Pemain Trompet dari Bogor. Kompas. 2 Januari 2015.Hal.12

 

Meski diiming-imingi penghasilan sekitar Rp 5 juta untuk sekali tampil sendiri jika mau hijrah ke Singapura, dia bergeming. Dengan tegas, dia menolak tawaran itu. Dia tetap bertahan di Bogor, walau penghasilannya sekali tampil sekitar Rp 3 juta dibagi 6 orang atau Rp 500.000 per orang.

OLEH FX PUNIMAN

Itulah sikap Mami Saputra (62), pemain trompet senior yang sohor dari Bogor. Ia juga menjadi pemimpin Seni Gendang Pencak Medal Saluyu Bogor. Pemain trompet kelahiran Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tahun 1952 ini, sudah malang melintang selama 37 tahun di Kota Bogor mengiringi pesilat tanding dan budaya (bukan tanding).

Mami Saputra merupakan anak kedua dari enam bersaudara pasangan Ujum dan Ijah. Ia mulai belajar sebagai pemain trompet tahun 1973 pada Soba, seorang pemain trompet asal Jampang Tengah yang beken saat itu.

Mami, yang sebelumnya sudah pandai meniup suling itu, menyebutkan, Soba memintanya menekuni trompet saja.

“Pemain suling banyak, sedangkan pemain trompet sedikit dan peminatnya juga kurang,” kata Mami menirukan ucapan Soba kala itu.

Lebih lanjut, Mami menuturkan, dia belajar trompet pada Soba hanya semalam.

“Ketika datang menemui Pak Soba (alm) sekitar pukul 20.00, saya langsung dilatih sampai menjelang subuh. Saya digembleng habis-habisan untuk meniup trompet dengan benar. Adapun lagunya dipilihkan yang gampang, yakni ‘Buah Kawung’,” kata Mami dalam sebuah perbincangan pada medio Desember.

Sebulan kemudian, Mami datang kembali ke rumah Soba. Dia langsung disuruh meniup trompet melantunkan lagu “Buah Kawung”. Soba tersenyum mendengar Mami membawakan lagu tersebut dengan sempurna.

 

Mami Saputra

“Orang lain berbulan-bulan belajar belum ada hasilnya. Kamu semalam ditambah sebulan belajar sendiri di rumah sudah bisa,” kata Mami menirukan ucapan Soba.

Keesokan harinya, Mami menuturkan, dia diajak Soba yang mendapat panggilan main di rumah warga setempat. Soba menilai penampilan perdananya di atas panggung cukup memuaskan. Dari situ kemudian Mami terus diajak guru trompetnya untuk tampil jika ada panggilan pentas.

“Saya masih ingat honor pertama Rp 5.000 untuk sekali tampil pada 1973. Awalnya saat pertama kali diberi uang say tolak, tetapi Pak Soba meminta agar diambil karena itu hak saya, sebagai honor,” kata Mami.

 

Ke Bogor

Suatu hari pada 1977, Mami terkejut ketika dijemput utusan dari seorang guru besar pencak silat di Bogor untuk bergabung dengan Guru Besar Pencak Silat Gugah Warga (PSGW) di Kampung Kebun Manggis, Kota Bogor.

“Pak Mumuh, Guru Besar PSGW yang mendengar tentang saya, lalu meminta untuk bergabung, dan malah saya dianggap sebagai anak, dan kemudian tinggal serumah dengan Pak Mumuh,” kata Mami.

Di grup PSGW, Mami terus meningkatkan kemampuannya meniup trompet. Dan, di Kota Bogor inilah akhirnya Mami, yang juga dibimbing Guru Besar PSGW, mulai dikenal sebagai pemain trompet yang andal.

Mami yang cacat kaki kanannya sejak usia 12 tahun sehingga kalau berjalan harus ditopang dengan tongkat, mengatakan, di Kota Bogor kariernya sebagai pemain trompet cukup cemerlang. Panggilan perseorangan atau atau bersama grup PSGW dan grup lainnya cukup banyak. Sebulan bisa mencapai 10 kali panggilan tampil.

“Karena pemain trompet jumlahnya terbatas, saya harus bisa mengatur jadwal panggilan,” kata Mami.

Setelah tiga tahun tinggal bersama guru besarnya, Mami kemudian Pindah ke Desa Cikaret, Bogor Selatan. Ia tinggal serumah dengan istrinya, Oom.

Di rumah inilah, sejak tahun 1985, Mami sering didatangi orang dari sejumlah negara yang berniat belajar. Mereka antara lain berasal dari Brunei, Malaysia, Singapura, Belanda, dan Inggris.

“Mereka belajar menabuh gendang dan main trompet. Di antara mereka ada juga yang belajar menabuh gendang dan trompet secara rutin,” kata Mami yang juga piawai membuat gendang sejak 1982. Hingga kini, ia sudah membuat 1.000 gendang.

Gendang itu dibuat bersama kedua anaknya. Hasil pembuatan gendang ini menjadi penghasilan tambahan untuk menghidupi keluarga sehari-hari, manakala panggilan berpentas sepi.

Satu set gendang terdiri dari 3 gendang kecil dan 1 gendang besar, trompet dan satu gong/kempul dijual mulai dari Rp 7,5 juta sampai Rp 10 juta. Jika ingin membeli gendang saja juga bisa, harganya Rp 400.000 – Rp 1,5 juta, sesuai besar kecilnya gendang.

Murid Mami, Charina, yang belajar menabuh gendang dan temannya yang belajar trompet, pernah mengajak Mami hijarah ke Singapura dengan menyebutkan penghasilan sekitar Rp 5 juta per orang untuk sekali tampil.

“Saya tolak. Penghasilan besar, tetapi pengeluaran untuk biaya hidup juga besar di negeri orang. Lagi pula saya tidak mengutamakan penghasilan yang besar, tetapi mengutamakan relasi saya di sini,” kata Mami.

Puncak karier sebagai pemain trompet bagi Mami adalah manakala ia terpilih menjadi nayaga yang mengiringi  pesilat dari beberapa negara yang mengikuti Kejuaraan Dunia Pencak Silat di Jakarta pada 1992.

Pada akhir perbincangannya, Mami mengungkapkan keprihatinannya atas kelangkaan pemain trompet saat ini. Menurut dia, saat ini dia merupakan satu-satunya pemain trompet senior di Kota Bogor. Enam pemain trompet senior lainnya telah meninggal karena usia lanjut. Sementara itu, pemain trompet yunior hanya ada dua orang di Kota Bogor.

Karena itu, Mami kadang harus menolak panggilan tampil karena sudah dipesan oleh grup yang memerlukan keterampilannya. Padahal, jumlah grup pencak silat di Kota Bogor ada 50-an, sedang yang mempunyai nayaga sendiri baru 15 grup. Dari jumlah itu, ternyata tidak semuanya memiliki peniup trompet.

Untuk mengatasi kelangkaan pemain trompet, Mami mengharapkan pengurus Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) setempat melakukan pelatihan bagi yang berminat menjadi pemain trompet. Selain itu, Mami sangat terbuka untuk melatih mereka yang serius yang ingin menjadi pemain trompet.

Itu sebabnya dia mendukung niat Ketua Bidang Budaya IPSI Jawa Barat HM Helmi Sutikno yang akan membuat pelatihan bagi pemain trompet. (FX PUNIMAN, Wartawan Tinggal di Bogor)


MAMI SAPUTRA

▪ Umur   : 62 tahun

▪ Istri       : Oom (57)

▪ Pendidikan : SD

▪ Anak    :

  • Iman (33)
  • Yayah (32)
  • Deni (31)
  • Tuti (30)
  • Ina (29)
  • Ridwan (13)

▪ Prestasi : awal November 2014, juara I peniup trompet “nayaga” silat pada Festival Seni Budaya Tradisional Pencak Silat antar provinsi se-Indonesia di Kota Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

UC Lib-Collect

Kompas.Jumat.2 Januari 2015.Hal.12