Di tangan para desainer muda Jurusan Fashion Design and Business (FDB) Universitas Ciputra Surabaya, produk fashion tak hanya elok. Di balik produk mereka, ada proses yang inovatif serta mempertahankan kultur lokal.

            JUMAT malam (14/2) waktu setempat (kemarin pagi, WIB), tujuh mahasiswi angkatan 2016 memamerkan karya mereka di runway Couture Fashion Week New York 2020 di 4W43 Building, Manhattan, New York, AS. Sebenarnya ada 12 mahasiswi yang terpillih untuk memamerkan karyanya. Sayangnya, lima orang berhalangan hadir. Tetapi karya mereka tetap diperagakan bersama karya tujuh mahasiswi yang datang ke New York.

Desainer yang usianya berkirsar 21-23 tahun itu menampilkan koleksi ready-to-wear sebagai tugas akhir perkuliahan. Pada karya tersebut, menurut Martini Yunika Tanzil, dosen pendamping, ada tren gaya Fall/Winter 2020. Segar dan ringkas, menyesuaikan style anak muda.

Selain mengangkat isu ramah lingkungan, aspek budaya tak ditinggalkan. “Mereka menggandeng perajin lokal, kemudian membawa budaya Indonesia itu ke level internasional,” kata Yoanita Tahalele, dosen pendamping yang lain.

Sebelumnya, pada Rabu (12/2) waktu setempat, para desainer itu memamerkan karya mereka di Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KIRI) New York. “Ini menunjukkan desainer muda Indonesia bisa memberikan sesuatu ke fashion global,” puji konjen RI Arifi Saiman (*/c7/nda)

MELINDA CAROLINE

Pada koleksi bertajuk Caviar, yang berarti perubahan dalam bahasa Cataian, terpadu apik dengan kain perca bahan duchess satin dan velvet. Mahasiswi asal Tarakan itu mengaplikasikan desain shio (zodiak Tiongkok) dari kain perca ke busananya dengan teknik patchwork.

TABITA CITRA TARASASCHIA

Tata, sapaannya, mengangkat kain unik warna sky blue dan krem dalam desain resort wear. “Aku mau ngenalin kain lurik ke internasional.” ujarnya.

IVONA MARIA TANLAIN

Mahasiswi asal Maluku itu mengangkat kain khas daerahnya, tenun asal Kepulauan Tanimbar. Ivona mengkreasikan motif garis pada kain tenun yang terlihat diagonal. Hasilnya resort wear yang menawan.

DIANITA RATNASARI

Busananya memadukan denim dengan dekorasi kain motif kawung dan burung phoenix. Koleksi dian menunjukkan streeetwear yang simple. “Jins dekat dengan anak muda. Batik kawung juga cukup popular. Nah, phoenix itu symbol semangat, cocok buat anak muda,” jelas perempuan asal Surabaya tersebut.

KARTIKA EDHYTYA CLAREISYA & AJENG NURILLAH WIBOWO

Kartika merilis menswear bertema Wokomono-Tachi. Menggunakan kain denim sisa, mahasiswi asal Bandung itu membuat outerwear dengan model oversized. Sebagai aplikasi, Kartika menambahkan sashiko atau sulaman khas Jepang. Ajeng merilis koleksi cat eye. Frame dan tangkainya dibuat dari tutup botol bekas yang dilelehkan dan dibentuk dengan proses molding.

ANGELYNN GIANINA ALEXANDRA

Koleksi Hangrungkebi memiliki Angie, sapaannya, terlihat colorful. Mahasiswi 21 tahun itu merilis koleksi resort wear dengan cutting beragam. Tone warnanya pastel “Aku pakai batik dengan bahan tanaman bakau. Warna yang dihasilkan memang lebih ke pastel,” terangnya.

FIRLIANA FEBRIANGGI

Kesan yang muncul saat melihat model mengenakan karya Firliana adalah edgy casual. Dia menggunakan kain denim sisa, lantas mengolahnya dengan teknik patchwork dan layering. Hasilnya, busana denim dengan aksen garis.

DEVINA GUNAWAN

Karya Devina akan menghemat pengeluaran si penghobi belanja. Koleksinya merupakan busana yang bisa dipakai dalam dua gaya. Bisa untuk event formal maupun acara santai.

MARIA CINDY VALERIA & RANI PUSPITA SETIAWAN

Merilis koleksi resort wear, Maria memilih busana ringan yang diproduksi dengan perwarna alami. Sementara itu, Rani mengolah banner bekas menjadi tes. Potongan banner disusun, lantas disatukan dengan teknik interlocking.