Bagi Khairil Azhar, tak peduli materi halangan untuk membantu orang yang membutuhkan pertolongan.  Sebab, ada banyak cara untuk membantu sesama, termasuk dengan menyumbangkan darahnya.  Sejak 1987, Khairil aktif sebagai donor darah dan giat mencarikan darah bagi mereka yang membutuhkan.

JUMARTO YULIANUS

Pada Januari 2018, Khairil tercatat telah 112 kali mendermakan darah.  Ia berkeinginan tetap rutin menyumbat darah setiap tiga bulan usia hingga usia 65 tahun.  “Jika masih diberi kesehatan dan usia yang panjang, saya masih bisa mendermakan darah hingga enam tahun mendatang,” kata Khairil yang pada September tahun ini menginjak usia 59 tahun.

Saat ditemui di rumah adat di kompleks Bumi Pertiwi 1, Kelurahan Pemurus Baru, Kecamatan Banjarma Selatan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, beberapa waktu lalu, pensiunan pegawai negeri sipil itu masih terlihat bugar.  Ditanya kembali, Khairil percaya berkat rutinitas yang dirinya menyumbangkan darah.

“Saya rutin mendermakan darah sejak usia 27 tahun. Mulai saat itu, saya selalu merasa bugar. Alhamdulillah tidak pernah sakit sampai harus opname di rumah sakit. Paling hanya sakit flu, batuk, dan meriang” ujarnya.

Khairil mengutarakan, dirinya pernah berpikir untuk menjadi donor darah sebelumnya.  Pasalnya ia takut dengan jarum suntik.  Namun, karena sudah terdorong untuk membantu sesama, rasa takut itu berhasil dihalau.

Tahun 1987, ketika berkunjung ke RSUD Ulin Banjarmasin, saya bertemu dengan seseorang yang panik. la sedang mencari darah O + untuk longan masyarakat yang kurang mampu, “tuturnya. betulan darahnya juga O + sesuai de- nya, kamu tenang saja, saya jarum suntik, Khairil ajakan orang yang berlangsung lanear. Akhirnya istri gar. Khairil memutuskan untuk rutin menjadi donor darah.”  Tiap tiga bu- lan sekali, saya datang ke UTD PMI istrinya yang ingin melahirkan.  Melihat kecemastın orang itu, saya pun kasihan.

Secara spontan, Khairil lalu saya menawarkan diri untuk membantu.  Kenagan yang dibutuhkan.  “Saya bilang akan membantu kamu. Saya akan mendermakan darah saya untuk istrimu,” ucapnya.

Meski ada masalah yang baru pertama kali dijumpainya itu pergi ke Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kota Banjarmasin untuk proses transfusi darah.  Proses semua orang itu melahirkan dengan selamat.

Rutin

Sejak mendermakan darah, ia me-rasa badannya lebih nyaman dan untuk menyumbangkan darah atau sewaktu-waktu jika ada yang mengatur darah O +, “ucap Khairil. Bapak dua anak itu merasa senang bisa membantu orang lain dengan darahnya. Apalagi,  mereka yang dibantu berasal dari berbagai latar belakang suku, agama, budaya, dan ba- hasa.  “Saya tidak pernah memandang latar belakang orang. Jika mereka memerlukan bantuan, saya berupaya Anak-anak: Istri: sebisa mungkin membantu mereka,” katanya.

Khairil pun selalu siap dihubungi kapan saja oleh orang yang mencari darah.  “Kalau saya tidak bisa donor karena baru habis donor darah, saya selalu mencari orang lain yang bisa dan siap menyumbangkan darahnya,” ucapnya.

Karena rutin mendermakan darah di UTD PMI Kota Banjarmasin, Khairil bertemu dengan sejumlah orang yang juga menyumbangkan darah.  Mereka lalu membentuk kekelompok kecil donor darah yang siap orang dengan berbagai golongan.

“Semua golongan darah ada di koordinasi dan komunikasi. Jika membantu orang kapan saja. Grup donor darah itu beranggotakan 30 rah. grup kami. Sekarang, kami menggunakan Whatsapp untuk memudahkan ada yang mencari darah, kami infokan di grup itu. Semua siap saja mendermakan darah jika dalam kondisi sehat dan terakhir menyumbang- manusia, kan darah tiga bulan lalu, “tuturnya.

Misi sosial

Menurut Khairil, aksi donor dan mencarikan darah itu murni dari misi sosial sosial.  la tidak pernah meminta-minta bayaran untuk darah yang telah disumbangkan.  Pencari darah biasanya hanya membayar biaya pemeriksaan dan kantong darah di UTD PMI.

“Jika pencari darah itu dari ke luarga tidak mampu dan tidak bersedia membayar biaya pemeriksaan dan kantong darah, saya yang- nanggung semuanya. Itu saya laku- kan karena saya tidak bisa membantu merela lebih dlari itu,” katanya.

Khairil bersedia mengakui keluarga dalam melakukan aksi sosial tersebut.  Bahkan, anak-anak-anak yang mengikuti jejaknya dengan ratin yang menyumbarn darah sejak berusia 17 tahun atau 10 tahun lebih cepat dari usia Khairil saat pertama kali menyumbangkan darah.

“Kapan pun diperlukan, saya selalu siap membantu orang yang mencari darah. Kalau yang diperlukan darah O +, saya dan anak laki-laki saya bisa dan siap saja untuk menjadi donor. Kalau yang dicari golongan darah lain, saya akan meminta larangan-  tuan teman-teman di grup, “ujar nya.

Khairil kata, dirinya selalu menjaga pola makan sehat dengan makan teratur, istirahat cukup, dan berolahraga.  Karena rutin menyumbangkan darah, ia juga selalu men- jauhkan diri dari rokok, minunsan keras, dan narkotila dan obat-obatan berbahaya.

Atas aksi sosial yang sudah dilakukan selama puluhan tahun ini, pada akhir 2017, Khairil menerima Tanda Kehormatan Satyalancuna Kebaktian Sosial dari Presiden Joko Widodo di Istana Bogor.  Penghargaan itu diterimanya karena sudah lebih dari 100 kali menyumbangkan darah.

Menurut kakek satu cucu ini, penghargaan itu memberikan motivasi lebih untuk mengajak orang lain menjadi donor darah bayi yang selalu dibutuhkan.  “Stok darah di rumah sakit dan UTD PMI sering kali tak mencukupi,” katanya.

Prinsip Khairil: kita boleh tidak bisa membantu orang lain dengan materi, tetapi kita masih bisa memantau orang lain dengan darah.  Apa- lagi, manusia tidak pernah bisa membuat darah.  Semuanya berkat karya Sang Mahakuas.

“Karena darah itu bukan buat manusia, maka kita pun harus membagikannya kepada sesama yang membutuhkan. Darah yang ada di dalam tubulh kita bukan untuk komersial, melainkan untuk aksi scsial,” kata Khairil.

 

Sumber: Kompas.27-Maret-2018.Hal_.16