
Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki banyak sekali bahan mentah. Jika diolah dengan teknologi pangan yang inovatif bakal mampu menyaingi produk negara lain. Bahkan, dapat memenuhi kebutuhan pangan negara sendiri dan dunia.
Keunggulan international Food technology Universitas Ciputra
- Sejak semester awal, mahasiswa dibiasakan praktik dilaboratorium dengan kurikulim berbasis internasional
- Pengangkatan sumber daya local kepasar international
- Pengajaran mind set entrepreneurial untuk menjadi seorang entrepreneur
- Pengajaran dengan melihat problem baik dimasyarakat maupun industry
- Pengajaran dengan improvisasi pengetahuan teknologi pangan berkelanjutan
- Memiliki kedekatan dengan dunia industry
Untuk mewujudkan teknologi pangan inovatif itu, dibutuhkan tenaga ahli dibidangnya. Hal tersebut mendorong International Food Technology (FTO) Universitas Ciputra (UC) untuk mencetak mahasiswa yang mahir mengaplikasikan ilmu teknologi pangan diranah industri.
Senior Lecture FTO UC Prof Ir Hari Purnomo menuturkan, visi FTO UC adalah untuk menghasilkan sarjana yang pakar dalam bidang teknologi pangan dan memiliki mindset seorang entrepreneur. Sedangkan misinya adakah untuk menghasilkan generasi dengan latar belakang ilmu teknologi pangan yang memadai. FTO UC juga mendorong lahirnya pakar Food technopreneurs yang siap bersaing dipasar internasional.
Kita harus mempersiapkan diri menghadapi pasar global,” ujar pembicara di lecture session internasional association of students in agricultural and related science (IAAS) tersebut. Beliau juga penulis buku ilmu pangan yang merupakan rujukan wajib bagi para mahasiswa teknologi pangan serta seorang konsultan dari berbagai brand dan perusahaan besar skala international.
Lebih lanjut, Kaprodi FTO UC Muliasari Kartikawati menuturkan bahwa mahasiswa tak cuma duduk dan diberikan materi di dalam kelas, namun juga didorong untuk aktif menganalisis bahan pangan dalam laboratorium didampingi para dosen. Kurikulum internasional makin mengakrabkan mahasiswa dengan kinerja pakar teknologi pangan yang berstandar dunia.
FTO UC mewajibkan seluruh mahasiswa memahami pengolahan pangan dari awal hingga akhir. Dengan demikian lulusan mampun mengaplikasikan ilmu baik untuk entrepreneur atau professional. Di lini professional, mereka bisa terjun sebagai science preneur atau scientist.
Semester pertama, mahasiswa digembleng dengan materi pengetahuan bahan pangan yang didukung dengan biologi, kimia, dan fisika. Ketiga ilmu tersebut, bukan lagi sebagai ilmu umum. Namun, mencakp perihal pembelajaran ilmu pangan. “misalnya ilmu fisika diterapkan dalam hal teknologi pangan dengan melihat sifat fisik apa saja yang dilakukan dalam pengolahan,” ujar alumnus jurusan teknologi pangan dari Universitas di Jepang itu.
Perihal metode, FTO UC membiasakan mahasiswa untuk mandiri. Sejak semester pertama, mereka didorong untuk aktif dan mencari metode yang diterapkan lewat caranya sendiri. Biasanya, pengajar bakal memberikan satu rumusan masalah yang akan dikupas oleh mahasiswa sendiri mengenai metodenya. Hal itu untuk membuat mahasiswa mampu menerapkan metode disemester akhir. “mereka bebas menggunakan metode apapun sesuai dengan hasil analisis yang mereka dapat,” ungkapnya.
Memasuki semester kedua, mahasiswa mempelajari pengolahan pangan dengan membuat produk sendiri. Mereka dilatih untuk menganalisa beberapa hal dalam produk seperti analisis pangan dan mikrobiologi. Bahkan, penentuan harga produk juga sudah dilakukan. Semester berikutnya, mahasiswa menentukan segmen market dan cara pengembangan produk. Lalu, dilakukan inovasi pengemasan dan penyimpanan disemester empat. Kemudian semester enam, mereka melakukan suppy chain ke masyarakat.
Muliasari menceritakan, jika lulusan tak bisa menganalisis dengan detail, bakal berpengaruh pada pekerjaan setelah mereka menjadi professional. Terlebih bagi perusahaan start up yang kini banyak bermunculan. Jika kurang paham problem dan tak maksimal dalam menganalisis, inovasi bakal sulit dilakukan.
“misalnya saja untuk membeli alat yang mahal untuk usahanya. Mereka harus paham problem dan analisisnya tepat sehingga ada efisiensi. Kalau tidak, maka bisa salah beli alat dan bakal merugikan perusahaan,” ujarnya.
Aplikasikan teori: kunjungan mahasiswa FTO UC ke PT ISM Bogasari Floum mills senagai bentuk pengenalan dunia industry.
Tembus konferensi tingkat Dunia
Muliasari menambahkan bahwa FTO UC memiliki kedekatan dengan dunia industry. Para pelaku di lini industry kerap datang untuk mengisi kuliah tamu. Selain itu, mahasiswa sering berkungjung ke perusahaan-perusahaan untuk meninjau secara langsung pengolahan yang ada disana. “mereka melihat sendiri seperti apa prosesnya. Mereka juga menanyakan hal-hal dengan detail sebagai bekal tambahan ilmu,” ujarnya.
Kedekatan dengan industry tersebut juga membuat FTO UC tak kesulitan dalam mengajukan kerja sama ke berbagai instansi. Pasalnya, sejak semester awal mahasiswa sudah dibimbing untuk membuat proposal penelitian. Proposal itu nantinya bakal diajukan keberbagai industry atau perusahaan untuk kerja sama mengembangkan produk.
“kami tak pernah kesulitan dalam mencari pihak untuk kerja sama. Bahkan, saat disebutkan produk-produk apa saja yang dibawa mahasiswa, banyak industry atau perusahaan yang tertarik,” imbuh Muliasari. Beberapa produk tersebut diantaranya transparent tea, mi sagu, wine dari nanas, dan sereal kacang hijau. Semua produk tersebut dibuat oleh mahasiswa dan kini tengah dikembangkan untuk kelanjutannya.
Paham masalah, cari solusinya: dalam pembelajaran, mahasiswa FTO UC didukung dengan fasilitas laboratorium dan dosen ahli dibidang teknologi pangan (kiri). Berkat karyanya yang selalu inovatif, mahasiswa FTO UC dapat mengikuti konferensi internasional di Nepal.
“Kepercayaan dari investor pula yang membuat beberapa mahasiswa bisa terbang ke Nepal untuk tahun ini mengikuti konferensi internasional,” ujar Muliasari. Keempat mahasiswa tersebut adalah Christianus Jodi, Vania aurellia, Natasya Teonata, dan Allison.
Vania menurutkan, banyak hal yang baru yang dia peroleh di FTO UC. Disana, makanan diteliti dengan detail dari berbagai indicator baik rasa, efisiensi harga, hingga kualitas dan pengaruhnya pada kesehatan konsumen. “awal masuk, setelah diberikan teori dasar, kami langsung terjun ke laboratorium. Itu bikin kami makin terbiasa berhadapan langsung dengan problem dan mencari metodenya,” ujarnya.
Pernyataan tersebut didukung oleh Jodi. Menurutnya, system pembelajaran disana mengharuskan mahasiswa untuk selalu berpikir logis dan kritis. Hal itu juag menjadi pembeda dengan Universitas lainnya. “kami harus langsung praktik dan mencari sendii teorinya lewat analisis yang kami dapat,” ungkapnya.
Sumber: Jawa Pos. 4 Mei 2019
