DI Jalan Comedienplein Straat (Jalan Merak) yang saat ini digunakan sebagai gedung PTPN XI merupakan bangunan lawas yang dibangun dan difungsikan secara berbeda-beda di setiap bangunannya.

Pustakawan sejarah Chrisyandi Tri Kartika mengatakan, gedung tersebut pernah menjadi Gedung kesenian yang dulu digunakan sebagai tontonan orang-orang berduit di zaman pemerin- tahan Hindia Belanda. Namun seiring berjalannya waktu biaya operasional gedung tersebut membengkak, biaya pertunjukan tidak pernah cukup untuk operasional gedung.

“Pemasukan berkurang berefek pada pemeliharaan gedung, perawatan alat, pembuatan dekorasi dan lampu sehingga tidak bisa mengikuti teknologi pertunjukan dengan per- kembangan zaman dunia yang pesat dan pada tahun 1923 gedung dibongkar” kata Chrisyandi.

Ia menjelaskan, bangunan ini awalnya bernama Handelsvereeniging Amsterdam (HVA). Asosiasi Pedagang Amsterdam merupakan perusahaan asal Belanda yang didirikan sejak 1879 di Amsterdam bergerak di bidang impor hasil pertanian serta budidaya tebu, kopi dan singkong. Tak hanya di Surabaya, HVA juga memiliki puluhan perusahaan di Hindia Belanda. Sedangkan yang di Surabaya bertugas mengontrol produksi-gula di wilayah” Jatim. “Jadi banguman ini mengal: berkali-kali. Sebelum dibongkar bangunan gedung tersebut masih dipegang oleh Bouman, kepala Dunlop & Co,” jelasnya. bungan antara Perkebunan Nusantara XXIV-XKV dan PT Perkebunan XX (Persero) menjadi PTPN XI. “Ge- dung tersebut (HVA) juga pernah menjadi Markas Komando Tobu-Jawa Bo-etai. Markas Comando Militer Djawa Timur (XMDT) Dr. Moestopo, “Tempat perundingan antara Mallaby dengan Dr. Moestopo (ke-2),” kata Chrisyandi.

Saat Indonesia sudah merdeka dan diakui oleh Belanda tahun 1958, berganti nama menjadi gedung PPN. (State Plantation Com- pany). Tahun 1972, menjadi PT. Perkebunan, kemudian tahun 1994 ada penggabungan antara PT. Perkebunan Nusantara XXIV-XXV dan PT Perkebunan XX (Persero) menjadi PTPN XI. (rmt/nur)

 

Sumber: Radar Surabaya. 23 Desember 2021. Hal. 6-7