Jika dibandingkan dengan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, sebenarnya Indonesia paling berpotensi menjadi negara industri. Dukungan tenaga kerja yang melimpah dan terampil perlu disempurnakan dengan penciptaan iklim usaha yang kondusif.
BAGI Jamal Ghozi, CEO Pisma Group, kepercayaan dari pemodal asing merupakan indikator masih besarnya peluang menjadi negara industri.
“Jepang sudah menyatakan akan menjadikan Indonesia sebagai pusat industri otomotif untuk kawasan Asia Pasifik. Nanti industri-industri lain pasti menyusul,” ujarnya saat ditemui di kawasan industri Jababeka, Cikarang, Jawa Barat, Kamis (11/2).
Dari berbagai pilihan negara di Asia, Jepang lebih memilih Indonesia untuk menjadi negara penyokong industrinya.
Sebab, Indonesia memiliki berbagai kelebihan dibanding negara lain. “Jumlah tenaga kerja kita sangat banyak. Mau berapa pun orang pasti tersedia. Untuk industri padat karya, itu sangat penting,” katanya.
Jamal membandingkan dengan Vietnam yang selama ini dianggap sebagai pesaing Indonesia dalam hal upah buruh murah. Menurut pria murah senyum itu, jumlah tenaga kerja di Vietnam kurang memadai. “Sekarang banyak pabrik di Vietnam yang tutup karena enggak ada pekerjanya. Susah cari orang,” tambahnya.
Hal itu terutama terjadi di sektor industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang membutuhkan banyak tenaga kerja. Akibat kekurangan pekerja tersebut, banyak industri TPT di Vietnam yang hengkang dan pindah ke Indonesia. “Di sini tenaga kerja banyak, kerjanya juga bagus,” sebutnya.
Hal tersebut tentu membawa keuntungan bagi Indonesia. Sebagai contoh, industri TPT dari yang bahan baku hingga garmen menyerap puluhan ribuh tenaga kerja. “Industri tekstil itu termasuk padat karya. Jadi tidak mungkin cuma 1.000-2.000 orang,” terangnya.
Walaupun ada yang menilai upah tenaga kerja di Indonesia termasuk tinggi, di balik itu, banyaknya jumlah tenaga kerja merupakan hal yang menarik bagi investasi industri padat karya. “Kita saja (Pisma Group, Red) untuk pabrik spare part dan tekstil menyerap 15 ribu tenaga kerja,” ungkapnya.
Jamal sangat mengapresiasi pekerja yang loyal. Sebab, semakin lama mereka bekerja semakin ahli menangani pekerjaan. “Dulu saya punya pabrik handphone Nexian, itu tenaga kerjanya orang Indonesia semua. Artinya, skill tenaga kerja Indonesia bagus. Mereka mau belajar, semakin lama semakin pintar,” tuturnya.
Pria 56 tahun itu menilai sumbe daya manusia (SDM) di Indonesia sangat siap menghadapi persaingan global. Tak heran, sektor otomotif yang selama ini dikuasai Jepang sekarang hampir semuanya dibuat di Indonesia. “Dulu mungkin 50 persen masih impor. Sekarang sudah lebih 70 persen dibuat di sini,” ujarnya bangga.
Jamal menilai Jepang tidak pelit dalam hal berbagi ilmu dengan tenaga kerja di Indonesia. “Jepang wajib transfer teknologi. Karena kalau tidak, bisnis mereka di sini tidak akan bisa berkembang. Di pabril spare part kami, orang Jepang Cuma tujuh orang. Itu pun karena mereka betah tinggal di Indonesia,” ungkapnya.
Menurut Jamal, pemerintah harus bersinergi dengan pengusaha, khususnya dalam hal mendongkrak industri yang banyak menyerap tenaga kerja. “Kalau industri lokal kita tidak di-support, jadinya seperti sekarang. Banyak yang ditutup, karyawan di-cut. Akhirnya pengangguran semakin banyak,” terangnya.
Sebagai pelaku usaha industri padat karya, Jamal berharap pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk insentif pajak, penurunan tarif listrik, dan bunga bank. Jamal sangat ingin industri padat karya berkembang pesat karena orang tuanya merintis bisnis Pisma Group sejak 1972. Dimulai dengan pendirian pabrik tekstil di Pekalongan, Jawa Tengah, yang memproduksi sarung Gajah Duduk. “Ayah saya, Ghozi Salim, perintisnya. Saya generasi kedua yang mengembangkan,” kata dia.
Bisnis Pisma Group terus berkembang pesat hingga merambah berbagai jenis industri lain seperti produsen spare part kendaraan mobil dan sepeda motor melalui PT KMK Precision Indonesia yang menyiplai kebutuhan pabrik Honda, Toyota, Suzuki, dan sebagainya. “Kami juga support komponen elektronik seperti printer Epson. Tapi, 60 sampai 70 persen produk dipasok untuk otomotif,” lanjutnya.
Namun, Pisma Group lebih banyak dikenal masyarakat sebagai produsen sarung Gajah Duduk. Produk Pismatex itu tidak hanya menguasai pasar Indonesia, tapi juga Asia Tenggara. “Pangsa pasar sarung kami sekitar 60 persen. Paling besar di Malaysia. Bisa sampai 70 persen,” katanya. Pihaknya kini akan masuk Myanmar. “Sudah bangun kantor di sana. Kita lihat orang Myanmar juga pakai sarung,” ucapnya.
Jamal sangat bersyukur perusahaannya bisa berkembang pesat seperti sekarang. Dia teringat ketika kali pertama kembali ke tanah air, harus menyesuaikan diri dengan kondisi dan budaya kerja di Indonesia. “Saya 13 tahun tinggal di sana, sekolah dan kerja di sana. Januari 1993 saya balik Indonesia,” kata alumnus Teknik Pertekstilan Shinshu University, Jepang, itu. (wir/c9/sof)
Jawa Pos 13 Februari 2016
UC Lib-Collect

