Kolaborasi Kemenperin dan Universitas Ciputra Dorong Tenun Ikat Kediri Tembus Pasar Global
22 Mei 2026
SURABAYA, HARIAN DISWAY – Di tengah persaingan industri fesyen modern yang semakin ketat, pelestarian budaya lokal terus diperkuat melalui sinergi antara pemerintah dan dunia pendidikan. Direktorat IKM dan Aneka Kementerian Perindustrian bersama Universitas Ciputra menggelar program Bimbingan Teknis Diversifikasi Produk Tenun Ikat dan fesyen di Kota Kediri pada 18–22 Mei 2026.
Program ini bertujuan meningkatkan daya saing tenun ikat Kediri agar mampu berkembang tidak hanya sebagai produk budaya, tetapi juga sebagai produk ekonomi kreatif yang dapat bersaing di pasar nasional hingga internasional. Sebanyak 20 pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) mengikuti pendampingan intensif yang mencakup pengembangan motif, desain fesyen modern, strategi branding, penentuan harga, hingga teknik presentasi produk.
Dosen School of Business Management Universitas Ciputra, Aria Ganna Henryanto menegaskan bahwa tenun ikat memiliki nilai budaya yang tidak bisa dipisahkan dari identitas masyarakat Kediri.
“Tenun ikat Kediri menyimpan cerita panjang tentang tradisi dan jati diri masyarakat. Karena itu, pengembangannya harus dibarengi penguatan identitas merek dan storytelling budaya agar memiliki nilai lebih di pasar,” ujar Aria.
Selain itu, program pendampingan turut menghadirkan dosen Fashion Design & Business Universitas Ciputra, Fabio Ricardo Toreh. Ia menilai penguatan UKM fesyen berbasis budaya menjadi langkah strategis dalam membangun ekonomi kreatif yang berkelanjutan.
Aria juga menjelaskan bahwa kolaborasi antara Universitas Ciputra dan Kementerian Perindustrian diharapkan mampu melahirkan generasi baru pelaku industri tenun ikat Kediri yang tidak hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga memiliki keberanian untuk menembus pasar global.
“Tenun ikat Kediri diharapkan menjadi bukti bahwa budaya lokal dapat tumbuh menjadi kekuatan ekonomi modern yang membanggakan Indonesia,” jelasnya.
Para pelaku industri tenun ikat pun menyambut positif program pendampingan tersebut. Salah satunya datang dari pemilik Palu Gada Tenun Ikat, Slamet Sugianto, yang menilai program ini memberikan pendampingan menyeluruh bagi pengembangan produk tenun lokal.
“Kami merasa program pendampingan ini dilaksanakan secara komprehensif, mulai dari eksplorasi motif baku tenun ikat yang memiliki nilai budaya hingga pengembangan desain produk fesyen kekinian yang sesuai dengan target pasar. Harapan kami ada tindak lanjut hingga ada kerja sama antara Universitas Ciputra dengan Pemkot Kediri agar ada pendampingan yang intensif dan strategis,” ucap Slamet.
Melalui kolaborasi ini, pemerintah dan institusi pendidikan menunjukkan komitmen bersama dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku UMKM berbasis budaya. Tenun ikat Kediri kini tidak hanya dipandang sebagai warisan tradisi, tetapi juga sebagai potensi industri kreatif yang mampu membawa nama Indonesia ke panggung global. (*)

