Konten Prank di Media Sosial Kian Liar dan Picu Kontroversi.
Manipulasi Situasi Bisa Berubah Menjadi Pelanggaran Hukum
Jawa Pos. 27 April 2024
Di era media sosial yang semakin masif, banyak pembuat konten yang berlomba untuk menjadi viral. Salah satu jenis konten yang populer dan sering mendapat perhatian tinggi dari warganet adalah konten prank. Akan tetapi, konten jenis itu juga sering memicu kontroversi.
KONTEN prank umumnya disajikan dalam bentuk video. Mulai lelucon ringan hingga aksi yang lebih ekstrem. Namun, konten prank sering kali berisi kebohongan atau situasi yang dimanipulasi.
Mengingat daya tariknya yang besar, penting bagi para pembuat konten memperhatikan etika
dalam membuat konten jenis itu agar tidak liar hingga merugikan pihak lain atau menciptakan situasi berbahaya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan antara lain sebagai berikut.
Persetujuan Pihak yang Terlibat
Para pembuat konten harus memastikan bahwa semua pihak yang terlibat atau menjadi objek prank telah memberikan persetujuan mereka. Persetujuan atau consent merupakan hal yang mutlak karena berkaitan dengan privasi dan kenyamanan individu. Tanpa persetujuan, prank yang menyertakan kebohongan atau manipulasi situasi bisa berubah menjadi bentuk pelanggaran hukum yang serius. Selain itu, penipuan dalam konten prank, seperti menginformasikan hal yang tidak benar atau menciptakan skenario palsu, tidak hanya bisa merusak kepercayaan, tetapi juga dapat menimbulkan stres, bahkan trauma psikologis, kepada korban.
Tidak Merendahkan Kelompok Tertentu
Pembuat konten prank harus mengetahui batasan yang jelas tentang apa yang dapat diterima masyarakat secara umum. Misalnya, prank yang melibatkan aspek-aspek sensitif seperti agama, etnisitas, atau kondisi fisik maupun mental seseorang bukan hanya tidak etis, tetapi juga berpotensi melanggar hukum dan menimbulkan konflik. Pembuat konten harus berhati-hati agar konten mereka tidak merendahkan atau memarginalkan kelompok tertentu hanya demi canda tawa. Lebih dari itu, mereka harus menyadari dampak jangka panjang dari konten yang mereka produksi terhadap individu yang terlibat maupun persepsi publik mengenai kelompok tertentu.
Mempertimbangkan Dampak Negatif
Pembuat konten harus memperhitungkan terlebih dahulu konsekuensi yang mungkin timbul dari konten yang dibuat, baik bagi objek prank, masyarakat, maupun pembuat konten itu sendiri. Hal tersebut disebabkan konten yang dipublikasikan di media sosial memiliki jangkauan penonton yang luas. Konten yang dibuat tanpa pertimbangan matang dapat menimbulkan penyesatan informasi, kemarahan publik, rasa malu bagi pihak yang terlibat, atau dampak negatif lainnya.
Bertanggung Jawab terhadap Konten yang Dibuat
Pembuat konten harus memahami bahwa konten mereka dapat dilihat berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak-anak. Karena itu, pembuat konten harus memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa konten mereka tidak hanya aman dilihat penonton dewasa, tetapi juga penonton yang lebih muda. Akan lebih baik jika pembuat konten tidak hanya memikirkan cara membuat konten yang viral, tetapi juga mempertimbangkan nilai-nilai etika tanpa mengesampingkan aspek hiburan yang disajikan. Dalam hal ini, kepekaan sosial dan tanggung jawab menjadi kunci. (*)

