Leukimia pada Anak. Waspadai Gejala 4P, Tingkat Kesembuhan 70-70 Persen
Jawa Pos. 18 Februari 2024. Hal.20
Leukimia atau kanker darah masih menjadi kanker yang paling banyak dialami anak-anak. Kasusnya mencapai 60-70 persen dari total kanker pada anak. Orang tua diharapkan lebih peka terhadap kondisi anak sebagai langkah deteksi dini.
Beberapa bulan sebelum diagnosis, Andrew mimisan, tetapi langsung berhenti. sehingga sang mama, Tania Mursalim, tidak menaruh curiga, hingga mimisan kali kedua terjadi. “Bekal sekolah jarang habis, tapi disuapi lagi saat pulang mau makan seperti biasa. Terus ada memar yang lama pulihnya, saya belum curiga,” kenang Tania.
Di malam hari, Andrew berkeringat cukup banyak. Suhu badannya pun naik turun. namun, membaik saat diberi obat. lagi-lagi Tania belum menaruh curiga lantaran tidak ekstrem. sampai ketika demam Andrew tak kunjung turun. “Demamnya makin lama makin naik, 30-40 derajat. Akhirnya, rawat inap. Cek lab, leukosit dan trombositnya drop,” ungkapnya.
Gejala leukimia pada anak memang cenderung menyerupai gejala penyakit lain sehingga sulit terdeteksi. Apalagi pada anak kecil yang belum bisa menyampaikan keluhan. karena itu, ortu perlu peka dengan perubahan kondisi anak sekecil apa pun.
“Secara umum, gejala yang diwaspadai adalah 4P (panas, pucat, pembesaran organ, dan pendarahan). Jika menjumpai paling sedikit 3 dari 4P tersebut, segera konsultasi ke dokter spesialis anak,” tutur Dr dr Mia Ratwita Andarsini SpA(K).
Dengan diketahui lebih awal, bisa segera dilakukan evaluasi klinis, diagnosis, dan pengobatan. Anak yang mengalami leukimia limfoblastik akut (LLA) dengan faktor risiko standar, tingkat kesembuhannya bisa mencapai 70-80 persen.
“Namun, pada anak yang telah dinyatakan sembuh, masih ada kemungkinan kambuh atau relaps. Terutama dua tahun pertama setelah dinyatakan sembuh,” imbuh dosen pada DivisiHematodologi Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK Unair/RSUD. dr Soetomoitu.
Kemoterapi masih menjadi pengobatan utama dari leukimia. Dan, harus teratur sesuai jadwal. Radioterapi diberikan pada kasus tertentu seperti leukimia dengan penjalaran ke otak. Tentu setiap obat memiliki efek samping. Tak terkecuali kemoterapi. “Yang sering terjadi rambut rontok, mual, muntah, nafsu makan menurun, dan sariawan,” papar dr Mia.
Efek-efek tersebut bisa dikurangi lewat pemberian makanan cair dengan kalori tinggi. Hindari makanan dengan rasa dan bau menyengat. Untuk mencegah sariawan bisa dilakukan dengan menjaga kebersihan rongga mulut. “Rajin gosok gigi dan kumur dengan antiseptik tiap kali selesai makan,” lanjutnya.
Selama fase perawatan, cegah supaya anak tidak terpapar infeksi di rumah. misalnya, dengan rajin mencuci tangan, memakai masker, dan menghindari bertemu orang yang mengalami gejala sakit seperti batuk dan pilek. “Beri makanan sehat dan bergizi tanpa kandungan pengawet, pewarna, dan bahan aditif,” tandasnya. (lai/c18/nor)

