Sumber : Jawa Pos
Kendalikan Lemak Tubuh
7 September 2024
KANDUNGAN polifenol, flavonoid, dan karotenoid daun ini menghantarkannya menjadi makanan fungsional. Yaitu, makanan kaya nutrisi yang penting untuk memelihara peningkatan kesehatan. Di antaranya adalah caffeic acid dan caffeoy quinic acid yang terindikasi sebagai zat fenolik utama pada daun ubi jalar.
Publikasi peneliti pada 2021 menyatakan terdapat variasi kandungan pada daun ubi jalar sesuai dengan genotipe tanaman asal dan tahapan pertumbuhan daun. Pembentukan senyawa fenolik dan flavonoid daun ubi jalar bergantung pada kecukupan pancaran sinar matahari.
Karena itu, penentuan saat dan usia panen berpengaruh kuat pada kualitas daun, terutama berkaitan dengan kekuatan khasiat antioksidan. Seperti sayuran lainnya, daun segar ubi jalar cepat layu setelah dipetik. Ini berarti mengalami penurunan kadar zat kandungan utama serta khasiatnya. Berbagai upaya dilakukan untuk mencari cara pengeringan dan penyim-panan yang paling tepat guna mengendalikan kualitas daun selama penyimpanan. Ternyata pengeringan dengan cara pembekuan dalam keadaan vakum dapat mempertahankan kandungan vitamin B1. B2, C, E, mineral Zn, fosfor, magnesium, serat, dan kandungan fenolik total.
Lebih Baik Dikukus
Lalu, bagaimana cara memasak daun ubi jalar yang tepat agar tidak terjadi banyak kehilangan zat gizi? Penelitian membuktikan bahwa metode kukus adalah yang paling tepat dalam mempertahankan kandungan fenolik total dan kekuatan antioksidan. Sementara perebusan mengakibatkan penurunan jenis dan kadar zat kandungan terbanyak.
Warna daun dan daging ubi dapat memberikan gambaran jenis dan kadar zat golongan flavonoid. Daun yang berwarna ungu mengandung cyanidin, quercetin, myricetin, dan luteolin. Pada daun berwarna hijau ada tambahan zat apigenin. Kadar antosianin dua setengah kali lebih tinggi dibanding sayur bayam.
Tanaman ubi jalar bernama ilmiah Ipomoea batatas, dari suku Convolvulaceae, adalah tanaman budi daya untuk makanan yang mendunia.Berasal dari kawasan tropis di Amerika Selatan, ubi ini menjadi makanan pokok di beberapa bagian dunia seperti di Afrika. Dihasilkan dan dikonsumsi dalam jumlah luas di kawasan Asia Tenggara, Afrika, dengan Tiongkok sebagai produsen tertinggi di dunia.
Kekayaan vitamin dan mineral daun ketela rambat dapat menjadi pilihan suplemen alamiah yang memenuhi kebutuhan sel pada pemakaian secara teratur. Antara lain adalah mineral esensial, yaitu natrium, magnesium, fosfor; kalsium, kalium. Mineral lain tembaga, zinc, manganum, zat besi. Vitamin kandungannya antara lain vitamin B6, B2, B1, B5, B7, C, E, betakaroten.
Antioksidan, Antidiabetes
Peneliti Malaysia melakukan studi kandungan dan aktivitas antioksidan beberapa varian daun ubi jalar. Yang diamati adalah variasi kadar zat kandungan fenol total, flavonoid total, dan khasiat antioksidan. Publikasi hasil penelitian (2012) membuktikan terdapatnya variasi kadar total fenol yang ternyata juga menunjukkan perbedaan kekuatan aktivitas anti oksidan. Kadar kandungan flavonoid juga bervariasi, namun tidak menentukan kekuatan efek antioksidan.
Hasil tersebut sudah diikuti dengan penelitian lanjutan yang diduga mendukung pada khasiat lain, yaitu antidiabetes. Pemakaian sebagai antidiabetes dijumpai pada pengobatan tradisional masyarakat Filipina.
Peneliti Indonesia menguji efek ekstrak daun ubi jalar pada tikus diabetes. Ekstrak diberikan dalam tiga dosis berbeda dan percobaan dilakukan selama 14 hari melalui pengamatan kadar gula puasa. Pada akhir uji, tikus dibunuh dan dilakukan pemeriksaan mikroskopik terhadap kondisi kelenjar pankreas penghasil insulin. Insulin diperlukan dalam proses penyerapan gula ke dalam sel.
Hasil studi yang dipublikasikan (2020) menunjukkan bahwa dosis tertinggi ekstrak menunjukkan kadar gula darah terendah. Keadaan itu disertai dengan terdapatnya sel beta pankreas normal sebanyak 50 persen. Ini membuktikan bahwa ekstrak daun ubi jalar mampu menjaga kesehatan sel pankreas dari kerusakan sel akibat peningkatan kadar glukosa pada tikus diabetes.
Menurunkan Lemak
Diet tinggi lemak tidak hanya mengakibatkan kenaikan berat badan dan profil lemak darah, namun juga menurunkan aktivitas enzim antioksidan. Kondisi ini selanjutnya menjadi pembuka jalan terjadinya berbagai penyakit degeneratif, termasuk jantung dan pembuluh darah, diabetes, dan tekanan darah. Meningkatnya kadar kolesterol dan trigliserida dalam darah akan dikuti dengan gangguan fungsi liver yang bisa mengarah pada terjadinya toksisitas liver.
Studi sudah dilakukan untuk mempelajari khasiat ekstrak daun ubi jalar dalam menurunkan berbagai
indikator profil lemak darah. Satu di antaranya oleh peneliti Malaysia dan Indonesia terhadap daun ubi jalur ungu dari daerah Magelang, Jawa Tengah. Ekstrak diberikan dalam berbagai dosis selama 28 hari kepada tikus dengan kadar lipida tinggi dalam darah. Pengamatan dilakukan terhadap aktivitas enzimatik yang berkaitan dengan khasiat antioksidan terhadap metabolisme lemak.
Publikasi hasil (2022) menunjukkan bahwa pemberian makanantinggi lemak mengakibatkan peningkatan berat badan tikus. Selanjutnya pemberian ekstrak daun terbukti menurunkan berat badan, yang diikuti dengan menurunnya kadar jaringan lemak, kolesterol dan trigliserida. Dalam studi itu diketahui pula secara efektif telah terjadi penurunan kolesterol buruk dan peningkatan kadar kolesterol baik secara signifikan.
Bagaimana dugaan kerja ekstrak tersebut? Ternyata telah terjadi peningkatan aktivitas antioksidan ekstrak dan penurunan peristiwa oksidasilemak. Keadaan ini mengakibatkan terjadinya penurunan radikal bebas sehingga kerusakan sel dapat terkendali. Serat pada ekstrak diduga kuat bekerja dengan cara menghambat penyerapan lemak di dalam usus kecil. Hasil studi ini diharapkan dapat mempertimbangkan peran daun ubi jalar dalam penetapan kebijakan pemberian nutrisi pada diet tinggi lemak.(*)

