
Oleh : I Dewa Gde Satrya (Penulis, Dosen Hotel & Tourism Business, Fakultas Pariwisata, Universitas Ciputra Surabaya, meneliti Etos Dagang Jawa-Mataraman)
Hari kasih sayang yang dirayakan di seluruh dunia, berawal dari kisah hidup seorang biarawan Katolik yang wafat menjadi martir. Dia dihukum mati oleh Kaisar Claudius II karena menentang peraturan yang melarang pemuda Romawi menjalin hubungan cinta dan menikah karena mereka akan dikirim ke medan perang. Ia meninggal pada 14 Februari 269. Valentine dimakamkan di Gereja Praksedes Roma. Pada tahun 496, Paus Gelasius I menyatakan 14 Februari sebagai hari peringatan Santo Valentine.
Valentine’s Day sepantasnya tidak terbatas pada ungkapan-ungkapan kasih sayang, tema-tema dan nuansa romantis, dan lain sejenisnya. Sebab terkesan selama ini momen ini “bercita rasa Barat”, krisis makna dan mengalami keterbatasan daya semangatnya. Ada sisi lain dimana kasih sayang itu diterjemahkan di tengah kegelisahan sosial, menyangkut problem kehidupan bersama.
Momen Valentine’s Day perlu didaratkan dengan contoh penerapannya dalam lonteks lokal. Adalah komunitas Jawa Mataraman, yang memiliki kekhasan praktek hidup mencintai profesi, keluarga, dan khususnya memuliakan kebaikan. Tanpa mengultuskan subtenik Jawa ini, namun kekhasan hidup komunitas Mataraman tampaknya menarik untuk dikaitkan dengan perayaan Valentine’s Day yang dewasa ini krisis makna. Rasa ikut memiliki, ikut bertanggung jawab, dan mawas diri terhadap hal apa pun dikeseharian, hemat penulis adalah esensi yang semakin terlepas dari penerjemahan Valentine’s Day era modern ini. Kebiasaan menjaga tradisi 3dharma itu, yang paralel dengan semangat Valentine’s Day, masih dijumpai di kalangan tetua komunitas Jawa Mataraman. Buah dari penerapan nilai kebajikan tersebut, yang secara intensif ditanamkan lewat pendidikan keluarga generasi Mataraman terdahulu, kualitas hidup keturunan Mataraman cenderung memiliki citra positif. Di antaranya, tidak bercerai, jujur – dibeberapa organisasi keturunan Mataraman dipercaya sebagai bendahara, tidak berutang, citra hidup guyub, unggah-ungguh yang kental dalam berelasi (berpendidikan tinggi dan berprestasi secara akademik).
Komunitas Jawa Mataraman memiliki pengalaman dalam memimpin, mulai ranah sosial yang kecil hingga ranah kehidupan bernegara. Mulai era Bung Karno (Blitar dan Bali), SBY (Pacitan), dan Boediono (Blitar), hingga Jokowi (Solo), komunitas Mataraman menduduki posisi terhormat di masyarakat dan bangsa. Kepemimpinan komunitas Mataraman hanyalah salah satu contoh betapa kebudayaan Jawa dan sub-sub kebudayaannya yang mayoritas berada di Jawa Timur bagian Selatan, layak menjadi isnpirasi bagi perjalanan hidup bangsa ini.
Di sisi lain, komunitas Mataraman cenderung dikenal eksklusif. Pada awalnya tempat hunian komunitasini berkumpul di satu atau beberapa lokasi. Kalau berada di satu lokasi, masyarakat umum menyebut sebagai kampung Mataraman. Di tempat tinggal komunitas Mataraman di Blitar dan Tulungagung, misalnya, dijumpai rumah peninggalan khas dan pusaka Mataraman, seperti tomba, payung, keris. Secara umum, arsitektur rumah mencontoh rumah tinggal di Kotagede, Yogyakarta, dan Surakarta. Ciri-ciri rumahnya dikenali melalui tata letak ruang, pintu, jendela cat, dan hiasan/interior rumah.
Rumah mereka umumnya sderhana tidak mewah, kebersihan rumah selalu dijaga, dinding rumah ditempeli hiasan-hiasan yang khas termasuk foto-foto para pinisepuh yang merupakan pendahulu merekayang mengenakan pakaian kebesaran adat berupa blangkon serta beskap model Ngayogyakarta. Karakteristik budaya Mataraman selain dideteksi lewat arsitektural tempat tinggal juga dapat dideteksi lewat cara berpakaian (busana tradisional), bahasa yang digunakan (cenderung halus), makanan khas (cenderung manis), cenderung indogam (menikah dengan sesama Mataraman), dan egaliter.
Komunitas Mataraman memahami kodrat manusia tidak bisa dijadikan satu, memang harus berbeda. Jadikanlah sebuah perbedaan menjadi sebuah kekuatan, bukan perpecahan. Nilai luhur yang diterapkan dikeseharian itu merupakan bentuk penghormatan terhadap fakta pluralits masyarakat Indonesia. Kiranya, inspirasi nasihat Pangeran Sumber Nyawa amat kuat pengaruhnya. Kiranya semangat melokalkan pengaruh Barat seperti perayaan Valentine’s Day dengan mengambil contoh nilai hidup Jawa ini menjadi penting untuk mencari relevansi dan kontekstual di kehidupan saat ini. Lebih-lebih, agar tidak terlepas denga jati diri keindonesiaan kita, tanpa memandang jawa atau non-Jawa. Selamat hari Valentine.
sumber: Bali Post. 16 Februari 2019.Hal.6.
