Banyak pakar kesehatan mengungkapkan maraknya penyakit degeneratif salah satunya dipicu kebiasaan manusia yang kurang aktivitas fisik. Sebagai contoh, orang lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk di kantor berjam- jam. Meskipun terlihat nyaman, duduk dalam posisi yang sama dalam waktu lama bisa memicu datangnya sejumlah penyakit. Belum lagi beban pekerjaan menumpuk yang bisa memicu stres.
Stres memang merupakan gangguan kesehatan. Psikologis yang umum menyerang orang-orang di dunia kerja, pemicunya beragam, misalnya tenggat waktu, beban kerja terlalu tinggi, kompetisi antar karyawan berdasarkan target, dan jadwal rapat yang padat.
Beberapa riset di Amerika Serikat menunjukkan lebih dari 50 persen responden yakin stress membuat tubuh rentan terserang penyakit. Bahkan, stress dapat memicu seseorang melakukan kekerasan pada orang-orang di sekitarnya. Umumnya, stress bisa memicu kondisi tubuh yang semakin menurun, misalnya, sakit kepala, susah berkonsentrasi, dan sakit perut.
Terlalu lama menatap layar komputer juga bisa memicu masalah kesehatan. Misalnya, sakit kepala dan mata terasa kering atau justri terasa “pedas” dan berair. Terlalu banyak mengakses informasi dari komputer juga bisa membuat seseorang mengalami stress. Bahkan, kebiasaan membaca dari jarak dekat dengan konsentrasi tinggi seperti menghadap layar komputer juga bisa memicu mata menjadi minus. Hal ini diakui oleh Lia (32), seorang karyawan bank swasta di Jakarta.
Dalam posisi yang sama, yaitu duduk di depan komputer, selama berjam-jam, seseorang bisa mengalami bahu atau pundak yang kaku. Terlalu banyak mengetik tanpa jeda juga membuat tangan bisa mengalami sindrom karpal tunel. Cirinya, timbul rasa nyeri, kesemutan, dan kebas pada jemari tangan.
Duduk selama berjam-jam dengan postur tubuh yang tidak tepat juga bisa berakibat buruk pada tulang belakang. Gejala yang umum adalah sakit pinggang. Rian (36), seorang karyawan swasta di Jakarta mengungkapkan, sakit pinggang yang dialaminya membuat setiap gerakan tubuh terasa nyeri. Ia pun kesusahan saat berjalan dan menyetir mobil. Kebiasaan duduk berlama- lama juga dapat membuat seseorang menjadi jarang bergerak. Saat aktivitas minim, kadar kolesterol yang tinggi dalam darah bisa menyumbat pembuluh darah dan memicu gangguan jantung. Minim aktivitas fisik juga menandakan minimnya jumlah kalori yang terbakar. Dalam jangka panjang, hal ini bisa memicu terjadinya penyakit diabetes. Penyakit umum yang diderita pekerja kantoran lainnya adalah maag. Kondisi tuntutan pekerjaan yang tinggi, jauhnya jarak tempuh dari rumah ke kantor, kompetisi, beban pekerjaan menumpuk membuat banyak orang asal dalam memilih asupan makanan, jangan heran bila penyakit yang berhubungan dengan organ pencernaan seperti maag menyerang.
Pemilihan makanan yang kurang tepat, jam makan tidak beraturan, serta konsumsi makanan tidak higienis juga bisa memicu penyakit pencernaan lainnya seperti seperti tifus dan hepatitis. Selain dari jenis makanan, gejala depresi dan stress akibat beban pekerjaan juga bisa memperparah kondisi tubuh yang tidak fit.
Kantor juga bisa menjadi pusat penyebaran penyakit. Ruangan kantor yang tertutup memungkinkan penyebaran virus berlangsung pada satu ruangan. Sebagai contoh, virus flu yang menyebar di antara karyawan kantor yang berdesain terbuka (desain kantor) yang tidak memiliki penyekat khusus antar karyawan. Inilah yang membut banyak pakar kesehatan menyarankan agar seseorang yang sedang flu untuk tidak masuk kantor agar flu tidak menular pada yang lain.
Kantor selayaknya menjadi tempat yang aman dan nyaman untuk bekerja. Namun, kebiasaan-kebiasaan dalam bekerja ternyata bisa memicu kemunculan penyakit. Jika ingin tetap sehat saat bekerja di kantor, sebaiknya Anda perhatikan kondisi diri. Selingilah tugas atau pekerjaan dengan aktivitas fisik sederhana, menjaga makan, dan refreshing. [MIL]
Sumber : KOMPAS, SELASA 26 AGUSTUS 2014

