingga pension tahun 2010, sem terus bersentuhan dengan bidang kebudayaan. Termasuk jabatan terakhir sebagao kepala bidang sejarah dan kepurbakalaan dinas ppo alor. Sem sering terlibat dalam berbagai kegiatan berkesenian. Namun yang paling berkesan adalah ketika dirinya bersama sejawatnya djony thedeens memadukan pementasan music tradisi onal ntt dari jenis sasando,music bamboo dan perangkat gong. Pementasan yang berlangsung dihotel ina boi kupang tahun 1989 khusus memeriahkan penyambutan kunjungan mendikbud ketika itu,fuad Hassan. “kami sangat bangga karena bapak menteri ketika itu sampai turun dari podium untuk menyaksikan dari dekat pementasan music tradisional kami” kenangnya. Sem sudah lima tahun menjalani masa pension tetapi tetap menekuni minatnya termasuk menjadi narasumber berbagai penelitian kebudayaan alor. Ternyata semangatnya yang tak pernah pudar itu juga didorong kesaksiannya kalau kearifan local kini sedang terancam punah. Salah satu sumber penyebabnya adalah sikap kaum remaja beranggapan berbagai bentuk kebudayaan peninggalan leluhur mereka itu sesuatu yang kuno dan memalukan.
Sumber: Kompas, Kamis 21 Mei 2015

