Sumber:https://surabaya.tribunnews.com/surabaya-metro/1924741/mahasiswa-uc-ubah-sayur-asem-jadi-keripik-inovatif-lolos-ajang-kompetisi-internasional

Mahasiswa UC Ubah Sayur Asem Jadi Keripik Inovatif, Lolos Ajang Kompetisi Internasional

10 Desember 2025

SURYA.CO.ID, SURABAYA – Tiga mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan, Fakultas Pariwisata Universitas Ciputra (UC) Surabaya berhasil mengubah sayur asem, hidangan rumahan khas Nusantara, menjadi keripik inovatif yang menembus Top 4 SIAL Innovation, kompetisi pangan internasional bergengsi yang digelar di Jakarta.

Mereka yaitu Devina Angela, Melvina Tjian, dan Cindy Kristina yang berhasil mendapat apresiasi atas inovasi pangan merek di kompetisi dan platform inovasi internasional dalam industri makanan dan minuman (food & beverage).

Ajang ini berada di bawah jaringan pameran dagang global SIAL (Salon International de l’Alimentation) yang diselenggarakan di berbagai negara, dan menjadi ruang bagi inovator dunia untuk memamerkan produk pangan masa depan.

Bermula Eksperimen Sederhana

Devina menjelaskan inspirasi munculnya produk ini bermula dari eksperimen sederhana membuat keripik stroberi, nanas, dan jagung.

Namun, keinginan menghadirkan produk yang lebih otentik dan berakar pada cita rasa Indonesia mendorong mereka beralih pada sayur asem.

Terinspirasi pula oleh peserta asal Korea Selatan yang membawa konsep kimchi, mereka memadukan elemen segar dan asam dalam versi khas Nusantara.

“Yang membuat keripik ini berbeda adalah proses pengolahannya. Karena kita memanfaatkan seluruh serat sayuran dan tanpa penggorengan. Sehingga keripik sayur asem kita jauh lebih sehat untuk dikonsumsi,” ujar Devina, Rabu (10/12/2025).

Bahan seperti labu siam, jagung, kubis, dan campuran oat dihaluskan, lalu diberi bumbu gula Jawa, asam Jawa, serta bumbu sayur asem.

Adonan kemudian dicetak dan dikeringkan selama 20 jam di suhu 80°C menggunakan mesin dehydrator. Metode ini menjaga keripik tetap renyah tanpa minyak sambil mempertahankan kandungan vitamin dan serat.

“Kami ingin menciptakan camilan yang lebih sehat, tetap menggugah selera, tapi tidak menghilangkan rasa asli sayur asem,” tambah Devina.

Alasan Memilih Format Keripik

Ia juga menyebut kebiasaan masyarakat Indonesia yang gemar ngemil sebagai alasan memilih format keripik agar lebih mudah diterima pasar.

Meski tampak sederhana, proses pengembangan produk ini tidak berjalan mulus.

Melvina menuturkan mereka harus melewati banyak percobaan untuk menemukan komposisi terbaik.

“Butuh banyak percobaan sampai kami menemukan komposisi paling pas,” ujarnya.

Dalam satu takaran saji 20 gram, keripik ini mengandung energi 20 kkal, karbohidrat 4 gram, dan natrium 160 mg. Kandungan serat alami dari sayuran tetap terjaga karena seluruh bahan diolah dan dikeringkan tanpa minyak.

Keunikan konsep dan rasa membuat inovasi ini mencuri perhatian juri internasional.

Dari puluhan peserta dari Korea, Malaysia, Filipina, hingga Indonesia, produk ini lebih dulu masuk 10 besar sebelum lolos ke posisi Top 4.

“Lomba ini jadi langkah awal bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi potensi makanan Indonesia,” ungkap Kaprodi Teknologi Pangan UC, Mitha Ayu Pratama Handojo, S.TP., M.Sc.

Mitha menilai penggunaan sayur asli yang diolah menjadi keripik padat serat menjadi keunggulan utama yang membuat produk tersebut menonjol.

“Terobosan penggunaan sayur asli dalam bentuk keripik sehat adalah sesuatu yang semakin dicari pasar global,” ujarnya.

Dipasarkan Lewat Media Sosial

Kini, keripik sayur asem berbentuk bulat itu mulai dipasarkan melalui media sosial dengan sistem pre-order. Satu kemasan berisi 20 gram dijual seharga Rp25.000.

Meski masih skala kecil, permintaan datang rutin tiap bulan. Saat dipamerkan di Jakarta, pesanan meningkat pesat hingga mencetak omzet dua digit.

Ketiga mahasiswa itu juga tengah mengurus pendaftaran paten dan menyiapkan pengembangan varian rasa baru.

“Inovasi ini bukan hanya soal keripik, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda memanfaatkan kekayaan bahan lokal, teknologi pangan, dan semangat eksplorasi untuk menciptakan produk yang mampu bersaing di panggung internasional,” pungkas Mitha.