Wajah rupawan Leonardo dicaprio adalah bunga impian remaja putrid pada decade 1990an lalu. Namun, justru dengan rambut gondrong berminyak dan wajah penuh luka, leo demikian panggilannya, membawa pulang piala Oscar pertamanya, minggu (28/2) malam di los angeles, amerika serikat
Leo kini berumur 41 tahun, berperan sebagai hugh glass,seorang penunjuk jalan bagi kelompok pemburu, di film the revenant (2015). Di film besutan alejandro Gonzales innaritu itu, glass bertarung melawan beruang grizzly dengan pisau pendek. Pertarungan itu membuatnya sekarat penuh luka. Dalam kondisi nyaris mati itu, glass harus menahan dinginnya salju di pegunungan. Tak Cuma berkelit dari kekuatan alam liar, glass pun harus bertarung kebencian dan diskriminasi terhadap suku asli (Indian) oleh pimpinan rombongan (tom hardy). Ada sedikit dendam yang membuat glass bertahan hidup. Penderitaan glass itu terpampang pada nyaris dua pertiga durasi film penonton mungkin bergidik tak tega melihat leo memakan jeroan bison atau berlindung dibalik perut bangkai kuda ketika badai salju. Segala kesulitan itu tidak hanya berbuah manis untuk glass, tetapi juga bagi leo. Ia menyabet gelar sebagi actor terbaikdi piala Oscar. ” Leo tidak Cuma menyerahkan 100 persen dirinya untuk the revenant, tetapi 300 persen” puji Stefano tonchi, editor w magazine, kepada reuters. Film berlatar tahun 1820an itu juga menuai gelar penyutradaraan terbaik untuk innaritu. The revenant adalah judul film ke 37 leo. Sebelum gemilang dipanggung Oscar,ajang yang dianggap paling bergengsi dijagat perfilman,perannya sebagai glass telah memberinya piala actor terbaik dari berbagai festival, diantaranya golden globe awards dan BAFTA. Pada sejumlah pidato ketika menerima piala, termasuk diajang Oscar, leo selalu menyatakan bahwa kemenangannya dipersembahkan untuk kemanusiaan dan kelangsungan lingkungan di planet bumi. Leo menyatakan , ia menyuarakan nilai kemanusiaan lewat film. Dalam beberapa film sebelum the revenant, leo berupaya menunjukkan nilai kemanusiaan itu. Dua tahun silam, ia berperan sebagai pialang saham di film the wolf of wall street. Karakter Jordan Belfort yang ia perankan adalah wajah buruk prang orang pengendali perekonomian di bursa wall street. Tak heran film itu menyulut kontroversi. Leo tak gentar. “awalnya banyak yang mempertanyakan mengapa tega sekali mempertontonkan gaya hidup buruk dengan begitu gambling. Menurutku, alas an kami mengerjakan film ini untuk mewakili kegelisahan mereka juga dan dunia. Itu sebabnya aku mau terlibat di film ini” ujar leo pada the new York times.
Totalitas
Selama satu decade terakhir,leo banyak terlibat dalam film controversial terakhir, leo banyak terlibat dalam film controversial. Ia adalah polisi yang membuat korupsi di kesatuannya sendiri di the departed,penyelundupan berlian di blood diamond, juga pernah jadi edgar hoover, penggagas unit investigasi FBI yang kesepian, tetapi haus perhatian di fim j edgar. Semua peran itu dikerjakan leo penuh totalitas. Saat menggarap j edgar, misalnya, leo dirias berjam jam setiap sebelum syuting. Wajahnya dipasangi totol tanda penuaan dan gigi menguning. Ia sama sekali tidak ganteng. Leo punya ketertarikan pada peran peran “tak biasa” itu. “aku akan setuju mengambil peran jika aku kesulitan mendefinisikan karakter yang bakal aku mainkan. Ketika ada elemen misteri (dakam karakter itu) dan banyak yang harus dipelajari terlebih dahulu, aku baru mau memerankannya” ujar leo. Unsure “misteri” itu juga tercermin pada kehidupannya. Dari beberapa pemberitaan, leo terlihat enggan membuka kehidupan pribadinya,seperti kecenderungannya kencan dengan supermodel. Leo selalu focus pada proyek film. Mata birunya berbinar binary saat menceritakannya. Acting leo mulai mendapat perhatian luas ketika membintangi what’s eating gilbert grape (1993) bersama Johnny depp. Di film itu, peran sebagai remaja berpenyakit kejiwaan itu dapat nominasi Oscar sebagai pemeran pembantu terbaik. Leo lantas di citrakan sebagai remaja keren. Wajahnya menghiasi sampul majalah remaja. Itu bahkan terekam di salah satu adegan film room yang dibintangi pemenang Oscar,brie Larson. Walaupun tampak keren, peran leo seperti menyimpan masalah tersendiri pada film the basketball di aries (1995), ia menjadi jim carrol, remaja penyendiri, suka main basket dan menulis puisi, tetapi pecandu obat. Dia juga menjadi anak muda pemuja romantisme di romeo + Juliet (1996). Saat itu, leo adalah symbol cowok asyik. Popularitasnya melonjak lewat film peraih 11 piala Oscar, titanic (1997). Jack dawson, peran yang ia mainkan, adalah jelata tampan yang rela berkorban banyak demi kekasihnya, rose dewitt (kate winslet). Di film berikutnya,dia justru menutup wajahnya dengan topeng pada the man in iron mask (1998). Selepas itu, leo semakin lihai memilih peran. Ia tak peduli pada standar Hollywood yang mengutamakan rupa fisik. Ia ambil risiko dengan bermain di film film controversial.
Isu lingkungan
Berbagai karakter telah ia perankan dalam film dengan sejumlah sutradara ternama. Piala Oscar sudah ia genggam. Leo kini menjalani kerja kerasnya sembari menjadi filantropi. Ia membentuk Leonardo dicaprio foundation untuk kontroversi hutan, keanekaragaman hayati, kelautan dan perubahan iklim. Januari silam, ia berpidato dihadapan pemimpin dunia dalam world economic forum di davos,swiss. Forum itu memberinya crystal award, yang diberikan kepada budayawan yang peduli pada kemanusiaan dan lingkungan. Ditulis the guardian, leo mengecam keserakahan perusahaan yang merusak alam dengan membakar hutan, termasuk yang terjadi di sumatera. “sepanjang 2015, kebakaran di sumatera menghasilkan lebih banyak emisi karbon setiap setiap harinya dibandingkan dengan emisi karbon yang dihasilkan perekonomian AS” demikian cuplikan pidatonya. Lembaganya akan mendanai pelestarian 2,63 juta hektar hutan di sumatera. Si “poster boy” ini telah menjelma remaja slengekan di film menjadi pejuang lingkungan. Popularitas dan gemerlap Hollywood tak menjadikannya bebal pada isu sekitar. Suksesnya diajang piala Oscar membuat suaranya semakin terdengar.
Sumber: Kompas, Rabu 2 Maret 2016

