Keluarga, Akademik, dan Asmara Pemicu Gangguan Mental Health

26 Maret 2025

Kampus Sediakan Layanan Pendampingan

SURABAYA – Kepedulian perguruan tinggi akan kesehatan mental makin tinggi. Sebagai bentuk penanganan mental health, kampus membuka layanan konseling. Di kalangan mahasiswa, faktor keluarga, akademik, dan asmara bisa menjadi pemicu gangguan kesehatan mental.

Ketua Program Studi Magister Psikologi Sains dan Academic Advisor Universitas Surabaya (Ubaya) Mary Philia Elisabeth mengatakan, masalah kesehatan mental yang ditangani dipicu beberapa faktor. Di antaranya keluarga, akademik, dan hubungan pasangan yang tidak baik atau asmara. “Temuan seperti melukai diri sendiri juga ada,” ucapnya kemarin (25/3).

Menurut Mary, masalah kesehatan mental rentan dialami oleh generasi Z atau gen Z. Karena itu, anak muda melakukan hal yang lebih ekstrem. “Kami membuka konsultasi bahkan sampai layanan home visit bagi yang dinilai perlu,” paparnya. Universitas Negreri Surabaya (Unesa) juga membuka layanan kesehatan mental. Wujudnya beragram, Subdirektorat Mitigasi Crisis Center (SMCC), misalnya. Selain itu, Fakultas Psikologi Unesa memiliki layanan pendampingan secara terbuka.

Dekan Fakultas Psikologi Unesa Diana Rahmasari mengungkapkan, pihaknya berkoordinasi dengan SMCC untuk menangani kasus kesehatan mental. Dalam implementasinya, dia melibatkan psikolog dari RSUD dr Soetomo. Itu untuk pasien yang membutuhkan obat. “Lanjut dirujuk ke dr Soetomo,” jelasnya. (omy/aph)

Sebulan, 20 Mahasiswa Konseling Kesehatan Mental

LAYANAN kesehatan mental di sejumlah kampus di Surabaya Barat berjalan optimal. Mahasiswa memanfaatkan program tersebut. Dalam sebulan, ada sekitar 10-20 mahasiswa yang mengikuti konseling.

Student Welfare Section Head Universitas Ciputra (UC) Stefany Livia Prajogo mengatakan, konseling yang diberikan bukan hanya soal mental, tapi juga karir. Dalam sebulan setidaknya ada 10-20 mahasiswa yang mengikuti program tersebut. “Jumlahnya hampir sama antara yang konseling karir dan kesehatan mental,” ucapnya.

Menurut Stefany, pemicu masalah kesehatan mental mayoritas dari eksternal. Misalnya dari keluarga, urusan asmara, serta akademik. “Sebagian besar, mereka membutuhkan teman untuk tempat berkeluh kesah,” paparnya.

Unesa juga membuka layanan konseling Sebaya. Mahasiswa ikut dilibatkan dalam memberikan konseling. Cara itu efektif dalam menuntaskan persoalan.