
Yudi Latif : Aspek Pendidikan Sangat Penting
Jakarta, Kompas – Kurangnya pemahaman terhadap nilai – nilai Pancasila disertai menurunnya ketahanan ideologi masih menjadi masalah bangsa saat ini. Untuk itu, upaya memantapkan nilai-nilai Pancasila harus dilakukan semua pihak dan masuk ke sendi-sendi kehidupan, termasuk pendidikan.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk memantapkan nilai-nilai Pancasila harus dilakukan semua pihak dan masuk ke sendi – sendi kehidupan, termasuk pendidikan.
Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk memantapkan Pancasila, menurut anggota Asosiasi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) Yudi Latif, adalah silang budaya di antara satuan pendidikan dan peserta didik yang berbeda latar belakang.
Yudi Latif mengatakan hal itu dalam orasi ilmiahnya di kegiatan kuliah inagurasi yang bertema “Pancasila: Antara Identitas dan Realitas” yang diselenggarakan AIPI di Universitas Pancasila, Jakarta, Senin (24/7). Dalam kesempatan itu, AIPI mengukuhkan Yudi Latif sebagai anggota Komisi Kebudayaan.
Ini masalahnya, sebagian masyarakat masih takut kalau nilai-nilai Pancasila melebihi nilai agama. Padahal, ini ada dua hal yang tidak bisa dibuat perbandingan karena itu semuanya sibuk masing – masing sehingga persatuan hanya gagasan,” kata Yudi Latif yang juga menjabat Kelapa Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP).
Berdasarkan data Laboratium Pengukuran Ketahanan Nasional (Labkurtannas) dari Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), terjadi penurunan poin dalam indeks ketahanan nasional dari 2,31 pada tahun 2010 menjadi 2,06 pada tahun 2016. Indeks terseut meliputi variabel toleransi, kederajatan dalam hukum, kesamaan hak kehidupan sosial, dan persatuan bangsa.
Gambaran yang sama juga diperlihatkan oleh hasi; survei nilai – nilai kebangsaan yang dilakukan Badan Pusat Statistik. Berdasarkan survei tersevut, dari 100 orang di Indonesia terdapat 18 orang tidak tahu judul lagu kebangsaan Republik Indonesia, kemudian 24 orang dari 100 orang di Indonesia tidak hafal sila – sila Pancasila. Selain itu, terdapat 53 persen orang Indonesia tidak hafal lirik lagu kebangsaan, 42 persen orang Indonesia terbiasa menggunakan barang bajakan, dan 55 persen orang Indonesia jarang bahkan tidak pernah ikut kerja bakti di lingkungannya.
Yudi menambahkan, aktualisasi Pancasila dihadapkan dengan merebaknya isu ekslusivisme yang menjadi akar gerakan radikalisme agama. Gerakan-gerakan itu muncul sekian lama dan tumbuh dengan pemahaman yang salah terhadap ideologi bangsa.
“Ada defisit pemahaman dan defisit pemeliharaan niali-nilai Pancasila. Defisit itu menciptakan kekisruhan, kesalahapahaman, dan membuat kelompok itu hanya melihat Indonesia dari kepentingan masing – masing,: kata Yudi orasi ilmiahnya.
Aspek Pendidikan
Menurut Yudi, untuk memantapkan nilai Pancasila, aspek pendidikan menjadi sangat penting. Selain materi ajar Pancasila yang baru, perlu ada pola pendekatan yang baru juga dengan membuat silang budaya agar peserta saling menerima perbedaan.
“Sejak dini, anak-anak harus dibiasakan dan dikenalkan dengan perbedaan. Kalau lingkungannya tertutup hanya bergaul dengan agama yang sama, etnis yang sama, biasanya itu jadi bekal menolak perbedaan dan potensi radikal,” kata Yudi.
Menurut Yudi, peserta didik harus diberikan kesempatan untuk bisa mengembangkan pergaulan yang lebih terbuka. Pembelajaran Pancasila harus bisa mempertemukan peserta didik dengan berbagai keberagaman.
Ha senada juga disampaikan Rektor Universitas Pancasila Wahono Sumaryono. Menuru dia, nilai – nilai Pancasila tidak hanya menjadi mata kuliah dasar umum di kampus – kampus sehingga kerap dipandang sebelah mata, baik oleh peserta didik maupun pendidik.
“Pola penyebaran dan sosilisasi nilai – nilai Pancasila harus melalui seni, budaya, dan kegiatan lainnya sehingga benar – benar tertanam,” kata Sumaryono.
Dalam kesempatan itu, Unibersitas Pancasila melakukan penandatangan kesepakatan dengan Universitas Swiss German dan Universitas Darma Persada tentang Program Penelitan Strategis Nasional Stranas). Program tersebut berhubungan dengan isu strategis yang meliputi integrasi nasional dan harmoni sosial, infrastruktur, transportasi, teknolgi pertahanan, pembangunan manusia dan daya saing bangsa, serta energi baru dan terbarukan.
Sumber: Kompas.25-Juli-2017.Hal-12
