Kecap yang Memandirikan.Kompas.25 Maret 2017.Hal.20

Setelah 18 tahun bekerja sebagai penjahit di tempat usaha konfeksi, Musriati (52) akhirnya banting setir merintis usaha kecap hitam manis dan kecap hitam pedas.

Bermodalkan pelatihan membuat kecap selama dua hari pada 2012 silam, produk olahannya berhasil membuat sejumlah warga Surabaya, Jawa Timur, kepincut.

Produk berbahan kedelai yang dinamakan “Kecap Dewi-Dewi” itu ditawarkan dengan harga Rp 7.000-Rp 20.000 per botol. Namun, harga itu bisa berubah-ubah mengikuti perkembangan harga pasaran bahan-bahan dasarnya, seperti gula merah, garam, serai, dan bawang putih.

“Saya ingin kecap olahan saya dijual dengan harga terjangkau agar bisa dinikmati semua kalangan. Kecap ini saya olah tanpa pengawet sehingga baik bagi pelanggan,” ujar Musriati di rumahnya, di Kelurahan Sukuh Sutorejo, Kecamatan Mulyorejo, Surabaya, beberapa waktu lalu.

Ketertariannya mengolah kedelai menjadi kecap hitam manis tumbuh tanpa sengaja. Setelah keluar dari tempat usaha konfeksi pada 2008, dia berkeinginan meraih pemasukan dengan usaha yang didirikan secara mandiri. Oleh karena itu, dia rajin mengikuti berbagai pelatihan mulai dari pelatihan seperti potong rambut dan obras. Namun, hasil pelatihan itu tidak memberi penhasilan yan cukup karena pelangganny sebatas kerabat terdekat.

Pada 2012, ibu dua anak ini menerima tawaran mengikuti pelatihan dari Badan keswadayaan Masyarakat Surabaya. Dari berbagai pilihan, hat Musriati tertabat pada pelatihan membuat kecap. Dalam pandangannya, belum banyak orang yang mengembangkan usaha itu. Musriati punn tertantang.

Dengan modal awal Rp 3 juta, dia membeli peralatan, seperti panci, kompor gas, serta mesin penutup botol untuk menunjang usahanya. Kendati pelatihan hanya berlansung singkat selama dua hari, Musriati gh mencari komposisi bahan yang benar untuk menghasilkan kekentalan yang pas di lidah pembelinya.

Sejak memulai usahanya, perempuan kelahiran Surabaya itu tidak pernah melewatkan kesempatan mengikuti pameran usaha kecil ddan menengah (UKM) untuk mempromosikan satu-satunya produk yang dia hasilkan saat itu, yakni kecap manis. Musriati juga membuka diri menerima masukan dari pengunjung pameran terkait produk barunya, sehingga dia bisa terus-menerus memperbaiki mutu produknya.

Meskipun rutin mengikuti pameran, di awal usahanya, Musriati hanya membuukan penjualan 10 botol kecap hitam manis isi 600 mililiter dalam sebulan. Dua tahun kemudian, yakni pada 2014, Musriati mulai menerima pesanan secara reguler.

Pada tahun itu juga, Kecap Dewi-Dewi terpilih menjadi produk unggulan Kecamatan Mulyorejo. “Saya berpikir harus berinovasi untuk menarik lebih banyak pembeli. Akhirnya saya buat kecap hitam pedas,” tuturnya.

Kini, dia menerima pesanan hingga 30 botol kecap isi 600 mililiter dan 60 botol isi 200 mililiter. Sejak produknya mulai dikenal, pelanggan selalu datang ke rumah Musriati untuk mengambil langsung kecap pesanan mereka. Pelanggan Kecap Dewi-Dewi datang dari berbagai kalangan, seperti pemilik warung bakso, pemilik warung makan, pegawai negeri sipil, hingga dokter.

Selain di rumahnya, kecap manis dan pedas itu bisa diperoleh di Kantor Balai Kota Surabaya dan Kantor Badan Pemberdayaan Masyarakat Surabaya.

 

Kampung kecap

Sebenarnya, ada 24 orang lagi, selain Musriati, yang mengikuti pelatihan pada 2012 itu. Namun, kini hanya Musriati yang melanjutkan usaha kecap manis dan pedas. Usaha rekan-rekan Musriati yang satu angkatan pelatihan, tumbang satu per satu. Mereka memutuskan berhenti dan tak lagi melanjutkan usaha pembuatan kecap karena proses produksinya yang panjang.

“Dibutuhkan waktu 5 jam untuk mengolah kedelai dan bahan-bahan lainnya hingga akhirnya menjadi kecap,” kata Musriati.

Setelah menerima lebih banyak pesanan, kini Musriati berupaya melatih tiga tetangganya. Harapannya mereka juga bisa memperoleh penghasilan secara mandiri. Namun, lagi-lagi, ketiga tetangganya tidak melanjutkan pelatihan karena proses produksi yang memakan waktu itu.

Namun, Musriati bertekad menumbuhkan minat para perempuan di kawasan tempat tinggalnya untuk turut membuat kecap. “Harapannya desa tempat saya tinggal bisa menjadi kampung kecap” ujarnya.

Sumber: Kompas 25 Maret 2017