Kenangan Kartini di Leiden, Utrecht, dan Den Haag. Jawa Pos. 21 April 2014.Hal.20

Matahari pukul 10.00 menyambut saya di depab Stasiun Leiden Centraal. Kabut masih menggantung, teapi alin – alun stasiun sudah ramai dengan lalu-lalang mahasiswa. Entah sudah berapa kali saya menginjakkan kaki di sini, namun hari ini tujuan saya istimewa: mengunjungi Kartini.

            LEIDEN. Kota kecil di Provinsi Holland Selatan ini terkenal sebagai pusat ilmu budaya dan sejarah. Memasuki kota ini, saya disambut Museum Volkenkunde yang memamerkan beragam koleksi kebudayaan dunia.

Di seberangnya, kincir angin De Valk berdiri tegak di samping kanal Rijnsburgersingel. Kincir angin yang dulu berfungsi sebagai tempat pengolahan gandum itu, sekarang menjadi museum yang terbuka untuk umum.

Lima tahun sudah saya meninggalkan kota ini. Namun, tiap kali menapaki Leiden, saya seolah pulang ke rumah yang selalu saya rindukan; bangunan – bangunan tua nan klasik, kanal – kanal cantuk yang kadang dipenuhi kapal – kapal kecil, burung – burrung camar yang kerkerumun di alun – alun kota, dan setapak – setapak sempit yang memikat.

Leiden memang istimewa, juga bagi Indonesia. Kota ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah ibu pertiwi. Sejumlah tokoh besar Indonesia, seperti Achmad Soebardjo (Menlu Pertama Indonesia) dan Hoessein Djajadiningrat (doktor dan guru besar pribumi pertama), adalah lulusan Universiteit Leiden, yang merupakan universitas ttertua di Belanda (didirikan pada 1575). DI kota itu pula organisasi Persatuan Pelajar Indonesia kali pertama dimulai, pergerakan yang berpengaruh besar dalam perjuangan politik Indonesia dalam merebut kemerdekaan.

Saya melangkah menuju perpustakaan Universiteit leiden. Di perpustakaan tersebut, surat – surat asli tulisan tangan Kartini tersimpan. Ketika saya sampai, Mr Lam Ngo dari KITLV (Koninklijk Instituut voor Taal-, Landen Volkenkunde) menjemput di lobi dan mengajak saya ke bagian special collections. Mr Ngo lalu mengambil dus yang berisi ratusan surat Kartini. Semua ditandai dengan cermat, disusun berdasar tanggal pengiriman. “Koleksi ini adalah pemberian J.H. Abendanon pada 1986,” jelas Mr Ngo. “Hampir semua surat di koleksi ini ditujukan kepada J.H. Abendanon atau istrinya, Rosa Abendanon,” lanjutnya.

Saya mencermati daftar arsip yang diberikan Mr Ngo. Dus itu tidak hanya berisi surat – surat Kartini, namun juga surat – surat dari dua adik Kartini – Roekmini dan Kardinah- kepada keluarga Abendanon. Selain itu, terdapat kartu nama Kartini dan adik – adiknya (saya takjub , pada 1900 Kartini sudah punya kartu nama, bagus pula!) serta kliping artikel – artikel mengenai Kartini yang dimuat di media massa Belanda.

Sebagian besar surat – surat tersebut tidak diterbitkan dalam buku Door Duisternis Tot Licht atau Habis Gelap Terbitlah Terang. Itu membuat saya pensaran ingin membaca suratnya satu per satu. “kalau mau membaca secara detail, lebih baik baca dari microfiche saja,” saran Mr Ngo sembari memperlihatkan microfiche, lembaran plastik solid mirip klise film. Sejak September 2012, manuskrip asli kartini memang tidak boleh lagi diakses oleh umum. Sebab, semuanya sudah ditransfer dalam bentuk microfiche. Saya termasuk orang paling beruntung karena Mr Ngo memberi saya izin khusus untuk melihat dan memotret surat – surat aslu tersebut.

Berada di tengah – tengah tulisan tangan Kartini merupakan pengalam mengesankan. Sesungguhnya saya bukan pengagum fanatik Kartini. Membaca Habis Gelap Terbitlah Terang saja belum pernah. Namun, saat membaca surat – suratnya, saya jatuh hati pada kefasihan Kartini menggoreskan pena. Dalam bahasa Belanda yang nyaris sempurna, Kartini dengan lugas, puitis (dan kerap penuh emosi) mengisaahkan hidup dan menjabarkan pemikirannya. “Vraag mij niet of ik wil, vraag mij of ik mὰg! – Jangan tanya apa yang saya mau, tanya apa yang boleh!” tulis Kartini, marah campur putus asa, ketika menceritakan keinginannya untuk melanjutkan sekolah. Saya bisa membayangkan betapa geramnya Kartini saat itu; tidak diperbolehkan bersekolah hanya karena dia perempuan!

Setelah membolaj – balik manuskrip Kartini di special collections perpustakaan Universiteit Leiden, saya menuju pusat kota untuk menengok tempat tinggal kakak laki –laki Kartini, RMP Sosrokartono, pada 1900-an. Pada 1896 Sosrokartono datang ke Belanda untuk berkuliah di TU Delft. Setelah menyelesaikan studi di TU Delft, dia mengambil gelar master di Inviversitetit Leiden. Sosrokartono-lah yang kerap mengirimkan majalah dan buku – buku berbhasa Belanda kepada Kartini dan adik – adiknya.

Menurut catatan Pemerintah Kota Leiden, Sosrokartono tinggal di kota tersebut sejak 1901 dan beralamat di Breestraat 95. Sekarang lantai dasar Breestraat 95 digunakan sebagai toko, namun lantai 2 masih dipakai sebagai tempat tinggal. Saya pikir, Sosrokartono dulu juga mungkin tinggal di lantai 2. Mengingat, Breestraat adalah salah satu shopping street paling tua di Leiden dan rata – rata lantai dasar bangunan digunakan sebagai toko.

Sayang sekali Kartini tidak pernah datang ke Belanda, saya membatin sembari mengamati tempat tinggal Sosrokartono. Padahal, pada 1902 Kartini mendapat beasiswa untuk bersekolah di Belanda. Kalau saja Kartini diizinkan bersekolah disini, mungkin dia akan memilih berkuliah di Leiden seperti kakaknya.

Kartini memang tidak pernah menginjakkan kaki di Leiden, namun jejaknya masih tersimpan rapi di kota ini. Danm semoga saja, semangatnya teteap menginspirasi banyak orang.

Diakui sebagai Pejuang HAM

             PEMERINTAH Belanda menganggap Kartini sebgai figur istimewa yang namanya layak diabadikan sebagai nama jalan. Di Belanda, setidaknya ada empat Kartinistraat atau Jalan Kartini. Yakni, di kota Haarlem, Amsterdam, Utrecht, dan Venlo.

Di Kota Utrecht, Kartinistraat terletak di daerah Voodrdorp, kawan permukiman baru yang asri dan tertata rapi. Tempat itu dapat dijangkau sekitar lima belas menit dari pusat kota dengan bus. “Voordorp mulai dibangun pada 1990.” Cerita sander Ekstijn, webmaster Voordorp Vooruit, sebuah situs lokal yang khusus dikelola dan ditujukan untuk penduduk Voordorp. “Saya tinggal di sini sejak 1991 dan saya ingat Kartinistraat selesai dibangun pada 1992,” tambahnya.

Cecile van der Meij, salah seorang penduduk Kartinistraat, menyatakan tidak tahu banyak soal Kartini. “Saya sama sekali tidak mengenal Kartini, kecuali dari keterangan di plang jalan,” katanya sembari menunjuk plang Kartinistraat yang diserti keterangan singkat mengenai Kartini, pejuang emansipasi perempuan di Hindia Belanda.

“Saya belum lama tinggal di sini. Tapi, yang saya tahu, penamaan jalan di kawasan ini bagian dari proyek Pemerintah Kota Utrecht. Mereka khusus menamai semua jalan di sini dengan nama pejuang dari berbagai negara. Lihat saja, di sana ada Che Guavarastraat, Kemal Ataturkstraat, dan Pablo Nerudastraat,” ungkap Cecile merujuk beberapa jalan di sekitar Kartinistraat.

Cerita Sander dan Cecile dibenarkan Alice Oosterhoff, staf Pemerintah Kota Utrecht Komisi Penamaan Jalan. “Jalan ini diberi nama Kartinistraat pada 29 Oktober 1990, bersamaan dengan enam belas jalan lain di kawasan Voordorp,” katanya. Oosterhoff menambahkan, semua nama yang dipilih berasal dari tokoh – tokoh yang memperjuangkan hak asasi manusia.

Menurut situs Voordorp Vooruit, salah satu alasan Kartini disejajarkan dengan para pejuang hak asasi manusia adalah pemikirannya yang memukau orang Belanda. Pada 1899, Kartini mengirim surat surat ke majalah perempuan De Hollandsche lelie. Redaktur yang membaca suratnya sangat terkesan, sampai – sampai, dia mengimbau para perempuan Belanda untuk berkorespondensi dengan Kartini. Tulisan Kartini juga sempat beberapa kali dipublikasikan di majalah tersebut.

“Pemikiran Kartini sangat progresif dan mendahului zamannya. Dia juga berpengaruh dalam perjuangan emansipasi perempuan,” tegas Ooosterhoff. “Karena itu, kami sepakat menyertakan Kartini sebagai salah satu nama jalan di Utrecht,” lanjutnya.

Apakah Kartinistraat enak ditinggali? Cecile van der Meij mengangguk. “Ya, jelas. Daerahnya tenan. Kadang terlalu tenan, malah. Kalau buat saya sih, boleh dibikin lebih ramai lagi,” katanya, lantas tertawa.

Den Hagg dan Kartini-prijs

             TAK hanya diabadikan sebgai nama jalan, Kartini juga dijadikan sebagai nama penghargaan. Setiap tahun Pemkot Den Haag menganugerahkan Kartini-prijs atau Pengahragaan Kartini tepat di Hari Perempuan Sedunia pada 8 Maret.

Awalnya penghargaan itu diberikan kepada individu atau organisasi yang dinilai berkontribusi positif bagi emansipasi perempua imigran di Den Haag. Namun, sejak 2007, konsep Kartini-prijs tidak lagi terfokus pada emansipasi perempuan. Lingkup dan tujuan penghargaan tersebut jadi lebih luas, yaitu mendorong emansipasi dan partisipasi penduduk Kota Den Haag, baik perempuan maupun laki – laki.

“Kami tetap mendukung emansipasi perempuan sepenuhnya. Namin, kami ingin menghapuskan pengotak – kotakan berdasar jenis kelamin, Kami ingin mendorong siapapunm baik perempuan maupun laki – laki, untuk memberikan kontribusi positif bagi sekitar,” terang Nathaly Mercera, juru bicara PEP Den Haag yang membawahkan Kartini-prijs, ketika ditanya soal perubahan konsep penghargaan itu.

Pada 2015 pemenang Kartini-prijs adalah De Schilderswijk Moeders, sebuah proyek di bawah payun organisasi De Mussen.

Itu merupakan lembaga yang bertujuan membenahi kawasan Schilderswijk di Den Haag. Kawasan tersebut dikenal sebagai salah satu daerah kumuh dengan tingkat kriminalitas di atas rata – rata. DE Schilderswijk Moedera bertujuan membantu perempuan – perempuan terisolasi yang rata –rata imigran di daerah itu.

Schilderswijk Moeders terdiri atas 26 perempuan yang dilatih untuk menjadi “jembatan” antara perempuan – perempuan terisolasi dan instansi pemerintah. Sampai sekarang 26 staf itu telah berhasil emnolong ratusan perempuan imigran yang tinggal di daerah Schilderswijk.

Mieke Kuiper, PR-officer De Mussen, menerangkan, “Pekerjaan kami bervariasi. Kami membantu perempuan imigran mendapatkan pendidikan, mengajarkan bahasa Belanda, mencarikan pekerjaan, atau mengadakan sejumlah aktuvitas yang bisa membantu memperbaiki hidup.”

Lalu, bagaimana rasanya jadi pemenang Kartini-prijs? “Sangat bangga, tentu saja. Penghargaan ini jadi semangat kami,” tutur Kuiper.

Sumber: Jawa Pos. Selasa 21 April 2015. Halaman 20