Empu Alat Musik dari Namang. Kompas. 5 Januari 2015.Hal.16

Perajin lain menyerahkan penyelesaian pekerjaan mereka kepadanya. Pemusik dari sejumlah pulau pun tak ragu memintanya membuat alat musik sesuai keinginan mereka. Dari bengkel di Desa Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Kusyadi (45) pun melayani pesanan-pesanan itu dengan keahliannya.

OLEH KRIS RAZIANTO MADA

“Ini pesanan dari Riau dan Bengkulu. Ada juga dambus (gitar tradisional yang biasa dipergunakan dalam musik Melayu, Timur Tengah, dan Asia Selatan) separuh jadi dari perajin di tempat lain, dia minta setel ulang. Pemesannya tidak puas dengan setelah yang ada,”ujar ayah tiga anak itu sambil menunjukkan sebagian dari dambus yang belum selesai dikerjakan yang ada di bengkelnya.

Pesanan ke bengkel Kusyadi tidak hanya datang dari Bangka dan Sumatera, tetapi juga dari Pulau Jawa, Bali, dan Sulawesi.

Di seluruh Bangka, nama Kusyadi akan segera disebut jika ada yang bertanya tempat pembuatan alat musik tradisional. Dari bengkel yang dibuat di belakang rumah, Kusyadi melayani pembuatan dambus, gendang, dan tamtam (sejenis kolintang).

Keahlian untuk membuat alat-alat musik tersebut dipelajari Kusyadi secara otodidak. Sejak kecil ia terbiasa mendengarkan ayahnya, Abusama, memainkan dambus. Pengalaman itulah yang menjadi bekal berharga bagi Kusyadi.

“Waktu kami tinggal di Belitung, hampir setiap hari ayah memainkan dambus,” tuturnya.

Tidak heran jika Kusyadi juga mahir memainkan dambus. Bahkan, berkat kepiawaian memainkan dambus, pada 2008 ia mendapat penghargaan. “Saya mendapat rekor MURI untuk bermain dambus selama 24 jam tanpa henti,”tuturnya.

Saat ini, sesekali Kusyadi ikut pentas bersama musisi tradisional di Bangka Belitung. Namun, kesibukan utamanya tetap di bengkel di Desa Namang.

Pilihan

Kusyadi fokus pada keahliannya untuk membuat alat musik tradisional itu sejak 2008. Sebelum itu, pembuatan alat musik tersebut hanya dikerjakannya sambil lalu. Waktunya lebih banyak dihabiskan sebagai pekerja pemborong aneka proyek pembuatan jalan dan saluran air di Bangka.

“Lama-lama saya tidak tahan, terlalu banyak yang diurus. Pekerja yang kecelakaan, tender yang rumit, macam-macam urusannya. Bahkan, saya sering harus menombok banyak sekali,” tuturnya.

Di tengah kejenuhan yang dialaminya akibat proyek itu, ia sering memainkan dambus. Sebagai orang yang dibesarkan serta akrab dengan musik Melayu dan Timur Tengah sejak kecil, Kusyadi pun bisa merasakan jika ada alat musik yang tidak pas nadanya. Karena itu, ia terkadang tidak puas dengan dambus milik orang lain yang didengarnya. Kepuasan itulah yang mendorongnya untuk mencoba membaut sendiri.

“Dambus pertama yang saya buat masih tersimpan sampai sekarang,” tuturnya.

Garapan tangannya itu ternyata memuaskan musisi lain di Bangka Belitung. Awalnya, mereka datang ke Kusyadi sekedar untuk menyetel ulang dambus milik mereka.

“Lama-lama, ada di antara mereka yang meminta untuk dibuatkan yang baru. Dan, permintaan itu juga cukup banyak,” tuturnya.

Akhirnyam Kusyadi memutuskan sepenuhnya sebagai pembuat alat musik tradisional. Bermula dari dambus, ia kemudian melayani pembuatan alat musik tradisional lainnya.

“Selama bahannya terbuat dari kayu dan saya bisa menyetelnya, akan saya buatkan,” katanya.

Bahan baku memang tidak jadi masalah jika bahannya dari kayu. Pasalnya, hutan Desa Namang, tempat Kusyadi tinggal, masih menyediakan pasokan yang cukup banyak. Ia tinggal memilih kualitas kayu-kayu yang sesuai.

“Saya tidak perlu mencari bahan jauh-jauh. Jalan kaki sedikit, sudah sampai ke hutan desa,” ujarnya.

Di hutan desa tersebut tersedia beragam jenis kayu. Kusyadi pun tinggal menyesuaikan jenis kayu apa yang cocok untuk dibuat alat musik tradisional sesuai permintaan.

Kusyadi tidak sembarang menebang pohon dari hutan tersebut. Warga Desa Namang sudah punya kesepakatan untuk tidak menebang pohon-pohon yang menjadi tempat hinggap atau sumber bunga untuk lebah. Selain itu, pohon yang sudah menjadi inang jamur juga tidak boleh ditebang.

Pasalnya, madu dan jamur memang menjadi andalan penghasilan bagi warga Desa Namang. Karena itu, warga desa membuat kesepakatan untuk tetap melestarikan hutan.

“Kami hanya ambil kayu yang sudah roboh atau tidak dihinggapi lebah,” ujar Kepala Desa Namang Zaiwan.

Kusyadi dan beberapa perajin kayu di desa itu mematuhi kesepakatan tersebut. Karena itu, Kusyadi akan menolak pemesan yang meminta menggunakan kayu yang dilindungi kesepakatan desa.

“Untuk kayu, saya pakai dari hutan desa. Kalau untuk bahan lain, saya bisa pesan dari luar Bangka. Kulit untuk gendang kadang-kadang saya pesan dari Yogyakarta. Disana kulitnya sudah bagus, bunyinya tidak banyak berubah kalau dipasang di gendang,” tuturnya.

Permintaan musisi

Hampir semua alat musik dari bengkel Kusyadi memang dibuat berdasarkan pesanan. Apalagi, setiap pemesan punya selera suara sendiri. “Mereka datang dan menyebutkan keinginannya tentang alat musik yang diinginkan. Kami cakap-cakap dulu biar pas,” ujarnya.

Salah seorang seniman tradisi Bangka, Wandasona Alhamd, mengaku sering berdiskusi dengan Kusyadi. Wanda yang tengah memesan sejumla alat dari Kusyadi pun mendapat masukan tentang alat musik yang di pesan dari perajin itu.

“Dia piawai bermain musik, jadi mengerti apa kebutuhan seniman. Kalau di perajin lain, sekedar tahu cara pembuatan alat. Kadang selera seniman tidak bisa diterjemahkan,” ujar Wanda.

Musisi pemesan memang terkadang menemukan hasil yang berbeda dengan konsep yang mereka bawa ke bengkel Kusyadi.

“Saya selalu dengar teman-teman puas dengan buatan dia,” ujar Wanda.

Membuat alat musik sesuai dengan keinginan pemesan itu, menurut Kusyadi, sebetulnya cukup berisiko. Itu sebabnya, setiap bulan rata-rata ia hanya bisa membuat 6 dambus dan 3 gendang.

“Alat musik yang saya buat bukan untuk cendera mata. Kalau untuk cendera mata boleh asal bunyi,” ucapnya.

Standar itu diberitahukannya kepada pemesan. Karena itu, pemesan diminta maklum jika waktu pembuatan setiap alat musik paling sedikit enak hari. Hal tersebut dengan catatan kayu yang akan dipakai sudah kering dan siap diolah.

“Ada pemesan yang harus menunggu sampai tiga bulan karena kayunya lambat kering. Tidak bisa dijemur di ruang terbuka karena serat kayu bisa rusak dan bunyinya jadi fals,” ujarnya.

Kusyadi memang tidak ingin menghasilkan alat musik berbunyi fals. Bagi dia, pembuatan alat musik tradisional bukan sekadar mencari nafkah.

“Saya tidak mau keluarga kami malu gara-gara dambus dari sini bersuara jelek,” tuturnya.

KUSYADI

Lahir    : Belitung, 17 Agustus 1969

Penghargaan :

  • 2008 : pemain dambus 24 jam tanpa henti

Sumber: Kompas.Senin.5 Januari 2015.Hal.16