Ketika Pemerintah Belanda meluaskan Oud Soerabaia (Kota Tua) menuju arah selatan, perkembangan kota ini seolah tidak dapat dihentikan. Saat itu Nieuwe-Soerabaia (Surabaya Baru) penuh dengan sarana dan prasarana kota yang mencerminkan kekinian Surabaya yang siap menyongsong masa depan.
Master Plan kota selanjutnya membawa Surabaya modern berkembang pesat ke arah selatan, timur, dan Barat. Positif-nya kawasan utara relatif tidak tersentuh signifikan dengan konsep-konsep kebaruan seperti kawasan Surabaya lainnya. Artefak-artefak kota lama relatif aman dari pembangunan-pembangunan baru. Ironinya, gempita kawasan-kawasan kota lainnya itu membuat kawasan lama Kota Surabaya merana. Sebagian artefak kota lama telantar rusak, bahkan lenyap. Ada kelalaian, ada pembiaran disitu. Bahkan ada perusakan dengan sengaja. Down-town Surabaya meredup.
Bagaimana kawasan kota lama Berjaya? Shanghai, Semarang, dan Penang bisa jadi contoh. Shanghai sebagai kota ultramodern, perkasa menghadirkan Old-Shanghai yang sama-sama terkenalnya di mata dunia. Ratusan ribu wisatawan manca menikmati betapa indah dan uniknya Old-Shanghai ini. Tidak hanya yang sangat khas budaya China, tetapi Shanghai yang pernah dijajah kolonialisme Barat menghadirkan artefak-artefak bangunan lama dengan segala keunikan arsitekturnya.
Kawasan lama kota Semarang beberapa tahun lalu sepi, utamanya di malam hari. Kini blink-blink dengan aneka aktivitas kekinian. Artefak-artefak kota lamanya yang anggun dinapasi dengan aktivitas kekinian. Kawasan lama George Town di Penang Malaysia, karena dilestarikan dengan konsisten, bahkan mendapat apresiasi dari UNESCP sebagai World Heritage Site.
Kawasan lama Surabaya memiliki kekayaan yang tidak kalah kualitasnya dengan mereka-mereka itu. Tentang sejarah kebangsaan, heroism Arek Suroboyo tercatat dalam pertempuran melawan Belanda, bahkan Sekutu. Rekaman-rekaman bahwa pernah ada kerajaan juga masih bisa dihadirkan di sana. Tiga kluster yang dibentuk Belanda (Perkampung Jawa dan Arab, Eropa kecil dan juga Kampung Pecinan) masih jelas jejak-jejaknya. Mereka hadir dengan budaya khasnya seperti arsitektur, kuliner, gaya hidup, kepercayaannya ritual-ritual keagamaan. Model berbisnis dan masih banyak lagi keunikan yang ada.
Sayang, keunikan dan kekayaan itu tidak terpelihara dengan baik. Jembatan Petekan yang punya dimensi agung dengan teknologi tinggi saat itu, kini hancur. Penjara Kalisosok pelan-pelan runtuh, disengaja? Kawasan Pecinan yang mati suri. Pasar Pabean yang perlahan mulai berubah karakternya. Kawasan Nieuwe-Soerabaia yang pernah melahirkan beberapa perusahaan kelas dunia, juga sudah kehilangan pamornya. Dan masih banyak lagi keterpurukan kawasan lama kalau mau dihadirkan disini.
Di sisi lain, beberapa pembangunan dan peningkatan kualitas kawasan telah dilakukan oleh Pemerintah Kota maupun beberapa perusahaan swasta. Museum Bank Indonesia, Bank Mandiri, Museum House of Sampoerna, Stasiun Semut, dan Jalan Panggung sebagai contoh. Keanggunan-keanggunan potensi objek-objek wisata religi di Ampel semakin baik.
Namun, harus diakui kepedulian pada peningkatan kualitas Kota Lama Surabaya tidak se-antusias pembangunan taman-taman kota di Surabaya. Bahkan terlihat perhatian Pemerintah Kota pada artefak kota ini setengah hari. Keberpihakan Pemerintah Kota pada pengembangan kawasan lama sangat penting. Tidak hanya pada konteks fisikal saja, tetapi perlu diperkuat dengan regulasi-regulasi seperti peruntukan kawasan yang memback up pengembangan itu. Apabila dibutuhkan bisa di bentuk sebuah badan otorita untuk tujuan ini.
Pebisnis bisa bersinergi untuk membangun kawasan ini. Salah satu caranya dengan memberi bangkitan-bangkitan ekonomi yang berkonteks budaya. Komunitas-komunitas berbasis budaya secara aktif menggunakan ruang ini untuk meng-apresiasi kawasan lama. (*)