SELAIN pergudangan, di Jalan Pesapen terdapat pe rusahaan yang bergerak di bidang usaha minuman se perti anggur Ban Tjin Tong. Ren Ay & Co., di Jalan Pesapen Kali Nomor 4, perusahaan kertas karton Soem di Jalan Pesapen Tengah Nomor 47, dan kantor jasa pengangkutan.

Selain itu, pemerhati sejarah dan pustakawan Universitas Ciputra (UC) Su rabaya Chrisyandi Tri Kar tika menjelaskan, di sana juga terdapat pabrik mie tertua, tepatnya di Jalan Pesapen Selatan. “Menurut informasi dari beberapa se sepuh memang ada. Di sa na (Pesapen) sudah berdiri sekitar tahun 1948,” kata Chrisyandi kepada Radar Surabaya.

Hingga kini dirinya belum tahu berapa jumlah pabrik yang masih beroperasi hingga sekarang. Begitu pula dengan pabrik mie tersebut. “Nah itu belum tahu pasti apakah masih ada pabrik mie lainnya selain di Jalan Pesapen Selatan,” jelasnya.

Menurut literatur lain, pabrik mie tersebut merupakan milik seorang keturuan Tionghoa bernama Subiyanto Djayawikarta. Di pabrik mie tersebut juga memperkerja- kan penduduk sekitar setiap kali memproduksi mie. Hingga saat ini pabrik mie tersebut diteruskan oleh keluarga Subiyanto. “Ini (pabrik mie) perusaha an keluarga, sekarang anaknya yang menjalankan. Pekerjanya juga sangat royal, bahkan ada yang kerja dari awal pabrik itu dibuka hingga pension,” imbuhnya.

Letak kawasan yang strategis memang menjadikan kawasan ini tak hanya se bagai kawasan perdagang dan pergudangan yang berdiri di sana, tetapi juga pabrik karena lokasi yang mudah dicapai, apalagi untuk pengirian komoditas dan bahan baku. (bersambung/nur)

Sumber: Radar Surabaya. 15 Juli 2021. Hal. 3