
Mekongga adalah kerajaan di Kolaka , Sulawesi Tenggara , pada masa lampau . Namun , kisah tentang kerajaan itu tak banyak tersimpan dalam catatan tertulis kecuali dari penuturan keturunan raja , tokoh adat dan para tetua . M Aliansi ( 44 ) mencoba mengabadikan sebagian jejak sejarah itu dalam lembaran – lembaran kain tenun .
Reny Sri Ayu
Lelaki yang akrab disapa Ali ini se- benarnya bukan putra asli kelahiran Kabupaten Kolaka . Dia adalah peran tau asal Sengkang daerah yang juga Sulawesi Selatan . Pada sejarah , adat , tradisi , dan segala hal yang terkait masa lalu . Ali punya ketertarikan besar . Karena itu , sejak 2009 , dia memilih ” menenun ” sejarah Me- kongga dalam lembaran lain .
Pada lembar – lembar kain tenun- annya , orang bisa melihat bagaimana bentuk tikar yang dipakai raja dan pemangku adat Mekongga dahulu Ada pula kain tenun bermotif perisai yang dipakai pasukan kerajaan , or namen dan seni bangunan , perhi- asan , hingga kisah cinta antara dua suku yang diberi nama tenun Bunga Cinta . Dalam sebuah pameran dan lomba di Jakarta , tenun Bunga Cinta merebut gelar juara .
Pilihannya menenun bermotif se- jarah , tradisi , serta kehidupan sosial dan keseharian masyarakat Kolaka bukan hanya membuat kabupaten itu kini punya oleh – oleh khas . Ali juga bisa menghidupi banyak petenun dan menginspirasi petenun lainnya untuk lebih kreatif . Kain tenun yang dahulu tak terlalu dilirik dan nyaris diting galkan , kini diminati , termasuk oleh generasi muda.
Awalnya langkah Ali itu mendapat kritik dan banyak yang beranggapan dia bukan orang asli setempat se hingga tak pantas membuat sesuatu yang terkait sejarah daerah ini . ” Pro duk saya sempat tak diterima hinga hampir dua tahun . Namun , saya tak putus asa . Saya datangi para tetua dan tokoh adat untuk menjelaskan mak sud saya . Akhirnya mereka bisa me nerima dan memberi izin , ” katanya di Kolaka , beberapa waktu lalu .
Namun , izin tak diberikan begitu saja , tetapi melalui sebuah syarat . Ali diminta menenun kain yang motif nya meniru kain tua peni alan keluarga Kerajaan Mekongga . Kabar nya , sudah beberapa petenun yang diminta membuat replika tenunan itu , tetapi tak ada yang berhasil .
” Alhamdulillah , saya bisa mem buat kain yang sangat mirip . Ini membuat keturunan keluarga kera- jaan dan tokoh adat memberi saya izin membuat tenunan dengan mengambil motif dari benda – benda ataupun kisah kerajaan dahulu , ” ka tanya.
Menggali sejarah
Ali kemudian tekun menggali se- yang jarah dan tradisi Mekongga melalui para tetua , tokoh adat , dan keturunan keluarga Kerajaan Mekongga , la ma- suk – keluar kampung menggali cerita , menyimak , dan memperhatikan se- gala hal , baik yang terkait sejarah maupun tradisi . Hal itu dia lakukan karena tak banyak catatan sejarah Mekongga dalam bentuk tertulis yang tersisa di Kolaka . benda.
Segala informasi yang dia peroleh . kemudian ditenun menjadi motif motif unik dalam lembaran kain . Ke pada pembeli , dia tak sekadar men jual , tetapi juga menceritakan apa se- yang tergambar pada kain .
” Saya melakukan itu agar orang tak salah menjahit kain . Agar motif tak terbalik atau cerita dan kisah pada tenunan tak berubah makna . Saya ingin agar orang yang memakai kain tenun dari tempat saya memahami cerita pada kain mereka , ” kata bapak tiga anak ini.
Untuk menjaga nama Mekongga dan sejarah yang ditenunnya . Ali jugari konsisten pada kualitas . Kerapatan tenunan , pemilihan bahan benang hingga proses pewarnaan , menjadi syarat utama dalam proses pembu- atan tenun di tempat usahanya.
” Apa yang saya buat banyak ditiru oleh petenun atau usuha tenun lain Sebenarnya , hal itu tak masalah . Ha- nya saja banyak yang membuat de- ngan kualitas yang kurang bagus katanya.
Kreativitas Ali dan komitmennya menjaga kualitas juga membuatnya mendapat izin menggunakan nama Mantiq Sangea pada usahanya yang berarti sarung raja .
Merenung
Capaian Ali saat ini dirintis lewat usaha keras . Bertahun – tahun meran- tau dan bekerja serabutan sudah dia jalani . Tamat sekolah di Sengkang tahun 1988 , dia berkeliling merantau ke beberapa daerah
Saat tiba di Kolaka tahun 1994 , dia bekerja dari berdagang keliling hing- ga membantu beberapa usaha milik orang lain . Tahun 1996 , dia menikah lalu membantu mertuanya menenun . Usaha tenun mertuanya pas dengan keterampilan yang dimiliki Ali karena keluarganya di Sengkang menggeluti usaha ini .
Namun , usaha tenunnya sempat tidak jalan karena sepi peminat . Lalu Ali beralih membuat kerajinan dari kayu dan kertas . Usaha ini sempat berjalan bagus sebelum akhirnya kembali mandek akibat modal usaha yang pas – pasan ,
” Suatu ketika saya merenung ten tang nasib usaha saya , tiba – tiba ter pikir membuat kain tenun dengan mengangkat motif berdasarkan se jarah dan tradisi Mekongga . Saya akhirnya berbicara dengan beberapa tokoh adat tentang rencana itu , ” tu . turnya .
Walaupun sempat diprotes warga setempat , kegigihan dan kualitas te runannya membuat masyarakat akhirnya bisa menerima . Beberapa motif yang dibuat , di antaranya sorume , talunia , wasabanggali , dan kine . Setiap motif memiliki makna berbeda . Awalnya , dia hanya ment buat tenun untuk keperluan hajatan warga sekitar . Sesekali menjadi oleh – oleh bagi kerabat yang datang.
Usahanya berkembang setelah mendapat kredit usaha kecil dari PT Antam , perusahaan tambang nikel yang beroperasi di Kecamatan Por malaa , Kolaka . Ali memberanikan di meminjam dengan menjaminkan tempat usahanya .
” Saya dapat pinjaman uang Rp 35 juta yang saya gunakan untuk me mesan kotak suvenir tenunan saya , Kotak itu saya pesan dari Bandung Saya berpikir dengan dikemas dalam Kotak , kain tenun ini bisa punya nilai lebih dan bisa menjadi oleh – oleh bagi siapa saja , ” katanya .
Pilihannya tak salah karena sejak dikemas dalam kotak kertas berpe nampilan menarik , kain buatannya bukan hanya Inku saat ada hajatan atau pesta , melainkan juga menjadi oleh – oleh khas Kolaka . Bahlan , per mintaan juga datang dari berbagai toko penjual oleh – oleh di Kendari dan Wakatobi.
Usahanya kini berkembang dengan penghasilan hingga puluhan juta rupiah per bulan . Namun , se jarah , adat dan tradisi tetap yang utama . Ada banyak yang bisa digali dan dikembangkan atau dimodifikasi agar motifnya tak monoton dan lebih menarik . Intinya , setiap lain akan tetap punya cerita , ” kata Ali .
Sumber: Kompas, Sabtu, 20 Januari 2018
