Kini tak ada alasan bagi orang tak bisa bikin mu-sik. Asal punya ketertarikan pada dunia musik, banyak aplikasi yang bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan suara alat musik ,tertentu. Diantara aplikasi yang gampang diunduh di Appstore baik untuk Android maupun iOS adalah “impaktor”.

APLIKASI Impaktor bisa dipakai untuk merekayasa suara alat pukul seperti jimbe dan beragam perkusi lainnya. Ada pula GeoShred, Thum-jam, dan Sampletank yang bisa digunakan untuk suara keyboard dan gitar. . “Intinya adalah apakah kita mau “ngulik” aplikasi itu atau tidak? Alat secanggih apa pun akan percuma kalau tidak dimanfaatkan,” tegas Mr D. Musisi Surabaya yang kondang dengan julukan gitaris satu jari memapar ilmunya itu di acara klinik musik yang diadakan Mahasiswa Program Studi International Hospitality and Tourism Business (IHTB) Universitas Ciputra Surabaya di Spazio, Minggu (24/4). Tampil pula di forum itu Peter Poernomo, musisi senior dan owner Poernomo Music Semarang, serta musisi asal Bali yang namanya su.dah mendunia, I Wayan Balawan.

Aplikasi tersebut, lanjut Mr D, b.isa mendukung musik sound yang selalu berkembang sesuai perkembangan jaman. Adapun gadget yang bisa digunakan untuk mengunduh aplikasi itu pun tak perlu mahal.

“Gadget yang punya memori RAM 2 GB dengan harga Rp 1.,5 hingga Rp 2 juta sudah bisa dipakai bermain music,” beber pemilik nama Doddy Hernanto ini.

Hadirnva aplikasi itu diakui Peter makin mempermudah musisi modern. “Di masa depan musisi kalau mau bikin konser tak perlu bawa peralatan satu pesawat. Perkembangan teknologi ini membuat musisi cukup bawa satu gadget semua jenis musik sudah bisa disajikan ke penikmat musik,” imbuhnya.

Usai klinik musik, Mr D dan Balawan kompak menyajikan musik beratmosfer Jawa dan Bali. Di pentas semalam, Mr D memamerkan kemampuan gitar Rick Hanes yang memakai aplikasi seperti yang dipapar di forum klinik musik.

“Kami tertarik menggabungkan musik firadisional Jawa dan Bali dengan sentuhan nuansa jazz. Disamping menampilkan kekinian, juga upaya kami bermusik tanpa mengabaikan unsur tradisional Jawa-Bali yang sama-sama berkembang pada zaman Kerajaan Majapahit,” urai Mr D.

Membawa budaya agar tetap melekat pad.a generasi muda memang tidak lah mudah. Karena itu pihak Universitas Ciputra berusaha melakukan kolaborasi budaya Jawa dan Bali ini dalam bentuk kemasan musik kontemporer yang telah dipelopori. Jazz Heritage dalam konsep inti T-Point kali ini.

“Musik tradisional Jawa dan Bali sudah ada sejak jaman kerajaan. Musik jawa maupun Bali menyebar pada masa kejayaan Kerajaan Majapahit. Dua jenis musik ini punya keunikan masing-masing, dan bila digabungkan akan membentuk alunan kekinian yang harapannya disuka anak muda,” kata Christy Widyawati, penye-lenggara T-Point:

Acara bertajuk Your Music Your Legacy itu diakui Christy, untuk menunjukkan pada masyarakat bahwa pariwisata tak hanya dalam bentuk objek wisata.

“Even seperti ini juga bentuk lain pariwisata,” tandasnya.

Sebab, lanjutnya, kegiatan dalam kemasan kuliner, musik, dan hiburan dalam satu kemasan itu tetap menonjolkan sisi kekhasan daerah yaitu Jawa dan Bali. (achmad pramudito)

Kreatif Menggunakan Aplikasi di Android dan iOS_Musisi Tak Perlu Bawa Peralatan Satu Pesawat. Surya.25 April 2016.Hal.13,16