Mendengar nama Poso, Sulawesi Tengah, bayangan teror sontak menyeruak di benak orang banyak.  Maklum, Poso telanjur dicap sebagai daerah konflik.  Karman Karim (59) mencoba menepis kesan seram itu dengan membangun mal di Poso.  la merangkul pelaku usaha kecil, menengah, dan besar untuk bersama-sama memutar sekaligus menyampaikan pesan bahwa Poso kini aman dan menyimpan harapan.

Sudah hampir mendekati Poso City Mall yang dibangun Karman bangunan tersebut nenampung ber- OLEH VIDELIS JEMALI Karim berangkat.  Inilah sa- tu-satunya bangunan perniagaan mo- dern di pusat Kabupaten Foso, Su- lawesi Tengah.  Berdiri tiga lantai, lapis-lapis strata pedagang, mulai pe- laku usaha kecil dan menengah (UKM) lokal sampai pedagang besar berjejaring nasional.  Pedagang UKM lolcal Inggris ke lantai satu.  Mereka menjual berbogai jenis barang, mulai aksesori kokal, pakaian, hingga ma- kanan.

Dengan menggairahkan ekonomi di Poso, kami akan mengirim pesan kepada dunii bahwa negeri ini aman-aman saja Mari bersama-mutar perekonomian Poso khusus- nya, dan Sulteng pada umumnya, ujar Karman di Palu, Sulten, Rabu (5/7).

Pada saat pembangunan mal itu siden Jusuf Kalla mampir dengan pengawalan yang ketat.  Sempat muncul keraguan akan keberlangsungan bis- nis tersebut.  Naman, bagi Karman, pertengahan tahun lalu, Wakil Prekunjungan itu sangat berarti.  Itu ben- tuk dukungan dalam rangka memupus citra buruk Poso sekaligus meng- gerakkan roda perekoomian masya- rakat.

Tak lama setelah kunjungan Wakil Presiden, Utusan dari Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia mengecek pembangunan pusat belanja itu.  Utusan negara adidaya itu bingung ternyata Poso telah aman dan tidak ada tentara.  la memberi pujinn sekaligus dukungan kepada Karman.

Meski banyak orang mengangap- nya pengusaha “gila” karena berani membangun mal di Poso, nyatanya usaha Karman aman-aman saja.  Tak ada hambatan berarti seperti yang dibayangkan banyak orang Aktivitas perdagangan di mal yang terletak di pinggir kota itu berjalan normal.  Bah- kan, ia ingin menyemarakkannya lagi dengan membangun hotel di kawasan pusat.  Gambaran suram keamanan di Poso, dengan keber- adaan kelompok teroris yang saat ini terus diburu aparat Polri / TNI di da- lam hutan, tak tampak di pusat belanjaan itu.

Belanjaan moder ketiga yang di- bangun Karman di Sulteng Sebe- Mal di Poso merupakan pusat per- Jumnya ada Mal Tatura dan Palu Grand Mall (PGM) di Palu, ibu kota Sulteng, Mal Tatura beroperasi sejak 2006 dan PGM mulai dibuka per- tengahan 2015  Di PGM, warga Palu dan sekitarnya bisa menikmati film di bioskop.

Di luar pakem Tiga pusat yang modern yang dikembangkan dari Arie Yulianti (58) itu bekerja di luar pakem bisnis Pedagang lokal dang- sung dilakukan oleh bagian strategis, ya- itu area masuk-keluarnya pengun- jung Di Mal Tatura, belasan perusahaan dagang lokal  berjejer di pintu masuk.  Ada yang menjual berbagai jenis hingga pakaian.  numan, es krim, kacamata, mainan, Pemandangan sama tersaji di PGM.

Pedagang lolcal berasumsi ge- rai di lantai dasar, bagian yang berkepentingan berhubungan langsung dengan pengunjung.  Di sana, ada penjual balk- so, berbagai sajian makanan, pakaian, aksesori, dan sepatu.  Di lantai dasar, hiruk-pikuk pedagang dan pembeli layaknya di pasar tradisional.

Pelaku usaha kecil dan menengah yang berdagang di ketiga mal tersebut dapat dikatakan tidak kurang dari 200 orang dengan rata-rata menurut dua karyawan per tempat usaha.  Jumlah tenaga kerja yang terserap lebih ba nyak lagi jika dihitung dengan dagang besar berjejaring nasional.

Dari segi bisnis, penempatan pe- dagang lokal dengan berbagai kawasan dikelola pusat modern.  Mangan itu tak lazim dilakukan pe- Penempatan itu thembuat pusat yang modern terlihat “norak”.  TAPI, Karman tidak peduli.

Tetapi, ini perlu dilakukan untuk “Bagian ini saya sebut taruhanuhan karena selalu menimbulkan kerugian. merebut pasar, “ucap Karman yang memberikan kesempatan kepada pe- laku usaha kecil dan menengah lokal scbelumnya menekuni profesi advokat.

Bagi Karman, memberi ruang bagi pelaku UKM di pusat dibebaskan adalah wujud sinergi dalam keber- langsungan ekonomi.  Pedagang kecil dengan varian produk yang relatif murah bisa berdampingan dengan pelaku usaha besar.  Keduanya punya segmen pasar terpisah.             “Dengan pemikiran pemikiran seperti itu, kami, pelaku UKM. Bahkan, kami memberikan orang miskin yang lebih besar kepada mereka,” ujar kakek empat cucu ini.

Dengan deberi ruang, pelaku UKM bisa berkembang.  Sebagian harapan itu terpenuhi meski tak semuanya mencapai titik ideal tersebut.  Dari pengalaman selama ini, masalah tahanan pelaku UKM masih menjadi tantangan.

Selain memberikan keringanan bi- aya sewa ruang.  Karman bersama versitas di Palu juga tengah memgkaji dengan tim ekonomi sebuah uni- strategi pelaku UKM di pusat pembatasan modern.  Kajian itu bertujuan agar pelaku UKM menjadi pedagang besar se- hingga UKM lain yang bisa tumbuh.

Memperjuangkan nilai

Pengutamaan pelaku UKM melakukan aktivitas Karman membuat bisnisnya merugi.  Namun, ia tak patah arang Ia teguh prinsip bahwa dengan jalan itu justru banyak orang yang terbantu  secara ekonomi.

la punya pengalaman berharga.  “menyembuhkan” kesalahan mana- jemen Mal Tatura.  Setahun setelah mal dengan saham dari Ped merintah Kota Palu itu bekerja, ia ditugaskan menjadi direktur utama Saat itu, mal sedang “sakit” parah dengan utang Rp 57 miliar.  Setelah empat tahun, utang tersebut lunas.  Suat itu pula putat ter sebut mereguk keuntungan.

Karman tidak memandang peng- utamaan terhadap pelaku UKM lokal sehagai alibi atas kerugian bisnis Ia justru berpendirian, dengan nilai kehidupan yang melebihi uang yang didapat.

Hal itu pula yang terkait saat membangun pusat bisnis yang membeli lahan warga untuk PGM dan Poso City Mall dengan harga hampir dua kali lipat dari harga pasar.  Bahkan, pemilik lahan yang nilai harga jual tanahnya dihitung sebagai saham perusahaan.

Karman adalah contoh pelaku kejahatan yang melampaui pakem bisnis.  la meyakini ada nilai-nilai yang layak diperjuangkan di balik bisnis yang selama ini identik dengan keuntungan besar.

 

Sumber: Kompas, 14 Juli 2017. Hal 16