Dongkrak Imunitas hingga Jaga Kesehatan
20 Januari 2024. Hal. 17
Labu kuning mendapat julukan “pharma food” karena bermanfaat untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit. Salah satu faktor pendukungnya adalah peran biji labu kuning yang mempunyai efek pendongkrak imunitas. Nutrisi kandungan biji dipandang sebagai immunonutrient (zat bergizi untuk imun) yang terbukti memperkuat sistem imun.
REPUTASI biji labu kuning meningkar sejak diketahui perannya sebagai suplemen di masa pandemi Covid-19. Banyak perhatian pada khasiat minyak yang terkandung pada biji yang sudah dipakai turun-temurun di berbagai negara. Termasuk India, Tiongkok, hingga Meksiko, dan Amerika Utara. Yakni, sebagai antidiabetes, antikanker, dan mengatasi gangguan pada otak seperti kecemasan.
Meski begitu, belum banyak orang mengetahui khasiat mendalam biji labu kuning yang bisa jadi camilan seperti kwaci bunga matahari. Rasanya gurih karena kandungan asam lemak. Di antaranya, asam lemak jenuh ganda dan asam lemak tidak jenuh tunggal, termasuk asam linoleat, asam oleat, dan asam palmitat. Ada kandungan mineral zinc, fosfor, magnesium, kalium, dan selenium yang penting untuk berbagai gangguan kesehatan. Termasuk artritis, radang, dan kanker. Kandungan vitamin biji adalah vitamin A, C, B1, B2, B5, B6, B9, E, dan K.
Buah labu kuning berasal dari tanaman Cucurbita pepo dari keluarga Cucur bitaceae. Tiap jenis tanaman merambat itu menghasilkan buah dengan bentuk berbeda. Jenis dan kadar zat kandungan buah dan biji sangat bergantung pada daerah asal dan tempat tumbuh tanaman. Budi daya turun-temurun dijumpai, antara lain, di negara Asia, Afrika, dan Tiongkok sebagai makanan fungsional yang berkhasiat bagi kesehatan.
Mineral dan Imunitas
Salah satu jenis labu kuning yang banyak menarik perhatian adalah zinc. Berbagai riset memang membuktikan peran zinc dalam sistem imun tubuh, terutama pada pembentukan sel T. Itu adlaah bagian dari sel darah putih yang dibuat oleh organ tubuh bernama timus (thymus). Kekurangan zinc bisa memicu gangguan perkembangan timus, dan pasti berdampak pada menurunnya imun.
Dalam ulasan ilmiahnya, peneliti Pakistan mengutarakan peran zinc dalam meningkatkan fungsi metabolisme dan sistem imun. Ulasan itu menyatakan bahwa ikatan zinc dan peptida yang terkandung dalam biji labu kuning bermanfaat pada perawatan sistem imun secara baik.
Pendapat itu telah ditunjukkan melalui pemberian produk permen cokelat yang difortifikasi dengan zinc dari biji labu kuning sebagai suplemen pada masa pandemi Covid-19. Ternyata pemberian itu dapat mengatasi kekurangan zinc sehingga membantu meningkatkan imunitas. Artinya, suplemen berbahan biji labu kuning bermanfaat sebagai pencegah penularan infeksi.
Kaya Kandungan Protein
Biji labu kuning juga kaya protein yang tersusun atas asam amino esensial dan peptida yang diperlukan untuk menjaga fungsi organ tubuh menusia agar tetap optimal. Studi menunjukkan khasiat berbagai jenis protein biji, salah satunya cucurbitin yang sudah dipelajari khasiatnya sebagai pembasmi cacing. Studi tersebut juga menemukan berbagai jenis peptida lain sebagai antijamur dan antibakteri.
Yang menarik adalah hasil studi tentang jenis peptida pada biji yang setelah masuk ke saluran cerna bekerja sebagai agen anti Covid-19. Mekanismenya masih perlu dipelajari lebih lanjut, namun ada anjuran untuk mengonsumsi biji labu kuning setiap hari sebagai upaya mencegah dan mengendalikan pandemi saat itu. Terdapat dugaan protein yang aktif itu dapat terikat secara kuat pada protein yang menyusun bagian permukaan virus Covid-19 sehingga menyebabkan hambatan aktivitas virus.
Antiaging Alami
Biji labu kuning yang kaya nutrisi pasti menarik perhatian bagi dunia kosmetika. Kolaborasi peneliti Tiongkok dan Kanada mencoba mempelajari khasiat antioksidan kandungan polipeptida biji terhadap sel jaringan fibroblas manusia. Jaringan itu berfungsi sebagai penghubung yang menjaga kekompakan antar jaringan tubuh lain. Riset itu berhasil memisahkan berbagai zat peptida yang diujikan aktivitasnya sebagai antioksidan.
Hasilnya, terjadi peningkatan khasiat antioksidan peptida yang berat molekulnya lebih kecil. Pada uji dengan peptida terpilih, ternyata aktivitas antioksidan meningkat seiring dengan peningkatan kadar peptida. Itu adalah khasiat yang diduga kuat bekerja sebagai antiaging. Saat ini biji dapat diolah dalam berbagai bentuk, dan riset itu memberi peluang pembuatan produk kosmetik berbahan alam biji labu kuning.
Kesehatan Otak dan Lambung
Peneliti Pakistan membuat ulasan menarik tentang keberadaan asam amino triptofan pada biji labu kuning. Menurut dia, triptofan sangat fundamental untuk pengobatan gangguan depresi dan kecemasan. Kandungan triptofan memicu pembentukan serotonin, yaitu neurotransmitter yang dapat membantu mengatasi depresi.
Uji sudah dilakukan untuk mempelajari khasiat ekstrak biji mentah dan yang sudah dimasak pada hewan coba. Hasilnya menunjukkan khasiat itu sebagai antidepresan, sehingga terbuka peluang pengganti obat sintetik yang lebih aman.
Selain asam lemak, minyak biji mengandung tokoferol, beta sitosterol, dan sterol. Juga sumber zat golongan fenolik seperti ferulic acid, syringic acid, cholorogenic acid, o-coumaric acid, tryosol, vanillic acid, vanillin, luteolin, dan sinanic acid, yaitu yang memiliki khasiat antioksidan yang dapat diandalkan.
Sebuah penelitian mempelajari efek perlindungan dan penyembuhan kandungan biji itu sebagai anti-ulcerative. Yakni, mencegah dan mengatasi luka pada dinding lambung. Penelitian belum tuntas, namun potensinya bisa dipertimbangkan. (*)
sumber: Jawa Pos

