Marius Sihotang_Seni Tradisi untuk Difabel.Kompas.8 Agustus 2017. Hal 16-page-001

Marsius Sitohang (64) adalah seorang maestro dan dosen luar biasa etnimusikologi di Universitas Sumatera Utara. Tak hanya mengajar mahasiswa, ia juga mengajar anak difabel. Hal itu menjadi luar biasa karena dirinya mengajar meski tidak bisa membaca dan menulis.

OLEH DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Bahkan, marsius sebelumnya hanyalah seorang tukang becak yang mencintai musik dan pemain sulim (seruling khas Batak- Toba)

Almarhum ayahnya, mangubang mengenalkan pada musik. Ayahnya juga merupakan rekan Tilhang Gultom, tokoh kesenian Batak- Toba yang membentuk grup opera Batak lama sekitar tahun 1928.

“Saya bermain sulim itu, ya, dengar-dengar saja dari grupnya bapak. Tetapi, saya belajar sendiri sambil menggembala sapi dan mencari rumput.” Kata Marsius saat ditemui di TB Silalahi Samosir, Sumatera Utara, akhir Juli lalu.

Ia pun melanglang ke Medan. Sepanjang tahun 1981-1983, ia menjadi tukang becak. Sambil mengayuh becak, ia tetap mencari tambahan dengan bermain musik dari pesta ke pesta. Ia dan delapan rekannya, termasuk adik kandungnya, Edward Sitohang, kerap bermain dari pesta ke pesta.

Sekitar tahun 1985, Rizaldi Siagian, seorang pakar budaya Batak, memanggil Marsius ke kampus universitas Sumatera Utara (USU). Saat itu ia sedang beristirahat di becaknya di halaman kampus itu.

Rizaldi ingin Marsius mengerjakan musik tradisional di USU karena ia tertarik dengan permainan sulimnya. Apalagi, Marsius tak hanya mahir bermain sulim, tetapi juga hampir semua alat musik tradisional Batak bisa ia mainkan. “saya bilang itu ide gila,mana bisa mengajar mahasiswa, sedangkan bangku SD saja tidak selesai kududuki. Nulis dan mbaca saja tidak bisa,” cerita Marsius.

Meskipun demikian, karena niatnya untuk mengenalkan musik tradisional Batak Toba dan opera Batak sangat tinggi. Ia menerima permintaan itu. Syaratnya, dia tidak mau mengajarkan teori atau menulis di papan tulis, hanya praktik saja.

Ia mengingat kala itu masih diberi upaya mengajar sekitar Rp 60.000 perbulan dan dari honor menjadi penghibur Rp 250.000 seharian untuk grupnya. Dia sangat bahagia melakukan pekerjaan yang menurut dia panggilan hidup.

Guru

Kelas pertamanya diisi 20 mahasiswa. Hampir semua mahasiswa itu ia ingat sampai sekarang, apalagi beberapa sudah memiliki nama besar, seperti Irwansyah Harahap, Thomson Hutasiot, dan beberapa etnimusikolog lainnya. Lalu pada tahun 2013, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan gelar Maestro Seni Tradisi. Gelar itu diterima  Marsius karena upayahnya mempertahankan musik tradisional dan mengenalkan ke dunia.

Irwansyah Harahap, dosen etnimusikologi di USU, mengungkapkan, marsius memiliki cara bermain yang luar biasa. Dia bermain musik seperti seperti mendapat ilham karena tidak bisa di ulang.

“Dia itu maestro dan guru kami dalam bermusik. Permainannya tidak bisa di ragukan lagi,” kata Irwansyah. Irwansyah saat ini memiliki grup Mataniari dengan Marsius menjadi satu-satunya pemain sulim. Beberapa waktu lalu, Mataniari berkolaborasi dengan salah satu orkestra asal Spanyol, Orquestra de Camara de Siero (0CAS).

ORCAS memiliki program vinculos, sebuah program musik dan kegiatan sosial di belahan dunia. Pertama kali program ini dilaksanakan di Indonesia adalah di Danau Toba. Bersama OCAS, Matahasi memainkan komposisi gondang Batak Toba.

Saat itu, penampilan Marsius paling memukau lewat bunyi sulim-nya. Di beberapa komposisi, sulim-nya mengeluarkam bunyi seperti tangisan, tetapi di komposisi lainnya bisa seperti letupan buih – buih air.

Nelson Lumbantoruan, penjaga naskah Batak, mengunkapkan, dari sejarahnya musik memang selalu mengiringi peradaban suku Batak. “Pemain musik zaman dahulu tidak mau bermai kalau memiliki hati yang kotor karena nyanyian dan bunyi yang dibuat tidak diterima Sang Pencipta. Pak Marsius menunjukkannya bahwa dalam bermusik pun butuh hati yang bersih,”kata Nelson.

Sejak menjadi pengajar musik, Marsius kerap diminta bermain musik di sejumlah negara. Harian terkemuka di Amerika Serikat, The New York Times, edisi 19 November 1991 pernah memublikasikan pertunjukan Marsius dengan rekanya saat beraksi di Amerika Serikat. Marsius mengungkapkan, di sana tertulis permainan musiknya menggambarkan kekayaan budaya di Indonesia.

Meskipun demikian, hidupnya masih pas-pasan. Sekali manggung ia, langsung membagi upah ke rekan – rekannya. Lalu bapak enam anak itu juga harus memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak – anak dan istrinya.

“kalau ditimbang, penghargaan dari duta besar itu yang berupa kertas – kertas piagam mungkin sampai 2 kilogram,” ujarnya ketawa.

Meskipun hidup pas – pasan, Marsius mencoba membuat sanggar musik di rumahnya di Medan. Sanggar itu hanya bertahan tiga tahu karena banyak orangtua muridnya yang tidak lagi menginginkan anaknya belajar musik.

Pengajar difabel

Setelah sanggar ditutup, mulailah Marsius menjadi pengajar di beberapa sekolah anak berkebutuhan khusus, seperti di Tanjung Merau, Deli Serdang, dan Titik Kuning di USU. Mengajar anak difabel membuat Marsius mengerti sesuatu yang special. Ia merasakan penghormatan yang luar biasa dari murid dan orangtuanya karena ketekunan mereka belajar dan mendengarkannya bicara.

Marsius membagi waktunya mengajar di USU dan anak difabel. Dia juga mengajak anak – anak difabel untuk manggung dalam acara – acar pesta. Namun sayang, banyak orang (pemilik pesta) menolak kalau yang bermain musik anak – anak difabel.

Karena banyak penolakan, akhirnya ia menyiasatinya dengan menyisipkan anak  anak difabel dalam grupnya. Hal tersebut cukup berhasil untuk memberikan anak – anak itu panggung. “Mereka itu hebat dan rendah hati.  Keinginan saya, mereka yang seperti itu harus dikembangkan bakatnya bukan mulai dibatasi,” kata Marsius.

 

Sumber: Kompas 8 Agustus 2017. Hal.1