Tulang yang bolong bisa disembuhkan lebih cepat dengan metode perancah. Baru diterapkan di Indonesia.

 

Brukkk! Tubuh Gumelar Ari Ario Wiratnudatar tersungkur ke tanah karena dijegal lawan saat bermain sepak bola. Gumelar yang kala itu berusia 11 tahun, sedang mewakili tim sepak bola Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur dalam kompetisi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional tahun 2011. Ayahnya yang melihat dari pinggir lapangan tergopoh-gopoh melihat putranya meringis kesakitan. Gumelar tak bisa bergerak karena lutut kirinya nyeri bukan kepalang.

Bolak-balik ke tukang pijat, rasa sakitnya tak kunjung hilang. Hingga pada tahun ketiga, keluarga membawa Gumelar melakukan roentgen. Dokter ortopedi yang memeriksa Gumelar curiga ada yang tak beres pada lututnya. “Aku disarankan menjalani MRI (magnetic resonance imaging) agar tahu detailnya,” kata Gumelar, senin pekan lalu.

Seusai MRI pada Agustus 2015 dan bolak-balik diobservasi, musabab nyerinya ditemukan. Ada lubang sebesar koin Rp.500 di tulang paha Gumelar di bagian bawah, dekat lutut. Keputusan diambil, ia mesti dioperasi. Gumelar harus mengubur cita-citanya menjadi tentara.

Dwikora Novemberi Utomo, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo, Surabaya, yang menangani Gumelar, mengatakan remaja itu menderita osteochondral defect, yakni lepasnya tulang rawan dari tulang akibat cedera karena bermain sepak bola. Untuk menutup lubang tersebut, tim dokter memutuskan menggunakan metode scaffold atau perancah dengan kombinasi sel punca alias stem cell.

Dalam dunia kedokteran, scaffold atau bone grafting ada sejak 1978. Teknik ini digunakan untuk menyangga tulang yang rusak atau berlubang. Nantinya, pelan-pelan tulang cangkokan itu akan di tumbuhi jaringan baru yang membentuk tulang asli.

Teknik tersebut terus berkembang. Yang terbaru dilakukan di RSUD Dr Soetomo. Sejak 2015, mereka menggabungkan cangkok tulang dengan menambah sel punca agar proses penyembuhannya lebih cepat, bisa empat lima bulan, terutama untuk kasus tulang yang bolongnya luas, seperti yang dialami Gumelar. Jika menggunakan metode lama, seperti pen, penyembuhannya bisa lebih dari enam bulan.

Dasar metode ini mirip dengan perancah dalam ilmu konstruksi. Saat proses pembangun gedung, pipa-pipa besi dipasang berundak-undak. Fungsinya sebagai struktur sementara, penyangga material, juga sebagai tumpuan para pekerja. Penyangga itu baru dicopot setelah bangunan rampung.

                Scaffolding di kedokteran juga sama. Fungsinya sebagai struktur sementara sebelum tulang alami tumbuh sendiri. Bedanya, tulang cangkokan itu tak perlu dilepas karena bisa diserap oleh tubuh. “Tulang yang dicangkokkan pelan-pelan akan diambil oleh tubuh kita, smentara tulang yang asli akan tumbuh secara alami,” kata Ferdiansyah, dokter spesialis ortopedi.

Dwikora mengatakan, selain mempercepat proses penyembuhan, sel punca perlu ditambahkan untuk meningkatkan kualitas hasil penyambungan perancah. Sel punca adalah sel yang bisa mengubah diri menjadi sel lain, tergantung lingkungannya. Misalnya ditempatkan di tukang lutut yang sakit, sel-sel ini akan berubah menjadi sel tulang dan memperbaiki kerusakan yang ada di sana.Sel yang juga disebut sebagai sel induk ini biasanya diambil dari jaringan lemak, sumsum tulang, atau darah plasenta. “Sebab, kalau ada bagian jaringan yang hilang, ia butuh tambahan sesuatu agar hasilnya bagus kembali,” ujar dokter yang juga Ketua Staf Medik Fungsional Ortopedi dan Traumatologi Universitas Airlangga ini.

Menurut dia, Gumelar termasuk salah seorang pasien pertama yang menjajal metode baru tersebut. Di Indonesia, baru RSUD Dr Soetomo yang menerapkan cara ini. Bisanya, lepasnya tulang rawan diatasi dengan pemasangan pen biasa. Namun cara itu mengandung risiko yang tak kecil. Salah satunya, pen berpotensi copot. “Antarpermukaannya bisa enggak cocok. Akhirnya jaringan tulang rawan bisa tidak tersambung,” ucap Dwikora.

Selain itu, kata dia kualitas jaringan penggantinya cenderung lebih rendah meski memang bisa meregenerasi tulang rawan yang rusak. “Mirip seperti barang kw tiga,” ujarny. Padahal tulang rawan memiliki karakteristik khusus sehingga membutuhkan penanganan ektra.

Tulang rawan adalah lapisan teratas tulang yang berfungsi meredam tekanan, sifatnya tahan banting dan lentur. “Dia tidak memiliki pembuluh darah, saraf. Ataupun limfa. Ini berbeda dengan lapisan tulang di bawahnya,” ujarnya. Dengan menambahkan sel punca, kualitas tulang rawan yang tumbuh mendekati aslinya.

Untuk mengobati tulang bolong yang dialami Gumelar, Dwikora merendam tulang cangkokan yang terbuat dari kolagen alami dengan sel punca yang berasal dari tubuh Gumelar sendiri selama tiga hari. Setelah itu barulah tulang cangkokan ditempelkan ke bagian yang hilang tadi. Operasi pertama dijalani Gumelar pada 10 November 2015. Agar pengobatannya maksimal, Gumelar juga mendapat tambahan suntikan 10 juta sel punca.

Namun, menurut Kepala Pusat Biomaterial-Bank Jaringan RSUD Dr Soetomo, Heri Suroto, tak semua kasus dapat ditangani dengan cangkok tulang yang dibutuhkan, perlu ditambhakan sinyal protein pertumbuhan. Sinyal protein tersebut dioleskan pada cangkok tulang sebelum dipasang sehingga sel punca yang disuntikkan akan sampai tepat sasaran.

Selain yang dilakukan oleh tim dokter rumah sakit ini, dunia kedokteran dipenjuru dunia juga tengah berburu metode baru di bidang tersebut. Yang sudah diproduksi massal ada, namanya Matrix Applied Characterized Autologous Cultured Chondrocytes (MACI), yang digunakan di Denmark, Yunani, dan Inggris sejak 2013. Bedanya dengan sel punca, MACI menggunakan sel khusus pembentuk tulang rawan yang dibiakkan. Sel-sel itu kemudian dimasukkan kembali dengan alat khusus. Harganya juga jauh berbeda. “Kira-kira bisa sampai ratusan juta rupiah,” tuturnya. Sedangkan untuk cangkok tulang ditambah sel punca, dari pengalaman Gumelar, hanya dibutuhkan puluhan juta rupiah.

Untuk kasus Gumelar, dokter sudah menyuntikkan sel punca dua kali. Pasokan sel yang terakhir ditujukan agar gerakan lututnya bisa kembali sempurna. Seusai dua kali operasi lutut, Gumelar bersyukur karena ia masih bisa menyalurkan hobinya naik gunung. Setelah operasi kedua, ia nekat mendaki Gunung Penanggungan di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, walau kondisinya belum pulih 100 persen. Berturut-turut ia lalu mendaki Gunung Wilis, Semeru, dan terakhir menaklukan Lawu. “Ini bukti kebesaran Allah. Sungguh sebuah keajaiban,”ucapnya.

“Untuk mengobati tulang bolong yang dialami Gumelar, Dwikora merendam tulang cangkokan yang terbuat dari kolagen alami dengan sel punca selama tiga hari. Setelah itu barulah cangkokan ditempelkan ke bagian yang hilang tadi.”

Proses Metode Scaffold (Perancah) Dan Sel Punca Pada Lepasnya Tulang Rawan Bagian Lutut :

  1. Scaffold direndam tiga hari dalam sel punca milik sendiri.
  2. Sebanyak 10 juta sel punca menempel, scaffold siap dipakai.
  3. Scaffold yang sudah dipenuhi sel punca dimasukkan ke lutut.

 

Sumber : Tempo. 12-18 Juni 2017. Hal 72-73