Lady in Red Berpadu Batik. Jawa Pos. 16 Februari 2015.Hal.33,47

SURABAYA – membuat satu karya indah tidak harus terpagar satu budaya yang sama. Lihat saja dua busana rancangan Djoko Sasongko yang diberi judul Lady in Red. Corak khas budaya Tiongkok dan Jawa bisa menjadi satu dalam sebuah rancangan yang simpel dan elegan. Gaun-gaun yang sejatinya terinspirasi dari kemeriahan Imlek itu mampu dipadukan dengan batik yang indah.

Christien Bayu Saputra dan Indies Noe terlihat cantik saat mengenakan busana hasil gabungan antara cheongsam dan batik tersebut. Ditambah dengan tata rias yang artistik, tampilan etnik dalam busana itu diperagakan dua model cantik tersebut. “aku kagum dengan gaun yang aku pakai, serasa merayakan Imlek dengan rasa Indonesia,” kata Boho, sapaan akrab Indies Noe.

Djoko Sasongko selalu mencoba memadukan batik ke dalam semua karyanya. Menurut dia, batik merupakan warisan leluhur yang sangat bernilai dan harus dijaga masyarkat Indonesia. “kalau bukan kita yang melestarikannya, lalu siapa lagi?” ujarnya saat ditemui jawa pos kemarin (13/2).

Dia menggunakan bahan-bahan taffela, beludru, tile Jepang, dan kain-kain tradisional seperti batik, tenun, lurik, dan songket yang dominan merah.

Lambang Seamangat Hidup yang Tinggi

LADY IN RED

Tambahan bordir dengan motif flora emas semkin menguatkan kesan Imlek yang sangat oriental. “kerah cheongsam sebagai wakil budaya Tionghoa, batik sebagai wakil budaya Indonesia.” Ungkap lulusan Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budihardjopada 2001 tersebut.

Nama Lady in Red adalah penggambaran sesorang gadis yang cantik, berani, dan dinamis. Karena itu, Djoko menawarkan dua busana yang sedikit berbeda, namun tetap dalam benang merah yang sama. Untuk gaun yang dikenakan Christine, dia mengedepankan kesan seksi dengan bagian dada yang sedikit terbuka. Semenyara itu, busana yang dikenakan Bobo lebih menonjolkan kesan manja, namun tetap elegan. “Dua gaun ini untuk gadis lajang, melambangkan kebahagiaan dan semangat hidup yang tinggi,” paparnya.

Lain lagi busana rancangan Elizabeth Njo May Fen dan Stella Lisa Wijaya. Mereka membikin karya tidak hanya untuk menunjukan eksistensi, tapi juga mengasah skill. Sesuai dengan kebutuhan tahun ini, keduaanya membuat busana ready-to-wear.

Elizabeth mengatakan, dengan terus berkarya. Kreativitas akan mengalir. Founder Pison Art and Fashion Foundation itu mengeluarkan empat karya dengan tetap mengusung unsur klasik dan modern. Dia sengaja membuat busana two piece. “kalau gini, bakal mudah disesuaikan dengan busana apa pun. Misal, udah bosan dengan atasan, bisa diubah dengan yang lain,” ungkap Elizabeth.

Stella merupakan murid Pison Art, kali ini dia membuat 10 baju, tapi yang dipamerkan hanya enam busana. Pemilik brand Allets itu menamainya Not Princess of China. Mengapa? Meski disesuaikan dengan Imlek, Stella mengatakan, busana yang dia buat juga bisa digunakan untuk pesta lain. “unsur Imleknya sendiri ada pada warna merah dan hitam,” tutur perempuan kelahiran 12 Desember tersebut.

Untuk cutting dia memilih yang modern dengan karakter simpel. Stella bercerita, dirinya ingin perempuan yang memakai busananya menjadi lebih percaya diri. Sebab, detail yang dia buat begitu glamor. “kebanyakan busana saya menggunakan bahan jenis jacquard dipadu dengan tile, renda, dan bunga 3D,” ungkapnya.

Dia mengatakan, karyawan selalu nik. Dia tidak pernah membikin atasan dan bawahan secara rata jika bagian atas dibuat fit; bawahan dibuat bervolume. “saya juga selalu membuat busana yang memperlihatkan keindahan kaki perempuan.” Ujar Stella.(cid/cik/c20/c6/oni)

Sumber: Jawa pos. 16 februari 2015. Hal 33,47