GAPURA Kya-Kya yang terletak di Jalan Kembang Jepun sempat menjadi ikon wisata kuliner di Surabaya pada tahun 2003. Pasalnya, kala itu kawa san ini jika siang hari padat dengan perdagangan, namun menjadi kawasan kuliner pada malam harinya.
Konseptor Kya-Kya Kembang Jepun Freddy H Istanto mengatakan, sejarah berdirinya gapura ini berawal dari ide Dahlan Iskan yang ingin menciptakan kawasan pecinan di Surabaya. “Waktu itu Pak Dahlan menyuruh saya untuk berangkat ke China untuk mencari referensi. Namun karena saat itu ada wabah SARS akhirnya saya ke Singapura. Di situ saya melihat gapura pecinan yang akhirnya kami wujudkan di Kembang Jepun ini,” ujarnya, Jumat (10/12).
Freddy mengatakan, sebenarnya pada zaman Belanda sudah ada gapura pecinan di kawasan ini, namun sudah hilang. Ia menambah kan, alasan mendirikan gapura Kya-kya adalah ingin menghidupkan kembali kawasan pecinan: “Saat itu kami ingin ada kawasan kuliner pecinan di Surabaya. Karena memang kawasan tersebut merupakan kawasan pecinan,” ungkapnya.
Lebih lanjut Freddy menuturkan, dulu ada 12 gapura kecil yang melambangkan shio. Tapi sekarang gapura itu sudah tidak ada. “Satu setengah tahun berjalan, Pak Dahlan minta untuk menutup Kya-Kya ini. Padahal kontrak dengan Pemkot Surabaya selama lima tahun,” katanya.
Sebenarnya, lanjut Freddy, komunitas Tionghoa ini tidak setuju jika Kya-Kya ditutup apalagi dibongkar. Namun lama-kelamaan pengunjung kuliner di kawasan ini semakin sepi. “Pak Dahlan minta agar dibongkar gapuranya, namun bagi komunitas Tionghoa ini menjadi simbol kawasan pecinan di Surabaya. Apalagi sebelum ada gapura ini dulunya juga ada gapura yang serupa,” tuturnya. (mus/nur)
Sumber: Radar Surabaya. 11 Desember 2021. Hal. 6

