Mahershala Ali menjadi actor muslim pertama yang meraih Oscar sepanjang sejarah. Kemenangan itu terjadi ketika Hollywood sednag gencar-gencarnya melawan kebijakan presiden Donald trump yang dinilai diskriminatif.
Oleh Ida Setyorini
Mahershala Ali memenangi Oscar bukan lantara ia muslim, melainkan karena permainannya dalam film moonlight yang menawan. Hasil ini tidak mengejutkan sebab Ali memang difavoritkan untuk merebut Oscar tahun 2017 ini. Apalagi sepanjang tahun 2016, ia meraih lebih dari 25 penghargaan atas perannya dalam film itu. Meski begitu, kemenangan Ali tak pelak dikait-kaitkan dengan statusnya sebagai seorang muslim. Sejumlah surat kabar dunia menyebutkan. Oscar tahun ini memberikan pesan politik yang kuat. “Kita bisa melihat seorang muslim juga bisa menjadi pemeran pembantu pria terbaik,” tulis New York Times.
Ali sebenarnya tidak terlalu berminat mengungkapkan kehidupan pribadinya kepada public. “(Namun) saya pikir ada sesuatu yang bisa saya tawarkan kepada orang lain dimasa-masa yang sangat menantang bagi muslim dan bagi semua orang,”katanya. “Di luar soal teologi, soal bagaimana anda beribadah, bagaimana seniman, tugas saya adalah menyampaikan kebenaran. Selanjutnya saya mencoba terhubung dengan berbagai karakter dan orang-orang sejujur dan sedalam mungkin,”tambahnya.
Peran yang dimainkan memberikan jalan untuk menunjukan lebih empati kepada orang-orang yang mesti dibela. “saya bangga menjadi muslim. Saya merasa diberkahi banyak kesempatan, “ujarnya. Salah satu kesempatan yang ia maksudkan adalah bermain di film moonlight besutan sutradara barry Jenkins. Ali memerankan tokoh juan, seorang anak muda afro-amerika yang berjuang untuk mendapat tempat di lingkungan Miami yang keras dengan menjual narkoba. Namun di lingkungan seperti itu pun, ia tetap bisa menjadi pahlawan bagi orang lain. Lewat peran itu, ali sukses menyisihkan nomine Oscar lain, yakni dev patel (lion), lucas hedges (machester by the sea), Michael Shannom (nocturnal animals) dan jeff bridges (hell or hight water).
Hidup yang Keras
Lingkungan keras yang digambarkan di film moonlight tidak asing buat ali. Ketika kecil ia tinggal di kawasan yang dipenuhi pengedar dan pemakai narkoba. “Mereka yang terlibat dalam bisnis itu tampak normal, solid, dan seperti orang baik lainnya,”kata actor yang terlahir dengan nama mahershalalhashbaz Gilmore itu. Ali juga menyaksikan beberapa temannya tewas karena narkoba. Padahal banyak dari mereka orang yang genius, mempunyai kemampuan olaraga hebat, cemerlang secara akademis atau memiliki kemampuan artistic. “Hal itu menakutkan saya, menyaksikan orang yang hanya lima tahun lebih tua dari saya dan saya kagumi ternyata tak sanggup menyelesaikan SMA serta tak berbuat apa-apa.”ujarnya.
Ketika beranjak dewasa, ali menyasikan betapa kemiskinan dan jual beli narkoba berdampak parah. Dia melihat sepupu dan teman-temannya masuk penjara karena perampokan bersenjata dan narkoba. Situasi makin parah ketika HIV/AIDS merebak. Dia menyaksikan sejumlah orang meninggal satu per satu karena AIDS. “Mereka baru berusia 28-29 tahun. Penyakit ini membunuh lebih banyak orang ketimbang senjata,”lanjutnya. Pengalaman itu menekan ali. Ia sempat mengalami insomnia dan kehilangan banyak berat badan. Saat melalui malam tanpa tidur, ia banyak menuliskan isi pikirannya. Ia pun mengembangkan cintanya pada seni. Kehidupan keluarga ali juga tidak mudah. Saat ia berusia 3 tahun, sang ayah Phillip F Gilmore meninggalkan keluargnya demi mengejar karier sebagai penari. Bocah itu pun tinggal bersama ibunya. Willicia Goines seorang pendeta Gereja Baptis di Hay Ward, sekitar 5 kilometer dari Oakland. Ibunya menikah lagi ketika ali berusia 9-10 tahun. Ayah tirinya orang yang tegas dan disiplin. Ia berusaha keras menjauhkan anak tirinya dari lingkungan yang dipenuhi pengedar narkoba. Namun, ia tak banyak memberikan harta. Untuk menambah penghasilan keluarga, ibunya menjadi penata rambut sambilan.
Seperti banyak keluarga lain, kami memiliki keterbatasan. Kami tidak miskin tetapi sering menghadapi problem keuangan. Apalagi ketika ayah tiri saya di PHK, kami berjuang menghidupi diri kami,”tutur ali. Berkat didikan tegas, disiplin dan religious. Ali selamat dari bahaya narkoba. Pendidikannya pun lancar. Ia mendapat beasiswa saint Mary’s College di California pada 1992 dan lulus sempat tahun kemudian dengan gelar di bidang komunikasi massa. Saat menjalani kuliah, ali bertemu professor Rebecca Engle yang mengajaknya ambil bagian dalam drama teater Othello. Selanjutnya dia tampil dalam drama spunk yang mendapat sambutan meriah penonton setiap malam. Ali juga menemukan bakat lain, yakni menyanyi rap. Bahkan dia pernah menandatangani kontrak rekaman untuk membuat album, curb side service (2007). Namun dunia acting menariknya lebih kuat. Alih-alih membuat album, ia memilih melanjutkan pendidikan pascasarjana di new York University pada jurusan acting. Ali terjun kedunia acting professional dengan tampil di pertunjukan teater di Festival California Shakespeare. Ia melangkah ke layar labar dengan bermain di film drama fantasi the curious case of Benjamin button karya david fincher tahun 2008. Dia beradu acting dengan brad pitt dan cate blanchett.
Namanya mencuat saat bermain di serial televisi House of Cards sebagai remy danton. Dia memainkan karakter cornell “cottonmouth” stokes si pemilik klub malam herlem dalam luke cage. Peran lain yang diingat banyak orang adalah sebagai boggs di film the hunger games: mockingjay 1 dan 2
Diskriminasi
Perjalanan hidup ali berlapis-lapis. Ia mencicipi masa kecil di lingkungan keras, nyaris menajadi penyanyi hingga kahirnya sukse di dunia film. Lapisan lain dari kehidupannya yang lebih personal terjadi pada tahun 1999 ketika ia memutuskan menjadi muslim. Sebagai orang kulit hitam, ia sering menjadi korban prasangka dan sikap diskriminatif. Ketika ia menjadi muslim, prasangka itu kian bertambah. Ali misalnya menemukan namanya tercantum dalam daftar orang yang dipantau FBI setelah peristiwa serangan teroris 11 September 2001. Akuntan yang bekerja untuknya memberi tahu bahwa nama ali ditandai ketika ia hendak menyewa property. Belakangan, dia menemukan uangnya yang berada di bank juga dibekukan.
Meski kesal, ali menghadapi semua itu dengan tenang. sebagai orang kulit hitam, ia terbiasa mendapatkan perlakuan tak adil. “Saya pernah disuruh menepi dan ditanya, mana senjata saya. Saya diperintahkan menjauh dari mobil saya, ini adalah praktik diskriminatif. Namun buat kami yang berkulit hitam, ini bukan hal baru, “ucapnya. Ali menceritakan, istrinya yang juga artis dan musisi, amatus sami-karim, mengalami diskriminasi serupa. Ia trauma dan merasa tidak aman sekedar menyusuri kota dengan berjalan kaki. Ali tidak tinggal diam. Ia menyuarakan perlawanan terhadap prasangka dan diskriminasi rasial seperti yang dilantangkan akktris dan kator Hollywood lain belakangan ini.
Mahershala Ali
Lahir : Oakland, California, AS, 6 Februari 1974
Istri : Amatus Sami-Karim
Pendidikan :
- Saint Mary’S College, California
- New York University
Penghargaan :
- Oscar 2017 untuk kategori pemeran pembantu pria terbaik
- SAG Awards
- EDA Awards
- Black Reel Awards
- Central Ohio Critics Association
- Denver Film Critics Society
- Film Independent Spirit Awards
Sumber: Kompas. 28 Februari 2017 hal 16

