12 Februari 2016. Perry Tristianto tentang Pentingnya Inovasi_Karena Bisnis Ada Masanya. Jawa Pos. 12 Februari 2016. Hal.1,15

Peluang bisnis gaya hidup terbukti tidak pernah pudar. Bidang usaha itu cenderung lebih tahan guncangan ekonomi.

PERNAH menyandang predikat raja factory outlet (FO) sejak 1995 membuat Perry Tristianto tetap optimis dalam memandang bisnisnya. “Bagi saya, yang berkaitan dengan  fashion, wisata, dan makanan tidak pernah mati. Indonesia itu pasar yang sangat meriah,” tutur Perry kepada Bandung Ekspres (Jawa Pos Group) di kediamannya Jumat lalu (5/2).

Optimisme itu tidak berlebihan. Sebab, kebutuhan akan makanan, pakaian, dan hiburan bakal terus ada dalam masa ekonomi yang bergairah maupun suram. “Bergantung dari cara orang menjualnya. Dengan kata lain, perlu inovasi untuk lebih besar daripada sekadar survive dari ketatnya persaingan,” kata pemilik Big Price Cut tersebut.

Bagi dia, kondisi saat ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan resesi ekonomi pada 1997-1998. Buktinya, saat ini masih banyak yang bisa membeli mobil dan barang mewah lain.

“Lebih berat mana? Saya pikir, kondisi saat ini tidak terlalu mengkhawatirkan,” ujarnya.

Meski memang ada beberapa yang kemudian gulung tikar, lanjut dia, tidak sedikit juga yang kemudian bisa untung.

Bagi Perry, daya tahan pengusaha diuji oleh ketatnya persaingan, juga kondisi ekonomi. Termasuk saat ini. Karena itu, dia selalu berusaha mencari peluang bisnis yang lebih tahan fluktuasi. “Ketika ujian bertambah berat, dorongan untuk berinovasi itu lebih penting,” ujar pemilik lokasi wisata Farm House, Floating Market, Rumah Sosis, De’ Ranch, hingga Tahu Susu Lembang itu.

Perry mencontohkan jejak langkahnya dalam meniti karir. Itu merupakan salah satu contoh bagaimana inovasi dijunjung. Dia memulai usaha FO dari pedagang kaki lima (PKL).

Pada 1998, dia menjadi satu-satunya penjual kaus yang mengedankan ilustrasi musik jazz. Ide itu muncul setelah dia memutuskan untuk resign dari satu produksi rekaman. Setelah tiga tahun berjualan di pinggir jalan, dia kemudian bisa membeli dan mengontrak beberapa lokasi yang berbeda. Hingga akhirnya dia menjadi pendobrak bisnis FO pada 1995 dengan bendera Big Price Cut.

Dia mengatakan, saat ini sebagian orang mulai malas berbelanja langsung di toko. Apalagi, sudah banyak pedangan online. “Ini berarti kita harus menciptakan pasar. Bila perlu, di aptek pun bisa dimasuki untuk jualan kaus,” papar ayah dua anak itu.

Target pasar juga penting untuk mengetahui kemampuan bisnis dan kejelian melihat beragam peluang seseorang. Ketika satu target terlampaui, dia selalu membuat target lain.

“Dia yang pasti, juga menyesuaikan dengan tren saat ini. Dulu konsumen yang datang cukup disapa, ‘Silakan, Pak atau Bu, ada yang bisa dibantu?’ Tapi, sekarang tidak,” ucap dia sambil melambaikan tangan dan mengernyitkan dahi.

“Kelas anak muda, mungkin konsumen dipanggil kakak. Kelas distro, bisa jadi bro atau sis. Hal itu membuat konsumen lebih nyaman karena merasa tidak ada sekar usia,” urainya.

Begitu pun ketika Indonesia menjadi bagian dari Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Regulasi yang sudah ada bagi dia tidak bisa diubah. Yang harus diubah adalah cara pandang masyarakat Indonesia dalam mempekerjakan atau membeli produk dalam negeri.

Ketika produk masal dari Tiongkok bermunculan di tanah air, papar dia, banyak yang sangat murah. Dengan demikian, yang perlu dipahami adalah kualitasnya. “Sebab , produk Tiongkok yang level nomor satu juga sama mahalnya. Kalau jaket kulit Tiongkok Rp 2 jutaan, toh di Garut harganya yang mulai dari Rp 500-an ribu sudah ada yang bagus,” selorohnya.

Kemudian, dari sisi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Cara pandang pengusaha lokal kerap terpentok dengan produk itu-itu saja dan tidak memanfaatkan momen. Alasannya, mempertahankan ciri khas.

“Contoh, sekarang Februari, ada Imlek atau Valentine lah kalau anak muda. Kenapa pengusaha payung Tasikmalaya tidak membuat payung bernuansa merah dengan motif naga (liong, Red) atau kelom (sandal khas Tasikmalaya, Red) yang juga ikut menyemarakkan momen Imlek?” ucap dia.

Berhasil di bidang fashion, pria pria lulusan Stanford College, Singapura, itu juga mengembangkan bisnis wisata. Sektor itu jugalah yang membuat dia menjadi pengusaha yang menguasai kawasan Bandung utara dan selatan.

Kenapa lantas menjalani haluan lain, suami Elen Berkah itu mengatakan, masa keemasan FO mulai pudar. Sebab, setiap lini bisnis ada masanya. Bukan karena dahsyatnya gempuran toko online, melainkan lebih dipengaruhi tren kebiasaan multitasking. Berarti, bagaimana caranya menangkap peluang itu sehingga menjadi gurih dari sisi bisnis?

“Orang Jakarta datang ke Bandung cari apa? Pasti udara yang segar, suasana, dan kultur. Saya menangkap peluang itu. Dengan berbagai macam konsep yang mengutamakan kultur budaya Sunda,” beber pria kelahiran 22 Februari 1960 itu. (rie/JPG/c11/sof)

 

Jawa Pos 12 Februari 2016

UC Lib-Collect